Inisiatif Kecil, Dampak Besar

Hari ini kembali lagi ke hari Rabu. Hari yang selalu identik dengan kebijakan WFA di kantor. Walaupun kalau kata Om Ahmad, WFA itu singkatan dari Wednesday From Anywhere — yang entah kenapa terdengar lebih lucu dan lebih santai daripada Work From Anywhere itu sendiri, hehehe.

Minggu lalu aku menjalani WFA di cafe, jadi rasanya lebih cocok disebut WFC (Work From Cafe). Suasananya nyaman, ada aroma kopi, suara mesin espresso, dan ambience yang membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Tapi hari ini berbeda. Hari ini aku memilih menjalani WFA dari rumah, alias WFH.

Awalnya kupikir bekerja dari rumah akan terasa lebih tenang. Tidak perlu perjalanan, tidak perlu memilih tempat duduk, tidak perlu memikirkan colokan atau koneksi internet cafe. Namun ternyata ekspektasi memang sering kali tidak sejalan dengan kenyataan.

Seharian ini aku harus membalas email klien yang datang berturut-turut sambil mempertahankan fokus di tengah suara renovasi rumah belakang. Lucunya, rumah itu bahkan beda RT denganku, tapi karena tinggal di perumahan yang tembok rumahnya saling “menempel”, suara palu, bor, dan gergaji keramik terasa seperti sedang renovasi tepat di samping telinga sendiri.

Bukannya marah atau kesal, tapi rasanya… aneh. Mengganggu juga, tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang salah satu risiko tinggal di lingkungan perumahan yang padat.

Yang membuatku terpikir justru kebiasaan kecil di lingkungan RT-ku. Biasanya kalau ada warga yang renovasi rumah, mereka akan izin terlebih dahulu. Entah datang langsung ke rumah-rumah sekitar atau sekadar mengirim pesan ke grup WhatsApp seperti:

“Mohon maaf sebelumnya, kami sedang renovasi rumah. Mungkin akan ada suara yang cukup mengganggu. Mohon pengertian dan maafnya ya.”

Kalimat sederhana seperti itu ternyata punya pengaruh besar. Aneh ya, hanya dengan sebuah permintaan maaf kecil, orang lain justru jadi merasa lebih memaklumi dan tidak terlalu terganggu.

Aku jadi ingat sekitar dua atau tiga tahun lalu, pemilik rumah belakang pernah datang langsung ke rumah menemui bapak hanya untuk izin dan meminta maaf karena sedang renovasi. Tapi kali ini tidak ada. Dan ternyata memang rumah itu sudah berganti pemilik.

Tulisan ini bukan bermaksud julid — atau mungkin bahasa halusnya “observasi sosial kecil-kecilan” hahaha. Tapi hari ini aku sadar kalau kebiasaan dan perilaku yang terlihat sederhana ternyata punya dampak besar dalam kehidupan bertetangga. Inisiatif kecil bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap kenyamanan orang lain.

Dan kalau ada yang bertanya,
“Kalau berisik kenapa nggak WFC lagi aja?”

Hmmm… masalahnya sekarang lagi tanggal-tanggal darurat dompet. Ditambah nilai rupiah yang rasanya makin melemah setiap lihat pengeluaran, hahaha. Jadi ya sudahlah, suara renovasi itu kutahan saja sambil tetap lanjut bekerja.

Dan untungnya, seperti banyak hal lainnya dalam hidup, semuanya tetap berlalu. Suara renovasi berhenti, hari berganti sore, dan pekerjaan hari ini pun tetap selesai dengan optimal.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *