Author: asrisahnrd_

  • Bab Baru Lagi: Kenalan Sama Zimbra

    Hari ini nambah lagi satu “bab” baru dalam perjalanan saya sebagai tim sales di PT Excellent Infotama Kreasindo. Kali ini giliran kenalan sama Zimbra.

    Jujur, sebelum masuk lebih dalam, yang saya tahu cuma, “Oh… Zimbra itu mail server.” Titik. Ternyata setelah mulai belajar, di balik satu layanan itu ada banyak hal yang harus dipahami. Mulai dari cara menghitung kebutuhan lisensi, mekanisme subscription, sampai bagaimana menyusun penawaran harga yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

    Awalnya lumayan bikin otak mengernyit. Rasanya seperti buka buku pelajaran baru yang halaman pertamanya saja sudah penuh istilah yang asing. Tapi ya namanya juga belajar. Kalau langsung paham semua, nanti otaknya dikira AI lagi.

    Yang saya sadari, belajar layanan seperti ini memang tidak cukup sekali duduk. Saya masih perlu banyak menerima request terkait Zimbra, melihat berbagai kebutuhan pelanggan, mungkin juga beberapa kali salah paham (yang penting jangan salah kirim quotation). Dari situ pelan-pelan pasti akan mulai terbiasa.

    Saya jadi merasa, setiap kali belajar layanan baru, rasanya seperti membuka buku baru di rak. Bukunya masih kinclong, halamannya masih banyak yang kosong, dan saya baru selesai membaca daftar isinya. Masih panjang perjalanan untuk benar-benar memahami semuanya.

    Tapi justru itu yang bikin seru. Hampir setiap minggu selalu ada hal baru yang bisa dipelajari. Kemarin belajar SSL, kemudian Proxmox, lusa Zimbra lagi dengan kasus yang berbeda. Lama-lama rak bukunya makin penuh. Semoga isi kepalanya ikut penuh juga… ilmu ya, bukan overthinking.

    Terima kasih, Mas Labib, sudah menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan saya hari ini. Saya yakin ini baru permulaan, jadi ke depannya masih akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul. Mohon maklum ya, Mas, kalau chat saya nanti isinya masih seputar Zimbra.

    Perjalanan masih panjang, tapi hari ini saya senang karena setidaknya sudah membuka satu buku baru. Nggak harus langsung tamat hari ini. Yang penting besok tahu sedikit lebih banyak daripada hari ini.

    Pelan-pelan saja. Toh semua orang yang sekarang jago, dulu juga pernah bingung lihat istilah-istilah yang sekarang sudah mereka anggap biasa.

  • Tentang Menjaga Kepercayaan Orang Tua

    Selasa kemarin, aku pergi bermain bersama teman-teman kantor. Sebelum berangkat, seperti biasa aku meminta izin kepada bapak. Syukurnya, beliau mengizinkan.

    Awalnya semua berjalan biasa saja. Kami mengobrol, makan, tertawa, dan menikmati waktu bersama. Sampai akhirnya tanpa terasa hari mulai malam. Sekitar pukul delapan lewat, aku masih belum juga pulang.

    Di saat itulah ponselku mulai “berisik”. Notifikasi datang bertubi-tubi. Video call. WhatsApp call. Pesan WhatsApp. Direct Message Instagram. Semua dari orang tua.

    Saat itu aku baru sadar, di balik keseruanku menghabiskan waktu bersama teman-teman, ada dua orang di rumah yang sedang menunggu dan khawatir.

    Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri. Dalam hati sudah menyiapkan diri kalau-kalau akan dimarahi. Rasanya sudah menyusun berbagai alasan dan permintaan maaf.

    Ternyata aku salah.

    Bapak mengajakku berbicara berdua di kamar. Tidak ada suara yang meninggi. Tidak ada omelan. Tidak ada kalimat yang menyudutkan.

    Beliau hanya berbicara pelan, seperti seorang ayah kepada anak perempuannya.

