Beberapa hari lalu, aku mampir ke sebuah minimarket. Seperti biasa, aku mengambil beberapa barang lalu berjalan menuju kasir. Saat itu ada seorang bapak-bapak yang sudah terlihat lanjut usia sedang mengantre tepat di depanku.
Awalnya tidak ada yang istimewa. Sampai aku memperhatikan barang-barang yang sedang dipilihnya.
Ada sosis, bakpao, siomay, sampai crispy chicken. Bukan satu atau dua jenis saja, bapak itu tampak sedang mempertimbangkan beberapa pilihan makanan.
Ternyata bapaknya sedang kebingungan memilih jajanan untuk istrinya di rumah.
Dengan santai, ia bercerita kepada kasir bahwa istrinya suka ngemil. Kasir pun mencoba menawarkan beberapa menu sekaligus merekomendasikan makanan yang tersedia.
“Kalau istri saya sukanya yang gurih dan pedas,” kurang lebih begitu yang disampaikan bapak tersebut.
Aku yang berdiri di belakangnya hanya bisa memperhatikan sambil tersenyum sendiri. Hmm, kenapa rasanya so sweet sekali, ya?
Akhirnya, setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, bapak itu memutuskan membeli sosis pedas dan spicy crispy chicken. Pilihannya disesuaikan dengan informasi yang tadi ia sampaikan kepada kasir: istrinya suka makanan yang gurih, asin, dan pedas.
Sederhana sekali, tetapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang hangat dari kejadian itu.
Sampai akhirnya tiba giliranku membayar. Setelah menyelesaikan transaksi, aku melihat bapak tadi keluar dari minimarket. Ternyata ia pulang menggunakan sepeda.
Ya ampun, rasanya malah semakin haru.
Aku tidak tahu seberapa jauh rumah bapak itu dari minimarket. Aku juga tidak tahu apakah istrinya memang sedang menunggu jajanan tersebut atau bahkan sudah terbiasa dibawakan makanan oleh suaminya.
Tapi ada satu hal yang membuatku tersenyum: bapak itu rela memilih satu per satu jajanan untuk dibawa pulang, meskipun mungkin bagi sebagian orang makanan seperti sosis, bakpao, atau siomay dianggap sebagai camilan kecil yang tidak terlalu penting. Bahkan mungkin ada yang berpikir, sekalian saja membeli makanan berat.
Namun, bapak itu punya tujuan sendiri. Ia ingin membelikan sesuatu yang disukai istrinya.
Mungkin baginya, membawa pulang beberapa jajanan kecil itu sudah cukup untuk membuat istrinya senang. Tidak harus sesuatu yang mahal, tidak harus hadiah besar. Cukup sesuatu yang diingat karena ia tahu istrinya menyukainya.
Aku jadi berpikir, terkadang perhatian memang tidak selalu datang dalam bentuk yang luar biasa. Bisa jadi bentuknya sesederhana mengingat rasa makanan kesukaan pasangan, bertanya kepada kasir mana yang paling enak, lalu memilih dengan hati-hati sebelum membawanya pulang.
Dan mungkin, hal-hal kecil seperti inilah yang membuat seseorang merasa dicintai.
Hari itu aku hanya pergi ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan. Tapi tanpa sengaja, aku pulang membawa satu cerita kecil tentang perhatian dan kasih sayang.
Semoga jajanan yang dibawa bapak itu sampai di rumah dengan selamat, dan semoga istrinya senang sekali menerimanya.
Ah, ternyata melihat orang lain berusaha membahagiakan orang yang disayanginya bisa membuat hati kita ikut hangat.