Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • September
  • 4
  • Tidak Harus Selalu Punya yang Baru

Tidak Harus Selalu Punya yang Baru

Posted on September 4, 2026 By asrisahnrd_ No Comments on Tidak Harus Selalu Punya yang Baru
Uncategorized

Besok hari Sabtu.

Hari yang bagi sebagian besar karyawan mungkin terdengar seperti sebuah kalimat penuh harapan:

“Besok libur.”

Hari di mana alarm bisa dimatikan. Hari di mana kita boleh bangun agak siang tanpa merasa bersalah. Hari di mana kasur terasa jauh lebih nyaman, selimut terasa lebih hangat, dan aktivitas paling produktif mungkin adalah… rebahan sambil scroll TikTok.

Setidaknya, itu adalah bayangan ideal tentang hari Sabtu.

Dan yap, aku adalah salah satu karyawan yang punya harapan seperti itu.

Sayangnya, harapan tersebut sepertinya harus ditunda dulu karena besok aku punya dua kegiatan dari pagi sampai malam.

Pagi: Akad dan Resepsi Tetangga

Besok pagi-pagi sekali, aku harus menghadiri acara pernikahan tetanggaku. Sebut saja namanya Kak F.

Sebenarnya aku sudah cukup familiar dengan rangkaian acara pernikahan Kak F karena beberapa waktu lalu, ketika acara lamaran, aku juga dipercaya untuk menjadi MC.

Untungnya acara lamaran berjalan lancar.

Dan besok akhirnya sampai juga di hari H.

Bedanya, kali ini aku tidak menjadi MC. Aku dipercaya untuk menjadi sari tilawah saat akad nikah.

Kemungkinan aku akan berada di lokasi acara sejak pagi sampai siang. Setelah itu, rencananya langsung pulang untuk istirahat.

Karena…

Malamnya masih ada acara lagi.

Malam: Jadi MC Lagi

Belum benar-benar selesai dengan segala euforia pernikahan, malam harinya aku harus kembali menjalankan tugas sebagai MC.

Kali ini bukan acara keluarga, melainkan malam puncak peringatan HUT RI di lingkungan RW.

Dan kalau melihat rundown-nya…

Hmm.

Sepertinya ini bukan acara kecil-kecilan yang bisa MC-nya cuma bilang,

“Selanjutnya acara sambutan. Kepada Bapak X dipersilakan.”

Selesai.

Karena di acara tersebut akan hadir Pak Camat, Pak Lurah, dan kalau aku tidak salah lihat di rundown, ada juga beberapa anggota dewan.

Tapi sebenarnya ada satu persoalan yang serius daripada menjadi MC di depan Pak Camat.

AKU HARUS PAKAI BAJU APA?! HEHEHEHE

Dilema Abadi Perempuan: “Aku Nggak Punya Baju”

Nah, ini dia.

Sebuah permasalahan klasik yang mungkin dialami hampir semua perempuan.

Buka lemari.

Penuh.

Baju tergantung di mana-mana.

Ada warna hitam, putih, cokelat, cream, navy, sage, dusty pink, dan entah warna apa lagi yang sebenarnya kalau dilihat sekilas semuanya terlihat sama.

Tapi tetap saja kita bisa berkata:

“Aku nggak punya baju.”

Kemudian mulai mencari alasan.

“Yang ini udah pernah dipakai.”

“Yang itu udah pernah diposting.”

“Yang ini kurang cocok buat acaranya.”

“Yang itu udah masuk keranjang laundry.”

“Yang satunya lagi kayaknya udah pernah dipakai ketemu orang itu.”

Dan akhirnya…

Buka marketplace.

Scroll.

Lihat baju.

Masuk keranjang.

Checkout.

Padahal lima menit sebelumnya baru saja berkata:

“Aku harus hemat.”

HAHAHAHA.

Dulu aku juga seperti itu.

Aku merasa setiap ada kegiatan penting, aku harus punya pakaian yang berbeda.

Takut terlihat itu-itu saja.

Takut dianggap tidak punya banyak pakaian.

Takut kalau orang lain memperhatikan.

Takut kalau ada yang berpikir,

“Loh, bukannya dia pakai baju itu waktu acara kemarin?”

Padahal…

Emang kenapa?

Semakin Dewasa, Semakin Banyak yang Tidak Perlu Dipikirkan

Seiring bertambahnya usia, ternyata banyak hal yang berubah.

Bukan hanya umur yang bertambah, tapi cara melihat sesuatu juga perlahan berubah.

Dulu aku mungkin berpikir bahwa memiliki banyak pakaian akan membuatku lebih bahagia.

Sekarang aku justru merasa, memiliki terlalu banyak pilihan kadang malah membuat kepala lebih penuh.

Dulu aku merasa harus membeli sesuatu karena sedang tren.

Sekarang aku mulai bertanya:

“Aku benar-benar butuh atau cuma sedang ingin?”