    Beliau bilang bahwa ketika orang tua memberikan izin, sebenarnya mereka sedang memberikan kepercayaan. Dan kepercayaan itu datang bersama tanggung jawab.

    Bukan berarti setelah diberi izin kita bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan mereka yang menunggu di rumah. Setidaknya, jika memang akan pulang lebih malam dari yang diperkirakan, berilah kabar. Satu pesan sederhana saja sudah cukup membuat hati mereka jauh lebih tenang.

    Entah kenapa, obrolan malam itu justru terasa jauh lebih “keras” daripada dimarahi.

    Aku tidak bisa berhenti menangis.

    Mungkin bukan karena takut dimarahi. Tapi karena aku merasa sudah mengecewakan kepercayaan yang bapak berikan dengan begitu mudah. Rasanya bersalah melihat beliau memilih menasihati dengan tenang, padahal beliau punya banyak alasan untuk marah.

    Di momen itu aku benar-benar sadar bahwa menjadi dewasa bukan hanya soal bisa pergi ke mana saja atau membuat keputusan sendiri. Menjadi dewasa juga berarti mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan orang tua.

    Aku bersyukur mempunyai bapak yang memilih mendidik dengan ketenangan, bukan dengan kemarahan. Cara beliau menyampaikan nasihat malam itu mungkin akan terus aku ingat, jauh lebih lama daripada jika beliau memarahiku.

    Karena itu, aku membuat “hukuman” untuk diriku sendiri.

    Selama satu bulan ke depan, aku memutuskan untuk tidak pergi main dulu.

    Bukan karena disuruh. Bukan karena dilarang.

    Tapi karena aku ingin belajar mengingat kembali bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang harus dijaga. Aku ingin membuktikan, setidaknya kepada diriku sendiri, bahwa aku bisa lebih bertanggung jawab setelah kejadian ini.

    Semoga bisa bertahan. 🙂

    Kalau dipikir-pikir lagi, orang tua memang lucu.

    Kadang mereka tidak meminta apa-apa. Tidak menuntut balasan apa pun atas semua yang sudah mereka lakukan. Mereka hanya ingin satu hal: anaknya pulang dengan selamat.

    Dan mungkin, mulai hari itu aku belajar bahwa menjaga kepercayaan orang tua bukanlah tentang selalu menuruti semua keinginan mereka. Melainkan tentang menghargai rasa tenang yang mereka titipkan setiap kali mengucapkan, “Iya, hati-hati ya.”

    Semoga lain kali aku bisa menjadi anak yang lebih bertanggung jawab atas setiap izin yang telah diberikan. Karena pada akhirnya, mendapatkan izin itu mudah. Yang sulit adalah menjaga kepercayaan yang menyertainya.

  • Ketika Foto Menjadi Penjaga Kenangan: Refleksi dari “Keluar Melambai” Pak Dahlan Iskan

    Ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah terlewat dalam kehidupan masyarakat Indonesia: berfoto. Saat berkumpul bersama keluarga, menghadiri acara, berlibur, bahkan sekadar menikmati secangkir kopi, hampir selalu ada ajakan, “Foto dulu, yuk!”

    Membaca artikel Pak Dahlan Iskan berjudul Keluar Melambai membuat saya memaknai kebiasaan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Di balik setiap foto, ternyata ada keinginan sederhana yang dimiliki banyak orang: menyimpan kenangan. Kita sadar bahwa waktu terus berjalan, orang-orang berubah, dan momen yang indah belum tentu bisa terulang.

    Bagi saya, itulah alasan mengapa masyarakat Indonesia begitu gemar mengabadikan momen. Foto bukan sekadar untuk diunggah ke media sosial, tetapi menjadi cara untuk mengingat perjalanan hidup. Bertahun-tahun kemudian, sebuah foto mampu membawa kita kembali pada tawa, kebersamaan, dan cerita yang mungkin sudah terlupakan.

    Namun, di tengah kemudahan mengabadikan setiap momen, ada satu hal yang juga perlu diingat. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari foto terbaik hingga lupa menikmati momen itu sendiri. Sebab, foto hanyalah pengingat. Kenangan yang sesungguhnya tercipta ketika kita benar-benar hadir dan menikmati setiap detiknya.

