Belakangan ini, ada satu kalimat yang rasanya semakin relate dengan kehidupan banyak orang: “In this economy?”
Kalimat yang biasanya muncul ketika seseorang ingin membeli sesuatu, merencanakan liburan, menikah, atau sekadar menikmati hidup sedikit lebih banyak. Bukan karena tidak punya keinginan, tetapi karena kondisi ekonomi membuat kita harus berpikir berkali-kali sebelum memutuskan sesuatu.
Dulu, mungkin kita mengenal istilah self-reward. Setelah bekerja keras, tidak ada salahnya memberikan hadiah untuk diri sendiri. Beli makanan enak, membeli barang yang sudah lama diinginkan, atau pergi sebentar untuk melepas penat. Sekarang, sebelum melakukan semua itu, pertanyaannya bisa berubah menjadi, “Memangnya perlu banget?”
Bukan berarti kita mendadak menjadi orang yang pandai mengelola keuangan. Bisa jadi, kita memang sedang berusaha memastikan bahwa uang yang dimiliki cukup sampai akhir bulan.
Ada sesuatu yang berubah dari cara kita memandang uang. Bekerja, mendapatkan gaji, membayar kebutuhan, menabung, lalu sesekali menikmati hasil kerja keras seharusnya menjadi siklus yang cukup masuk akal. Namun, ketika harga kebutuhan terus menjadi perhatian, pengeluaran tak terduga datang silih berganti, dan pendapatan tidak selalu bergerak secepat biaya hidup, perencanaan sederhana pun bisa terasa melelahkan.
Mau makan enak, ingat harga kebutuhan. Mau membeli barang baru, ingat tagihan yang belum dibayar. Mau merencanakan masa depan, malah sibuk memikirkan apakah kondisi keuangan sekarang cukup aman untuk menghadapi bulan berikutnya. Akhirnya, banyak hal yang sebenarnya ingin dilakukan harus masuk daftar tunggu.
Kalimat “in this economy” kemudian menjadi semacam jawaban universal. Sebuah cara untuk mengatakan bahwa keinginan itu sebenarnya ada, tetapi kondisi saat ini belum memungkinkan. Bukan tidak mau, bukan tidak berusaha, hanya saja ada prioritas yang harus didahulukan.
Di luar persoalan keuangan pribadi, kita juga berhadapan dengan berbagai persoalan yang lebih luas. Ada bencana yang meninggalkan kerusakan dan membuat masyarakat harus berjuang memulihkan kehidupan mereka. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan rasa aman. Proses pemulihan tentu tidak selesai hanya dalam hitungan hari, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan.
Di saat yang sama, berbagai kebijakan dan program pemerintah terus menjadi perhatian masyarakat. Sebagian mungkin membawa manfaat, tetapi sebagian lainnya menimbulkan kekhawatiran atau dirasakan sebagai beban tambahan oleh kelompok masyarakat tertentu. Ketika ruang keuangan sudah terbatas, perubahan aturan atau tambahan pengeluaran bisa terasa jauh lebih berat.
Belum lagi persoalan kelangkaan BBM yang dapat terjadi di suatu wilayah. Bagi sebagian orang, sulitnya mendapatkan bahan bakar bukan sekadar urusan kendaraan. Ada waktu yang terbuang untuk mengantre, pekerjaan yang tertunda, dan biaya operasional yang bisa ikut meningkat. Bagi pekerja, pedagang, pengemudi, hingga pelaku usaha kecil, hal-hal seperti ini berkaitan langsung dengan kelangsungan aktivitas sehari-hari.
Satu persoalan bisa merambat ke banyak aspek kehidupan. Di tengah semua itu, orang-orang tetap harus bangun pagi, berangkat bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, dan membayar tagihan. Hidup tetap berjalan, meskipun belum tentu semuanya baik-baik saja.
Mungkin inilah salah satu hal yang melelahkan: kita tidak hanya harus menghadapi persoalan pribadi, tetapi juga berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar kita yang terus berubah.
Ada orang yang bertahan di pekerjaan yang tidak disukai karena tidak berani mengambil risiko kehilangan penghasilan. Ada yang menunda pendidikan atau rencana menikah karena kebutuhan keluarga lebih mendesak. Ada pula yang ingin beristirahat, tetapi merasa bersalah karena waktu istirahat tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan untuk bermimpi pun, terkadang kita merasa perlu menghitung anggaran terlebih dahulu.
