Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • September
  • 7
  • Aku Kira Minggu Ini Cuma Tentang Sakit, Ternyata…

Aku Kira Minggu Ini Cuma Tentang Sakit, Ternyata…

Posted on September 7, 2026 By asrisahnrd_ No Comments on Aku Kira Minggu Ini Cuma Tentang Sakit, Ternyata…
Uncategorized

Briefing pagi ini materinya sedikit berbeda dari biasanya.

Tentang jurnal syukur.

Katanya, konsep seperti ini sudah menjadi salah satu budaya di perusahaan besar yang mungkin sudah tidak asing lagi namanya: Paragon. Setiap minggu, karyawan diajak untuk menuliskan tiga hal yang mereka syukuri.

Awalnya aku berpikir, “Oh, jurnal syukur. Menarik juga.”

Tapi ternyata, semakin dipikirkan, konsep ini cukup relevan dengan apa yang aku alami selama seminggu terakhir.


Seminggu yang Rasanya Badan Ini Tidak Mau Diajak Kerja Sama

Beberapa hari terakhir, kondisi badan rasanya kurang bersahabat.

Sakitnya juga seperti estafet.

Mulai dari diare, kemudian perut tiba-tiba nyeri disertai sesak napas, bangun tidur mual bahkan sampai muntah. Belum selesai satu, muncul sakit kepala yang beberapa hari tidak kunjung sembuh.

Alhasil, mood ikut turun.

Rasanya ingin rebahan saja. Bahkan untuk berbicara pun kadang malas.

Tapi karena beberapa kali mengalami kondisi seperti ini, aku mencoba bertahan dengan sugesti sederhana:

“Nanti juga sembuh.”

Tentu saja bukan cuma mengandalkan sugesti. Aku juga memulihkan dengan lebih menjaga pola makan, menghindari jajan sembarangan, dan mencoba memberikan tubuh waktu untuk beristirahat untuk tidur lebih cepat.


Tapi Weekend Kemarin, Kok Malah Banyak Acara?

Masalahnya, weekend kemarin justru bukan waktu yang tepat untuk menjadi manusia yang ingin rebahan.

Sabtu pagi, jam 6, aku sudah berangkat ke Gedung Sartika untuk mengisi acara sebagai sari tilawah dalam akad nikah tetangga.

Aku pulang sekitar jam 1 siang.

Sampai rumah, kepala sudah terasa berat dan mata panas. Aku pun menyempatkan tidur sebentar karena malamnya masih ada agenda kedua.

Yaitu menjadi MC sekaligus panitia malam puncak HUT RI ke-81 di lingkungan RW.

Acara dimulai sekitar jam 7 malam dan selesai hampir jam 12 malam.

Kalau ada yang bertanya,

“Kenapa nggak istirahat saja? Kondisinya kan lagi lemas.”

Jawabannya sederhana:

Nggak bisa.

Sudah dipercaya oleh pengurus RW, sudah menjadi tanggung jawab, dan entah kenapa aku juga merasa kalau sudah diberi kepercayaan, rasanya sayang kalau ditinggalkan.

Ada satu hal lain yang aku sadari tentang diriku.

Kalau sedang sakit, anehnya ketika bertemu banyak orang, rasa sakit itu seperti menghilang sementara.

Begitu naik ke depan untuk menjadi MC, membangun suasana satu RW, menyapa tamu, bercanda, dan memastikan acara tetap hidup…

Tiba-tiba badan seperti lupa kalau sebenarnya sedang sakit. 😂

Alhamdulillah acaranya berjalan lancar. Bahkan aku mendapat pujian karena dianggap berhasil membangun suasana menjadi lebih meriah.

Dalam hati:

“Terima kasih. Padahal saya sendiri sedang berusaha membangun suasana sambil membangun kembali energi tubuh.” 😂


Minggu Pagi: Badan Akhirnya Menagih Haknya

Kalau malamnya aku merasa seperti baik-baik saja, ternyata tubuh punya pendapat lain.

Minggu pagi…

Tumbang.

Energi rasanya habis.

Akhirnya aku pergi ke klinik. Dan ternyata…

Tekanan darahku rendah dan suhu tubuh hampir 39°C.

Oh. Pantas saja.

Ternyata selama ini badan bukan sedang baik-baik saja.

Badan cuma sedang berusaha diajak kompromi. 😭

Pulang dari klinik tentu saja waktunya istirahat.

Tapi ternyata masih ada part 3.

HAHAHAHA.

Produktif sekali weekend ini.

Aku menggantikan ibu menghadiri arisan ibu-ibu RT karena ibu sedang ada keperluan bersama bapak.