    Pada akhirnya, saya percaya bahwa kebiasaan orang Indonesia yang gemar berfoto bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru itu menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang menghargai kebersamaan dan ingin menjaga setiap cerita agar tetap hidup. Karena pada akhirnya, foto bukan hanya menyimpan gambar, tetapi juga menyimpan rasa.

  • Belajar dari Sebuah Email yang Berbeda

    Ada satu hal yang menjadi bagian dari keseharianku sebagai seorang sales: membuka inbox dan membaca email dari klien. Setiap hari selalu ada email yang masuk. Ada yang sekadar menanyakan harga, meminta perpanjangan lisensi, follow up penawaran, hingga diskusi teknis ringan.

    Namun, hari ini ada satu email yang terasa berbeda.

    Email itu berkaitan dengan layanan Proxmox. Selama ini aku memang sudah beberapa kali mengerjakan penawaran Proxmox. Sebagian besar berupa kalkulasi harga lisensi subscription, dan beberapa kali juga melibatkan implementasi, baik di wilayah Jabodetabek maupun luar kota.

    Tapi kali ini, ruang lingkupnya bukan sekadar implementasi biasa.

    Klien menjelaskan kebutuhan migrasi dari VMware ke Proxmox. Sekilas terdengar sederhana, tetapi ternyata proses migrasi memiliki banyak aspek yang perlu dipahami. Mulai dari kondisi infrastruktur yang ada, jumlah virtual machine, metode migrasi, hingga kemungkinan kendala yang bisa muncul selama proses berlangsung.

    Di titik itu aku menyadari bahwa aku masih sedang belajar.

    Bukan berarti tidak pernah menangani Proxmox sebelumnya, tetapi memahami konsep migrasi secara menyeluruh adalah hal yang berbeda. Aku ingin benar-benar mengerti, bukan hanya agar bisa menyusun penawaran harga yang tepat, tetapi juga agar bisa memahami apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan tujuan klien.

    Setelah menerima ruang lingkup pekerjaan dari klien, hal pertama yang kulakukan adalah berdiskusi dengan tim teknis. Aku menanyakan apakah ada bagian dari kebutuhan tersebut yang mungkin belum dapat kami akomodasi atau ada hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut sebelum penawaran dibuat.

    Di situlah aku kembali diingatkan bahwa pekerjaan seorang sales, terutama di bidang teknologi, bukan hanya soal mengirimkan quotation. Ada proses memahami, menghubungkan kebutuhan bisnis dengan solusi teknis, dan memastikan apa yang dijanjikan kepada klien benar-benar dapat diwujudkan.

    Yang semakin membuatku menyadari besarnya tanggung jawab ini adalah ketika mengetahui bahwa email tersebut bukan sekadar permintaan penawaran biasa.

    Ini adalah bagian dari proyek perusahaan berskala besar. Sebagai vendor, kami diminta mengikuti proses registrasi dan melengkapi berbagai dokumen, termasuk Pakta Integritas. Rasanya berbeda ketika menyadari bahwa kita sedang mewakili perusahaan dalam sebuah proses yang lebih besar daripada sekadar transaksi jual beli.

    Hari ini aku belajar bahwa kesempatan untuk berkembang sering kali datang tanpa pemberitahuan.

    Bukan dalam bentuk pekerjaan yang sudah sepenuhnya kita kuasai, melainkan dalam bentuk tantangan yang memaksa kita untuk belajar lebih banyak. Perlahan, aku mulai memahami bahwa setiap proyek memiliki skala dan kompleksitas yang berbeda. Semakin besar proyeknya, semakin besar pula tanggung jawab untuk memahami setiap detailnya.

    Aku bersyukur memiliki tim yang selalu terbuka untuk diajak berdiskusi. Ketika ada hal yang belum kupahami, aku bisa berkonsultasi dengan rekan-rekan senior agar setiap langkah yang kuambil tetap tepat. Bagiku, bertanya bukanlah tanda bahwa kita tidak mampu, melainkan cara untuk memastikan bahwa kita memberikan yang terbaik bagi klien dan perusahaan.

