Biasanya aku duduk di bagian ruang tengah kantor. Duduk manis di depan laptop, menjawab email klien, follow up, dan tentunya menghitung harga yang kadang bikin dahi ikut berhitung.
Tapi siang ini suasananya sedikit berbeda.
Tim Accounting sedang meeting, jadi aku menempati kursi bagian administrasi yang letaknya di depan. Lumayan, suasananya lebih tenang. Aku pun melanjutkan beberapa pekerjaan yang masih belum selesai.
Lagi fokus-fokusnya mengerjakan tugas, tiba-tiba telepon kantor berdering.
Telepon ini sebenarnya biasanya dijawab oleh tim Accounting. Karena mereka sedang meeting, aku dan Zahwa yang kebetulan ada di sekitar situ langsung saling bertatapan.
Tatapan yang kurang lebih artinya:
“Siapa yang jawab?”
Wkwkwk.
Setelah beberapa detik saling lempar pandangan, akhirnya aku yang mengangkat telepon.
“Selamat pagi.”
Tidak ada jawaban.
Aku ulangi lagi.
“Selamat pagi.”
Tetap tidak ada jawaban. Yang terdengar malah…
“Hello… hello…”
Dalam hati aku langsung berpikir, hmm, ini sepertinya bukan orang Indonesia.
Akhirnya aku coba menjawab, “Good morning.”
Dan benar saja.
Setelah itu si penelpon langsung menjelaskan kebutuhannya panjang lebar menggunakan bahasa Inggris.
Aku pun langsung memasang mode menyimak dengan amat sangat serius. Wkwkwk.
Jujur, ini salah satu momen yang cukup membuatku deg-degan. Bukan karena tidak mengerti bahasa Inggrisnya, tetapi karena aku harus benar-benar memahami apa tujuan orang tersebut menelepon, lalu memberikan respons yang sesuai.
Alhamdulillah, setelah mendengarkan penjelasannya, aku bisa menangkap inti kebutuhannya.
Ternyata penelpon berasal dari Brunei dan ingin menawarkan kolaborasi terkait AI dan email kepada Excellent.
Aku kemudian menjelaskan bahwa untuk kebutuhan kolaborasi tersebut, mereka bisa mengirimkan request atau proposal melalui email sales Excellent.
Aku sengaja berbicara dalam bahasa Inggris dengan pelan-pelan. Bukan karena sok santai, tapi memang supaya apa yang aku sampaikan tetap runtut, jelas, dan sesuai konteks.
Dan ternyata… obrolannya berjalan cukup lancar.
Artinya, aku dan si penelpon masih bisa tektokan dengan baik. Hehehe.
Dari kejadian sederhana ini, aku jadi sedikit senang dengan perkembangan diriku sendiri.
Walaupun masih harus berbicara pelan-pelan dan kadang sambil menyusun kalimat di kepala, setidaknya aku berani mengangkat telepon, memahami kebutuhannya, lalu memberikan respons.
Belum lancar-lancar amat, memang.
Tapi setidaknya hari ini aku belajar satu hal: berbicara bahasa Inggris tidak harus langsung cepat dan sempurna. Yang penting berani mencoba, memahami konteks, dan memastikan lawan bicara juga memahami apa yang kita maksud.
Dan ternyata…
Telepon yang awalnya bikin aku dan Zahwa saling tatap-tatapan itu malah jadi salah satu pengalaman kecil yang cukup menyenangkan hari ini.
Lumayan.
Hari ini bukan cuma menghitung harga dan membalas email klien, tapi juga dapat bonus telepon internasional dari Brunei.
Kereen Asri. Ini yang sama Proxmox juga bukan?
Hehehe harus banyak berguru ke Om Ahmad.. Sepertinya beda Om, karena mereka tidak mention Proxmox sama sekali, hanya AI dan email server