Ada lagi hal yang menarik dari briefing hari Senin kemarin.
Kang Asep sempat mengatakan satu kalimat yang cukup membuatku berpikir:
“Orang yang terbiasa public speaking biasanya adalah pendengar yang baik.”
Sepertinya hal itu beberapa kali memang sempat aku rasakan dan sadari juga. Bukan berarti aku mau melabeli diriku sebagai orang yang pandai public speaking, bukan. Aku memang beberapa kali mendapat kesempatan untuk berbicara di depan umum, tetapi bukan berarti aku merasa sudah jago melakukannya.
Salah satu pengalaman yang cukup berkesan adalah ketika aku bergabung dengan konselor sebaya kampus setelah kelulusan. Saat itu, aku dipercaya menjadi narasumber untuk pelantikan anggota konselor sebaya yang baru.

Apa yang kusampaikan di forum tersebut rasanya mengalir begitu saja. Aku menyampaikan berdasarkan case yang pernah kualami ketika menghadapi berbagai macam cerita dan karakter mahasiswa. Malah, kalau dipikir-pikir, forum saat itu rasanya hampir seperti sesi curhatan teman-teman juga. Hahaha.
Mungkin karena apa yang kusampaikan memang berasal dari pengalaman yang pernah kualalui, jadi aku tidak terlalu merasa sedang “mengajar”. Lebih seperti berbagi cerita dan pengalaman yang mungkin bisa menjadi gambaran bagi mereka.
Dan ternyata, kalau dipikir-pikir, bukan hanya dalam kegiatan seperti itu aku terbiasa mendengarkan orang lain.
Di lingkaran pertemananku, aku juga cukup sering menjadi tempat teman-temanku curhat sana-sini.
Saking asyiknya mereka curhat, pernah sesekali ada yang bilang,
“Asri, kok nggak pernah curhat sih?”
Hmm…
Jujur, aku sendiri sebenarnya tidak menyadari hal itu.
Kalau dipikir-pikir, memang setiap kali kumpul, aku lebih banyak mendengarkan cerita mereka daripada menceritakan ceritaku sendiri.
Tapi… banyak mendengarkan bukan berarti aku pendiam, ya. 😭
Justru akhir-akhir ini aku malah merasa seperti semakin bawel. HUAHAHA.
Entah kenapa rasanya sekarang kalau sudah ngobrol bisa ke mana-mana. Dari satu topik bisa nyambung ke topik lain, lalu tiba-tiba sudah membahas hal yang bahkan tidak ada hubungannya dengan topik awal.
Jadi mungkin lebih tepatnya aku bukan pendiam, hanya saja aku cukup nyaman ketika berada di posisi mendengarkan.
Bukan berarti aku tidak punya cerita atau masalah.
Kadang aku justru bingung harus memulainya dari mana.
Apa yang harus kucurhatkan?
Kalau semuanya sedang baik-baik saja dan masih bisa ku-handle, rasanya tidak ada yang perlu diceritakan. Ada juga cerita yang sebenarnya mungkin bisa kuceritakan, tapi kemudian muncul pikiran,
“Hmm, sepertinya nggak perlu deh. Masih bisa aku handle.”
Atau,
“Kalau aku cerita, nanti jadi pada tahu.”
Dulu aku mungkin cukup sering berpikir seperti itu.
Sampai akhirnya aku sadar, ternyata aku memang lebih suka ruang lingkup komunikasi dengan konsep diskusi.
Aku lebih nyaman ketika ada banyak pendapat yang masuk, kemudian bisa saling ditanggapi. Rasanya lebih menyenangkan daripada aku yang hanya mengutarakan curhatan dan menceritakan apa yang sedang kurasakan.
Mungkin karena skill-ku dalam mendengarkan, akhirnya tanpa sadar kemampuan itu juga kumanfaatkan ketika menjadi konselor sebaya saat kuliah. Wkwkwk.
Konselor sebaya sendiri merupakan sebutan untuk teman cerita bagi para mahasiswa yang mungkin merasa lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya daripada langsung datang ke dosen konseling. Kami juga menjadi salah satu perantara apabila ada kendala mahasiswa yang perlu disampaikan kepada dosen.
Di sana aku cukup banyak mendengar cerita dari mahasiswa dengan berbagai macam persoalan dan karakter.
Dan mungkin karena mendengar banyak cerita, mendengar banyak pendapat, dan berhadapan dengan berbagai macam sudut pandang, aku jadi terbiasa untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mencoba menganalisis masalah yang diceritakan kepadaku.
Kadang ketika seseorang cerita, aku bisa ikut berpikir,
“Kalau dari sisi dia memang seperti ini, tapi kalau dari sisi yang lain mungkin bisa jadi seperti itu.”
Bukan berarti analisisku selalu benar, ya. Bisa saja aku juga salah. Hahaha.
Tapi mungkin kebiasaan mendengarkan banyak cerita itulah yang membuatku cukup terbiasa memahami orang lain dan melihat suatu masalah dari lebih dari satu sudut pandang.
Jadi ketika Kang Asep mengatakan bahwa orang yang terbiasa public speaking biasanya adalah pendengar yang baik, aku jadi sedikit mengerti kenapa kalimat itu terasa relate.
Bukan karena aku merasa jago public speaking.
Justru mungkin karena selama ini aku lebih banyak mendengarkan.
Dan ternyata, dari kebiasaan sederhana itu, ada banyak hal yang tanpa sadar ikut terbentuk.
Mungkin benar juga kata Kang Asep.
Sebelum belajar bagaimana cara berbicara dengan baik, mungkin kita memang perlu belajar bagaimana cara mendengarkan dengan baik.
Walaupun…
sekali lagi, pendengar yang baik bukan berarti pendiam.
Karena kalau sudah nyaman ngobrol, aku juga bisa bawel.
Buktinya tulisan ini saja sudah sepanjang ini. HUAHAHA. 😭