    Mungkin besok akan ada email lain yang kembali terlihat “biasa”. Namun hari ini mengingatkanku bahwa di balik sebuah email, bisa saja ada kesempatan baru untuk bertumbuh.

    Dan mungkin, memang seperti itulah proses belajar di dunia kerja.

    Pelan-pelan.

    Satu proyek demi satu proyek.

    Satu pemahaman baru demi pemahaman berikutnya.

  • Hari Pertama Menuju Sistem Kerja yang Lebih Terpusat

    Hari ini menjadi langkah awal bagi tim sales dalam menggunakan aplikasi CRM yang telah di-upgrade dan disesuaikan langsung oleh Pak Boss sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan. Ini bukan sekadar pergantian aplikasi, melainkan awal dari perubahan cara kerja yang lebih terintegrasi, efektif, dan mudah dipantau.

    Selama ini, setiap tim memiliki alur pekerjaannya masing-masing. Dengan adanya CRM terbaru, proses kerja tim sales mulai terhubung dengan tim akunting dan tim support dalam satu sistem yang sama. Meskipun saat ini implementasinya masih dilakukan secara bertahap dan belum mencakup seluruh layanan maupun produk yang ditangani tim sales, langkah awal ini merupakan fondasi yang sangat penting.

    Yang menarik, proses transisi ini tidak dilakukan secara drastis. CRM telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga tim sales tetap dapat bekerja dengan alur yang sudah familiar, namun dengan proses yang lebih efisien. Pendekatan ini membantu meminimalkan perubahan yang terlalu mendadak sehingga produktivitas tetap terjaga selama masa adaptasi.

    Ke depannya, penggunaan CRM ini diharapkan mampu menjadi pusat pengelolaan pekerjaan, mulai dari proses penjualan, koordinasi dengan tim support, hingga kebutuhan administrasi bersama tim akunting. Seluruh progres dapat dimonitor dalam satu sistem, sehingga evaluasi pekerjaan menjadi lebih mudah, transparan, dan terukur.

    Perubahan memang selalu membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Namun, dengan implementasi yang bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan, CRM ini menjadi investasi yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan proses kerja yang lebih optimal, kolaboratif, dan siap mendukung pertumbuhan perusahaan di masa depan.

    Semoga langkah kecil hari ini menjadi awal dari sistem kerja yang semakin baik untuk seluruh tim.

  • Hari yang Paling Dinanti Tim: Hari Gajian!

    Pagi ini suasana kantor terasa sedikit berbeda. Entah kenapa, sejak datang satu per satu, semua orang terlihat lebih ceria. Ada yang tiba-tiba bersenandung lagu favoritnya, ada yang iseng mengganti lirik lagu, ada juga yang bercanda dari meja ke meja. Rasanya hampir sepanjang pagi terdengar suara tawa.

    Awalnya aku sempat berpikir, “Tumben ya, hari ini semua happy banget.”

    Ternyata… jawabannya sederhana.

    Hari ini hari gajian

    Pantas saja mood semua orang naik drastis. Rasanya semua pekerjaan jadi terasa lebih ringan. Bahkan lagu yang dinyanyikan pun seolah punya semangat yang berbeda. Mungkin memang ada kekuatan ajaib dari notifikasi rekening masuk.

    Yang bikin makin menyenangkan, proses gaji dilakukan sebelum weekend. Jadi rasanya seperti mendapat bonus kebahagiaan. Weekend jadi lebih tenang karena kebutuhan sudah terpenuhi, mau traktir diri sendiri secukupnya juga rasanya lebih lega.

    Aku jadi sadar, ternyata bahagia itu kadang sesederhana melihat teman-teman tertawa lepas, saling bercanda, dan menikmati hasil kerja keras selama satu bulan terakhir.