Kita sering mendengar bahwa anak muda harus berani mencoba, membangun karier, mengembangkan diri, dan mempersiapkan masa depan. Semua itu benar dan penting. Namun, setiap orang memiliki titik awal, tanggungan, kesempatan, dan kondisi ekonomi yang berbeda. Tidak semua orang bisa mengambil risiko yang sama. Tidak semua orang memiliki keluarga yang dapat menjadi jaring pengaman ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Bagi sebagian orang, keputusan untuk bertahan bukan berarti tidak punya ambisi. Bisa jadi, mereka sedang memastikan dapur tetap mengepul. Dan keputusan untuk menunda sesuatu yang diinginkan bukan berarti mereka tidak punya keberanian untuk bermimpi. Terkadang, mereka hanya sedang berusaha agar hidupnya tetap berjalan tanpa menambah masalah baru.
Kita mungkin pernah tertawa melihat konten tentang cara bertahan hidup sampai tanggal gajian. Mengurangi jajan, membawa bekal dari rumah, membandingkan harga, atau menunggu diskon sebelum membeli sesuatu. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hidup hemat. Mengelola uang dengan bijak merupakan keterampilan penting dalam kondisi apa pun.
Namun, ada perbedaan antara berhemat karena ingin mencapai tujuan keuangan dan berhemat karena tidak punya banyak pilihan. Yang pertama memberikan ruang untuk merencanakan masa depan. Yang kedua terkadang membuat kita merasa bahwa hidup hanya berisi daftar hal yang harus dikurangi.
Tentu, kita tetap perlu bertanggung jawab atas keputusan keuangan pribadi. Tidak semua kesulitan bisa dijelaskan hanya melalui kondisi ekonomi. Namun, kita juga perlu memahami bahwa kemampuan seseorang untuk berhemat memiliki batas. Tidak semua masalah selesai dengan nasihat untuk lebih pandai mengatur uang.
Sebab, mengatur uang dan memiliki cukup uang adalah dua persoalan yang berbeda.
Pada akhirnya, kebanyakan orang tidak sedang meminta kehidupan yang sempurna. Kita tahu bahwa hidup memang penuh tantangan. Kita paham bahwa bekerja membutuhkan usaha, membangun masa depan memerlukan waktu, dan tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi.
Yang melelahkan adalah ketika hal-hal mendasar terasa semakin sulit dijangkau, sementara kita tetap dituntut untuk terus menyesuaikan diri.
Kita ingin bekerja dengan tenang tanpa terus-menerus mencemaskan kebutuhan bulan depan. Kita ingin punya tabungan yang bukan hanya numpang lewat di rekening. Kita ingin membantu keluarga tanpa harus mengorbankan seluruh kebutuhan pribadi. Kita ingin sesekali menikmati hasil kerja keras tanpa dihantui rasa bersalah setelahnya.
Bukankah hal-hal itu terdengar cukup wajar?
Mungkin karena itulah kalimat “in this economy” terasa begitu dekat. Di balik kalimat yang terdengar sederhana dan terkadang digunakan sebagai bahan candaan, ada kegelisahan yang lebih besar tentang biaya hidup, keamanan finansial, dan masa depan.
Kita tetap perlu melakukan apa yang bisa kita kendalikan: belajar mengelola keuangan, meningkatkan keterampilan, mencari kesempatan yang lebih baik, dan mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian. Namun, usaha pribadi bukan berarti kita harus mengabaikan persoalan yang lebih luas. Masyarakat juga berhak menyampaikan kritik, meminta transparansi, dan berharap agar kebijakan publik mempertimbangkan kondisi orang-orang yang merasakan dampaknya secara langsung.
Sebab, tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik tidak semestinya dibebankan kepada individu semata.
Mungkin untuk sekarang, kita masih harus bekerja besok pagi, menyelesaikan tanggung jawab, dan merencanakan pengeluaran dengan hati-hati. Tidak apa-apa jika ada beberapa keinginan yang harus ditunda. Tidak apa-apa jika kemajuan kita terlihat lebih lambat dibandingkan orang lain. Tidak apa-apa juga jika sesekali kita merasa lelah menghadapi keadaan yang rasanya tidak kunjung sederhana.
Kita boleh tetap berusaha tanpa harus berpura-pura bahwa semuanya mudah.
In this economy, kita mungkin harus lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan lebih realistis dalam merencanakan masa depan. Tetapi semoga kita tidak sampai kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup hanya karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya bertahan.
Karena pada akhirnya, kita tidak bekerja keras hanya untuk bertahan hidup.
Kita juga ingin punya kesempatan untuk benar-benar hidup.