Hari itu sebenarnya berjalan seperti biasa. Saya sedang fokus menyiapkan sebuah penawaran untuk salah satu klien. Semua berjalan sesuai alur: reminder penawaran belum di konfirmasi klien dan menjawab beberapa pertanyaan dari klien yang memang perlu dipastikan terlebih dahulu.
Di kepala saya, pekerjaan itu masih sesuai timeline.
Lalu tiba-tiba sebuah email masuk.
“We need a quotation for this requirement by next 4 hours, because we have a tender submission today.”
Empat jam.
Bukan besok. Empat jam.
Jujur, reaksi pertama tentu kaget. Bukan karena membuat penawaran dalam empat jam itu mustahil. Secara teknis, sebenarnya bisa langsung membuat penawaran, memasukkan harga, lalu mengirimkannya.
Tapi saya sadar, mengirim penawaran cepat bukan berarti mengirim penawaran yang tepat.
Di balik sebuah quotation, ada banyak hal yang harus dipastikan. Apalagi untuk harga kebutuhan lisensi. Harga harus sesuai, tipe lisensi tidak boleh salah, jumlah server harus benar, belum lagi beberapa pertanyaan dari klien yang jawabannya tidak bisa saya putuskan sendiri. Ada hal-hal yang memang perlu didiskusikan dengan atasan sebelum dikirimkan ke pelanggan.
Di situ saya merasa dilema.
Kalau terlalu lama berdiskusi, takut melewati deadline tender mereka.
Kalau terlalu cepat mengirim, takut ada informasi yang kurang tepat.
Akhirnya pilihannya cuma satu: bergerak cepat, tapi tetap teliti.
Mulailah beberapa jam yang cukup padat. Diskusi dengan atasan, memastikan skema lisensi, menghitung harga, merevisi, mengecek lagi, memastikan jawaban untuk setiap inquiry sudah sesuai, sampai akhirnya penawaran benar-benar siap dikirim.
Rasanya lega ketika email itu akhirnya berhasil terkirim.
Dan yang paling membuat lega lagi, penawaran berhasil dikirim sebelum batas waktu yang diminta oleh klien.
Alhamdulillah.
Dari kejadian itu, saya jadi belajar satu hal.
Di dunia kerja, terutama di bidang sales B2B, ternyata bukan cuma soal siapa yang paling cepat.
Yang lebih penting adalah bagaimana tetap menjaga kualitas di tengah tekanan waktu.
Karena satu angka yang salah, satu tipe lisensi yang keliru, atau satu informasi yang belum dikonfirmasi bisa berdampak jauh lebih besar daripada terlambat beberapa menit. *semoga penawaran yang terkirim benar benar benar (1000x) sudah tepat sesuai hasil pengecekaan saya yang berkali-kali
Saya juga belajar bahwa koordinasi itu bukan penghambat pekerjaan.
Kadang kita merasa, “Ah, kalau saya putuskan sendiri pasti lebih cepat.”
Padahal justru diskusi dengan orang yang tepat bisa menghindarkan kita dari kesalahan yang jauh lebih mahal.
Hari ini memang padat.
Tapi ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika melihat email penawaran sudah terkirim.
Mungkin memang begitulah dunia kerja.
Tidak semua pekerjaan datang sesuai rencana.
Kadang justru momen yang paling bikin panik adalah momen yang paling banyak mengajarkan kita tentang ketenangan, kerja sama, dan pentingnya tetap berpikir jernih di bawah tekanan.
Dan hari itu, empat jam terasa sangat singkat. Tapi cukup untuk mengingatkan saya bahwa bekerja dengan baik bukan hanya tentang seberapa cepat kita menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga seberapa besar tanggung jawab yang kita berikan pada setiap hasil yang kita kirimkan.

Penawarannya gol nggak? 😀
Masih diusahakan sampai gol boss 🫡