    Semoga kebiasaan baik ini terus dipertahankan. Karena gajian bukan hanya soal menerima angka di rekening, tapi juga menjadi pengingat bahwa setiap usaha, deadline, meeting, dan pekerjaan yang diselesaikan akhirnya membuahkan hasil.

    Selamat hari gajian untuk semua pejuang rupiah! Semoga rezekinya selalu cukup, pengeluarannya tetap terkendali, dan saldo tidak menghilang dalam waktu lima menit setelah masuk dan jangan lupa kelola keuangan dengan AkFina.

  • Belajar Menjawab Email Klien dari Luar Indonesia

    Salah satu pengalaman yang cukup menarik dalam pekerjaan saya adalah berkomunikasi dengan klien maupun principal yang berasal dari berbagai negara melalui email. Sekilas terlihat sederhana, tetapi ternyata ada banyak hal yang saya pelajari dari aktivitas yang hampir saya lakukan setiap hari ini.

    Pada awalnya, tantangan terbesar bukanlah bahasa Inggris itu sendiri, melainkan bagaimana menyampaikan informasi dengan jelas dan profesional. Dalam komunikasi bisnis, setiap email memiliki tujuan yang berbeda. Ada yang berisi permintaan informasi, diskusi mengenai penawaran, proses renewal layanan, hingga koordinasi terkait kebutuhan teknis. Karena itu, saya belajar bahwa memahami konteks email jauh lebih penting daripada sekadar menyusun kalimat yang terdengar bagus.

    Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa gaya komunikasi setiap orang dan setiap negara bisa berbeda. Ada yang sangat formal dan detail dalam menjelaskan kebutuhannya, ada juga yang lebih singkat dan langsung menuju inti pembahasan. Dari situ saya belajar untuk menyesuaikan cara berkomunikasi agar pesan yang disampaikan tetap jelas dan mudah dipahami oleh kedua belah pihak.

    Saya juga belajar bahwa email bisnis tidak selalu harus menggunakan kalimat yang rumit. Justru penggunaan bahasa yang sederhana, sopan, dan langsung pada tujuan sering kali membuat komunikasi menjadi lebih efektif. Ketika membahas penawaran, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan informasi yang mungkin tidak sesuai dengan harapan klien, pemilihan kata yang tepat menjadi sangat penting agar pesan tetap tersampaikan dengan baik tanpa mengurangi profesionalisme.

    Selain itu, aktivitas menjawab email dari klien luar negeri secara tidak langsung membantu saya terus belajar dan memperluas wawasan. Saya menjadi lebih terbiasa dengan istilah-istilah bisnis dan teknologi yang digunakan dalam komunikasi internasional, sekaligus memahami bagaimana membangun hubungan kerja yang baik meskipun hanya melalui percakapan di email.

    Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa email bukan sekadar sarana bertukar informasi. Di balik setiap email, ada proses membangun kepercayaan, menjaga komunikasi, dan memberikan kesan profesional kepada pihak lain. Mungkin terlihat sebagai pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari, tetapi justru dari hal-hal sederhana seperti inilah saya banyak belajar tentang komunikasi, ketelitian, dan pentingnya memahami kebutuhan orang lain.

    Sampai sekarang, setiap email yang saya kirim masih menjadi bagian dari proses belajar. Selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari setiap percakapan, setiap pertanyaan, dan setiap interaksi dengan klien dari luar negeri.

  • Belajar Menghemat, Belajar Menghargai Diri

    Sejak mulai bekerja, aku menyadari bahwa mengatur keuangan ternyata tidak sesederhana menerima gaji lalu menggunakannya untuk berbagai kebutuhan. Ada masa ketika aku terlalu boros karena merasa masih ada uang di rekening. Ada juga masa ketika aku terlalu menahan diri untuk mengeluarkan uang, bahkan untuk hal yang sebenarnya aku butuhkan. Dari situ aku belajar bahwa menghemat dan pelit adalah dua hal berbeda yang perlu diperhatikan.

