Sabtu kemarin aku memulai hari dengan aktivitas yang agak berbeda dari biasanya.
Biasanya, template kegiatan di rumah ya kurang lebih begini: bantu Ibu masak, setrika seragam kerja, nyapu, ngepel, lalu baru bisa berleha-leha. Itu pun biasanya berleha-lehanya di atas tumpukan jemuran yang entah kapan akan dilipat kalau sambil megang HP. Wkwkwk.
Tapi Sabtu kemarin aku melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah sangat lama ingin aku lakukan, tapi selalu tertunda karena ada Bapak di rumah.
Kebetulan Sabtu kemarin Bapak pulang kampung. Sendirian. Naik bis. Dan berangkatnya cukup tiba-tiba.
Alasannya sederhana. Seperti biasa, kalau Mbah Putri sudah bilang kangen, biasanya Jumat pulang kerja Bapak langsung menuju Terminal Cibitung, naik bis ke Gombong, Kebumen, kampung halamannya.
Nah, kesempatan itu akhirnya datang.
Hal yang selama ini ingin kulakukan adalah… memotong tangkai dan dahan tanaman di teras yang sudah merambat ke mana-mana.
Sudah lama sekali tanaman-tanaman itu membuatku risih. Awalnya mungkin terlihat biasa saja. Lama-lama tangkainya menjalar ke sana-sini, makin panjang, makin berat di satu sisi, dan kalau dibiarkan sepertinya tinggal menunggu waktu sampai potnya jatuh ke jalan.
Tapi kenapa selama ini tidak kupotong?
Karena peringatan Bapak.
Bukan karena Bapak melarang. Justru karena aku sudah hafal reaksinya.
Begitu melihat aku mulai naik sedikit untuk menjangkau dahan, pasti langsung terdengar:
“Turun, turun. Ngapain bahaya? Udah, biar Bapak aja.”
Begitulah Bapak.
Medan untuk memotong beberapa dahan memang agak… kreatif. Aku harus melangkahkan kaki dan membuat kuda-kuda di atas kolam ikan supaya bisa menjangkau bagian tanaman yang merambat. Dari sudut pandang Bapak, mungkin yang terlihat adalah anaknya sedang berusaha mencari cara untuk jatuh di rumah nya sendiri dan berendam dengan ikan. WKWKWK LUCU BANGET
Jadi selama Bapak dirumah, biasanya aku menyerah dan membiarkan Bapak yang mengerjakan.
Tapi Sabtu kemarin?
Aku bisa beraksi dengan tenang.
Pagi-pagi, ditemani udara Sabtu yang masih cukup sejuk, aku mulai memotong satu per satu tangkai yang sudah merambat tak karuan.
Gunting sana.
Potong sini.
Tarik yang sudah terlalu panjang.
Potong lagi yang menjuntai.
Sampai akhirnya aku bisa melihat jarak antar-pot tanaman kembali terlihat jelas.
Dan entah kenapa, ada rasa puas yang lumayan besar.
“Akhirnya aku potong juga kau. Dasar tangkai merambat, membuat horror saja rumahku ini.”
Wkwkwk.
Beberapa tetangga yang lewat pun sempat berkomentar,
“Ya ampun, rajin sekali, Mbak Asri. Memangnya nggak ada Bapak?”
Mereka ternyata sudah hafal.
Kalau ada Bapak, biasanya Bapak yang mengerjakan.
Kalau Bapak sedang tidak ada, baru anaknya turun tangan.
Setelah semua selesai, aku berdiri dan melihat tanaman-tanaman itu.
Jauh lebih rapi.
Potnya juga kelihatan lebih seimbang. Tidak ada lagi tangkai panjang yang menjuntai ke mana-mana dan membuatku waswas setiap kali melihatnya.
Sebenarnya yang berubah bukan cuma tampilan teras.
Perasaanku juga ikut berubah.
Ada rasa lega melihat sesuatu yang sebelumnya berantakan akhirnya kembali rapi. Ada rasa tenang karena rumah terlihat lebih enak dipandang.
Dan dari situ aku sadar, ternyata aktivitas sesederhana merapikan tanaman bisa terasa seperti sedang merapikan pikiran juga.
Beberapa minggu terakhir rasanya aktivitas cukup padat. Ada pekerjaan, rutinitas, berbagai hal yang harus dipikirkan, dan semuanya berjalan terus tanpa benar-benar memberi jeda.
Lalu Sabtu pagi itu, aku cuma berdiri, eh tidak melangkah kuda kuda, memotong dahan satu per satu, membersihkan bagian yang sudah terlalu rimbun, dan melihat hasilnya perlahan berubah.
Rasanya seperti ikut membuang sedikit demi sedikit hal-hal yang menumpuk di kepala.
Mungkin memang begitu.
Kadang kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa lebih tenang.
Bisa jadi cukup dengan membersihkan teras.
Memotong tanaman yang sudah merambat ke mana-mana.
Melihat rumah kembali rapi.
Dan menikmati pagi tanpa terburu-buru.