Dulu aku ingin terlihat menarik di mata banyak orang.

Sekarang aku mulai berpikir:

“Memangnya mereka mikirin aku selama itu?”

Jawabannya kemungkinan besar:

Tidak.

Orang lain sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Dan lucunya, kita sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan penilaian orang yang bahkan mungkin tidak memperhatikan kita.

Aku juga jadi teringat sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan Emma Watson:

“Mengenakan pakaian murah dan tanpa merek bukan berarti kamu miskin. Ingatlah bahwa kamu memiliki keluarga yang harus diberi makan, bukan sekelompok orang yang harus dibuat terkesan.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tapi semakin dewasa, aku semakin memahami maksudnya.

Bukan berarti kita tidak boleh membeli pakaian bagus.

Bukan berarti kita harus berhenti memperhatikan penampilan.

Dan bukan berarti menggunakan barang bermerek adalah sesuatu yang salah.

Sama sekali bukan.

Tapi yang perlu dipikirkan adalah:

Apakah aku membeli karena memang membutuhkan, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?

Karena kalau alasannya adalah ingin membuat orang lain terkesan, rasanya tidak akan pernah selesai.

Hari ini beli satu.

Besok lihat yang baru.

Lalu merasa kurang.

Kemudian beli lagi.

Begitu terus.

Padahal uang yang sama sebenarnya bisa dialokasikan untuk sesuatu yang jauh lebih berarti.

Ternyata Bertumbuh Itu Bukan Cuma Soal Umur

Semakin bertambah usia, aku merasa semakin banyak pola pikir yang berubah.

Bukan karena tiba-tiba menjadi lebih bijaksana.

Tapi karena pengalaman perlahan mengajarkan.

Belajar dari kesalahan.

Belajar dari keputusan-keputusan yang pernah diambil.

Belajar dari bertemu orang-orang baru.

Belajar dari masuk ke lingkungan yang berbeda.

Dan yang paling penting, belajar bahwa tidak semua hal harus kita ikuti hanya karena orang lain melakukannya.

Dulu mungkin aku mudah terbawa tren.

Sekarang aku mulai belajar punya pendirian.

Kalau memang suka, silakan.

Kalau memang butuh, beli.

Kalau memang mampu, tidak masalah.

Tapi kalau hanya karena takut ketinggalan?

Mungkin tidak perlu.

Karena hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling update.

Dan kita tidak harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.

Kadang, menjadi cukup untuk diri sendiri jauh lebih menenangkan.

Jadi, Besok Pakai Baju Apa?

Kembali ke persoalan awal.

Besok aku pakai baju apa?

Jawabannya belum tahu. 😭

Tapi yang jelas, aku tidak akan menjadikan dua acara dalam satu hari sebagai alasan untuk membeli dua baju baru.

Aku akan bongkar lemari.

Memilih yang masih layak.

Memadupadankan dengan yang sudah ada.

Dan kalau ternyata harus memakai pakaian yang pernah dipakai sebelumnya…

Ya sudah.

Tidak ada masalah.

Toh, bajunya belum berubah menjadi barang terlarang hanya karena sudah pernah dipakai ke acara lain.

Yang penting bersih, rapi, sopan, nyaman, dan sesuai dengan acaranya.

Besok pagi menjadi sari tilawah.

Malam menjadi MC.

Siang?

Semoga bisa tidur.

Karena setelah seharian beraktivitas, sepertinya yang paling aku butuhkan bukan baju baru.

Tapi kasur.

Dan semoga ketika membuka lemari nanti aku tidak kembali berkata:

“Aku nggak punya baju.”

Post navigation

❮ Previous Post: Kami Bukan Sarjana Kertas: Ketika Kesuksesan Ternyata Bukan Cuma Soal IPK
Next Post: Aku Kira Minggu Ini Cuma Tentang Sakit, Ternyata… ❯

You may also like

Uncategorized
Empat Jam Menuju Deadline, dan Pelajaran yang Tidak Ada di SOP
July 8, 2026
Uncategorized
Ketika Sistem Internal Benar-Benar Membantu Pekerjaan
July 14, 2026
Uncategorized
Ketika memberanikan diri masuk dunia IT
January 14, 2026
Uncategorized
Delapan Bulan Baru Sadar, Ternyata Dinding Kantor Kami Punya Cerita
August 6, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jajanan Kecil dan Perhatian Besar
  • Rasanya Seperti Masuk ke Film: Kunjungan ke Data Center
  • Di Balik Ulang Tahun Excellent ke-15: Antara Cuan & Deadline
  • Kunjungan ke Lemhannas: Pengalaman yang Berbeda dari Biasanya
  • Cuaca yang Datang dan Pergi Sesukanya

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  2. Ananda Kallila on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  3. asrisahnrd_ on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  4. Ahmad on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  5. asrisahnrd_ on Berbuat Baik Itu Wajib, Tapi Bukan Berarti Tanpa Batas

Archives

  • October 2026
  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by