    Menurutku, menghemat adalah tentang menggunakan uang dengan bijak. Kita memahami mana yang menjadi kebutuhan, mana yang hanya keinginan sesaat. Menghemat bukan berarti harus selalu memilih yang paling murah atau menolak setiap ajakan untuk menikmati hidup. Justru dengan menghemat, kita bisa memastikan bahwa uang yang kita miliki digunakan untuk hal-hal yang benar-benar bernilai.

    Aku mulai menerapkan kebiasaan sederhana, seperti membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, membawa bekal saat memungkinkan, dan berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Awalnya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang membantu kondisi keuangan lebih stabil.

    Namun, aku juga belajar untuk tidak menjadi pelit terhadap diri sendiri. Bekerja keras setiap hari tentu perlu diapresiasi. Sesekali membeli makanan favorit, menikmati waktu bersama keluarga, atau membeli barang yang memang sudah lama diinginkan bukanlah sebuah kesalahan selama masih sesuai dengan kemampuan keuangan. Menikmati hasil kerja juga merupakan bagian dari menghargai diri sendiri.

    Selain itu, aku percaya bahwa rezeki tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Ada kalanya kita bisa berbagi dengan orang lain, baik dalam bentuk bantuan, traktiran sederhana kepada teman, maupun dukungan kepada keluarga yang membutuhkan. Menghemat bukan berarti menutup pintu untuk berbagi. Justru dengan pengelolaan keuangan yang baik, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain tanpa merasa terbebani.

    Bagiku, keseimbangan adalah kuncinya. Tidak boros, tetapi juga tidak terlalu menahan diri. Tidak menghamburkan uang, tetapi juga tidak takut berbagi. Menghemat adalah tentang membuat keputusan yang bijak agar kebutuhan hari ini terpenuhi, masa depan tetap terjaga, dan hati tetap merasa cukup.

    Pada akhirnya, tujuan menghemat bukanlah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan ketenangan. Ketika keuangan lebih teratur, kita bisa menjalani hidup dengan lebih nyaman, menikmati hasil usaha, dan tetap memiliki kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita.

  • Privilege Kecil yang Membuat Hari Kerja Lebih Menyenangkan

    Bekerja tentu bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, menghadiri meeting, atau mengejar target. Terkadang, ada hal-hal kecil yang membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Salah satu privilege yang saya rasakan sebagai karyawan Excellent adalah tersedianya berbagai pilihan snack dan jajanan pasar yang selalu menemani aktivitas sehari-hari di kantor.

    Mungkin bagi sebagian orang hal ini terlihat sederhana. Namun di tengah padatnya pekerjaan, segelas kopi yang ditemani risoles, lemper, pastel, atau aneka kue tradisional lainnya bisa menjadi penyemangat tersendiri. Ada kalanya ketika sedang fokus mengerjakan pekerjaan dan mulai merasa lelah, melihat priring pantry yang penuh dengan camilan membuat suasana hati menjadi lebih baik.

    Yang saya sukai adalah variasinya yang tidak membosankan. Hampir setiap hari ada pilihan jajanan yang berbeda. Kadang disediakan jajanan pasar tradisional yang mengingatkan pada masa kecil, kadang juga tersedia snack ringan yang cocok dinikmati sambil berdiskusi dengan rekan kerja. Tanpa disadari, momen sederhana ini sering menjadi kesempatan untuk berbincang santai, bertukar cerita, atau sekadar melepas penat sejenak sebelum kembali bekerja.

    Menurut saya, perhatian perusahaan terhadap hal-hal kecil seperti ini menunjukkan bahwa kenyamanan karyawan juga menjadi bagian yang diperhatikan. Bukan soal nilai jajanan yang diberikan, tetapi tentang bagaimana perusahaan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh tim.

    Bekerja di Excellent memberikan banyak pengalaman berharga. Salah satunya adalah merasakan bahwa apresiasi kepada karyawan tidak selalu harus dalam bentuk besar. Terkadang, sepiring jajanan pasar dan camilan favorit yang tersedia setiap hari sudah cukup untuk membuat semangat kerja tetap terjaga.

