Ada satu hal yang belakangan ini bikin aku merasa cukup nyaman di tempat kerja: cara orang-orang berkomunikasi.
Bukan cuma soal komunikasi yang jelas, pekerjaan yang terarah, atau koordinasi yang lancar. Tapi juga komunikasi yang sesekali diselipin bercanda.
Buatku, hal kecil seperti ini ternyata cukup berpengaruh.
Untungnya, di sini kadang ada saja selipan bercanda di tengah obrolan kerja.
Lagi bahas task, nyelip jokes.
Lagi koordinasi, tiba-tiba ada yang nyeletuk.
Lagi serius-seriusnya, malah ketawa.
Dan anehnya, justru itu yang bikin suasana terasa lebih manusiawi.
Tapi ada satu kombinasi yang agak berbahaya
Nah, kalau sudah masuk ke kombinasi tiga orang tertentu…
Asri, Adzka, dan Suyen.
Kayaknya definisi “komunikasi sambil bercanda” mulai mengalami sedikit pergeseran.
Karena kalau sudah bertiga, topiknya bisa sangat random.
Awalnya:
“Eh…”
Lalu melebar ke mana-mana.
Dan pada titik tertentu, mungkin Mba Ika sudah berada di fase:
“Saya menyerah.”
Wkwkwk.
Bukan karena obrolannya tidak penting. Tapi mungkin karena energi bertiga ini kalau sudah berkumpul memang sedikit berbeda.
Kalau satu orang masih mencoba menjaga arah pembicaraan, dua lainnya sudah punya cabang pembahasan sendiri.
Kalau satu masih serius, yang lain mulai bercanda.
Kalau sudah bertiga, entah kenapa chemistry-nya seperti otomatis aktif.
Mba Ika pun mungkin sudah tahu:
“Oke, ini sudah Asri, Adzka, Suyen. Saya tinggal pantau saja.”
Wkwk.
Ternyata rasa nyaman di tempat kerja bisa datang dari hal kecil
Aku jadi sadar, rasa nyaman bekerja ternyata tidak selalu datang dari hal-hal besar.
Kadang sesederhana punya rekan kerja yang bisa diajak ngobrol tanpa harus selalu menggunakan bahasa super formal.
Bisa ketawa bareng.
Bisa bercanda.
Bisa saling meledek tanpa ada yang langsung mengambil hati.
Dan setelah bercanda, tetap bisa kembali ke pekerjaan.
Menurutku, itu justru salah satu bentuk hubungan kerja yang sehat.
Karena kita memang datang ke kantor untuk bekerja, tetapi kita juga manusia.
Ada capeknya.
Ada stresnya.
Ada deadline-nya.
Ada momen bingungnya.
Jadi kalau di tengah semua itu masih bisa ketawa sebentar, kenapa tidak?
Selama tahu batas dan tahu kapan harus kembali serius.
Lagipula, mungkin memang begitu cara kita bertahan di dunia kerja:
kerja tetap jalan, komunikasi tetap lancar, dan kalau bisa… jangan lupa ketawa.
Tapi kalau sudah ada Asri + Adzka + Suyen?
Ya sudah.
Mba Ika, kami mohon maaf sebelumnya.
Wkwkwk.