    Karena pada akhirnya, suasana kerja yang baik sering kali dibangun dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dan bagi saya, salah satu hal sederhana itu adalah bisa menikmati berbagai snack dan jajanan pasar setiap hari di kantor sambil menjalani aktivitas bersama tim yang luar biasa.

  • Makan Siang Gratis Lagi Emang?

    Hari ini dimulai dengan sebuah pengumuman yang cukup menyenangkan di grup Telegram kantor. Sejak pagi sudah ada himbauan untuk seluruh tim agar tidak membawa bekal karena akan ada makan siang bersama.

    Membaca pesan itu, rasanya langsung lega. Biasanya sebelum berangkat kerja aku harus memastikan bekal sudah siap. Bahkan menu hari ini sebenarnya sudah ada di kepala: tumis kangkung. Tapi karena tahu siang nanti akan makan bersama, aku jadi lebih santai dan tidak buru-buru masuk dapur seperti biasanya.

    Saat menyampaikan kabar itu ke ibu, aku sudah siap dengan pertanyaan yang sering muncul, “Terus nanti makan siangnya pakai apa?”

    Ternyata yang keluar justru kalimat lain.

    “Makan siang gratis lagi emang?”

    Dan jawabannya: iya, betul sekali.

    Hari ini makan siang seluruh tim disponsori oleh pak boss yang akhirnya kembali ke markas setelah menjalani proses pengobatan dan pemulihan pasca operasi. Tentu saja kabar kembalinya beliau menjadi hal yang membahagiakan, dan makan siang bersama ini menjadi salah satu bentuk syukur sekaligus kebersamaan yang bisa dirasakan oleh seluruh tim.

    Biasanya kalau ada agenda makan siang bersama, akan diberikan batas anggaran tertentu untuk setiap orang. Namun kali ini tidak ada ketentuan budget yang disebutkan.

    Walaupun begitu, ya tetap harus mawas diri juga ya saat memilih menu. Jangan mentang-mentang tidak ada batasan lalu tiba-tiba pesan menu yang membuat bagian keuangan mempertanyakan keputusan hidup kita.

    Sepertinya hampir semua orang memiliki pemikiran yang sama. Begitu informasi itu muncul, mungkin banyak yang langsung membuka Google, GoFood, GrabFood, atau aplikasi lainnya untuk melakukan riset kecil-kecilan. Bukan mencari makanan terenak, melainkan mencari makanan terenak yang masih terasa pantas untuk dipilih.

    Tak lama kemudian, bermunculan berbagai usulan menu dari tim. Total ada tujuh pilihan yang diajukan. Jujur saja, melihat daftar menunya membuatku berpikir, “Kalau makan beginian setiap hari, mungkin rasanya sudah seperti Nagita Slavina.”

    Pilihan-pilihannya benar-benar menggoda selera.

    Setelah melalui proses voting yang cukup seru, akhirnya tersisa dua menu dengan suara terbanyak: Chicken Katsu & Gyoza Bento dari Kimukatsu dan Bebek Kaleyo.

    Dua-duanya sama-sama menggiurkan. Tim pun akhirnya menentukan pilihan dan menunggu waktu makan siang tiba.

    Saat jam istirahat datang, suasana kantor terasa sedikit berbeda dari biasanya. Kami menikmati makan siang bersama dengan cara masing-masing. Ada yang makan sambil mengobrol, ada yang fokus menikmati makanannya, ada yang sesekali bercanda, dan ada juga yang memanfaatkan waktu istirahat untuk sekadar duduk santai sambil menikmati suasana.

    Momen seperti ini sebenarnya sederhana. Hanya makan siang bersama. Namun di tengah rutinitas pekerjaan yang sering kali padat, kesempatan untuk berkumpul dan menikmati waktu tanpa membahas pekerjaan secara serius terasa cukup menyenangkan.

    Yang paling berkesan justru bukan soal menu yang dipilih atau makanan yang datang. Melainkan rasa kebersamaan yang muncul dari hal-hal sederhana seperti ini.

    Maaf ya, Kangkung. Hari ini aku lagi makan siang gratis.