Dan karena sebelumnya ibu yang mendapatkan arisan, tugasnya bukan sekadar datang, duduk, ngobrol, lalu pulang.

Aku juga harus membantu membersihkan pos untuk kegiatan arisan sekaligus menyiapkan konsumsinya.

Jadi kalau dihitung-hitung, weekend kemarin:

Sari tilawah → MC → panitia → pengganti ibu arisan.

Tubuh:

“Mbak, kita sebenarnya sedang sakit.”

Aku:

“Iya, sebentar lagi.”

Tubuh:

“🙂”


Lalu, Apa Hubungannya dengan Jurnal Syukur?

Nah, ini yang membuat materi briefing pagi tadi terasa berbeda.

Kalau dipikir-pikir, selama ini kita sering mengartikan sesuatu yang patut disyukuri dengan hal-hal yang sifatnya “besar”.

Dapat uang.

Naik gaji.

Dapat promosi.

Mendapat pekerjaan baru.

Mencapai target.

Membeli sesuatu yang diinginkan.

Padahal ternyata, rasa syukur bisa datang dari hal-hal yang jauh lebih sederhana.

Dan setelah mendengar tentang jurnal syukur pagi tadi, aku mencoba melihat kembali satu minggu kemarin dari sudut pandang yang berbeda.

Pertama, aku bersyukur masih diberikan kekuatan untuk menjalani tanggung jawab.

Meskipun kondisi badan sedang tidak baik, aku masih diberikan kesempatan dan tenaga untuk menyelesaikan beberapa tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadaku.

Menjadi sari tilawah.

Menjadi MC.

Membantu kegiatan lingkungan.

Mungkin terdengar sederhana.

Tapi menurutku, bisa bermanfaat bagi orang lain dan dipercaya untuk mengambil bagian dalam sebuah kegiatan adalah sesuatu yang layak disyukuri.

Ada rasa bahagia ketika tahu bahwa keberadaan kita ternyata bisa membantu membuat suatu kegiatan berjalan.


Kedua, aku belajar melihat rasa sakit dari sisi yang berbeda.

Pernah mendengar kalimat bahwa rasa sakit dapat menjadi sebab gugurnya sebagian dosa?

Aku tidak ingin menjadikan sakit sebagai sesuatu yang romantis, apalagi sengaja mencari sakit.

Tapi ketika sakit itu datang, mungkin kita bisa belajar melihatnya dengan perspektif yang berbeda.

Daripada hanya bertanya,

“Kenapa aku sakit?”

Mungkin sesekali kita juga bisa bertanya,

“Apa yang masih bisa aku syukuri meskipun sedang sakit?”

Masih bisa beraktivitas.

Masih bisa bertemu orang.

Masih bisa membantu.

Masih bisa menjalankan tanggung jawab.

Dan yang paling sederhana:

masih diberikan kesempatan untuk bangun dan menjalani hari berikutnya.


Ketiga, aku bersyukur mendapat insight baru dari briefing pagi tadi.

Ini mungkin justru menjadi salah satu hal yang paling aku syukuri hari ini.

Ternyata briefing rutin bukan hanya soal pekerjaan.

Bukan hanya tentang,

“Progress-nya sudah sampai mana?”

“Ada kendala apa?”

“Target minggu ini bagaimana?”

Tapi bisa menjadi ruang untuk saling berbagi sesuatu yang mungkin tidak hanya berguna untuk pekerjaan, tetapi juga untuk kehidupan.

Dan dari jurnal syukur tadi, aku kembali diingatkan bahwa:

tidak semua hal baik dalam hidup harus berbentuk pencapaian.

Tidak harus selalu tentang mendapatkan uang.

Tidak harus selalu tentang naik jabatan.

Tidak harus selalu tentang memenangkan sesuatu.

Kadang, hal yang perlu disyukuri adalah sesuatu yang bahkan sering kita anggap biasa.

Bisa makan dengan tenang.

Bisa tidur.

Bisa bertemu orang-orang baik.

Bisa membantu orang lain.

Bisa dipercaya.

Bisa belajar sesuatu.

Bisa melewati hari yang sulit.

Atau bahkan…

bisa menemukan satu insight baru dari briefing pagi.


Mungkin Kita Memang Perlu Sesekali Berhenti dan Menghitung

Semakin dewasa, rasanya kita semakin sibuk menghitung apa yang belum kita punya.

Gaji belum segini.

Karier belum sampai sana.

Tabungan belum cukup.

Target belum tercapai.

Belum punya ini.

Belum bisa itu.

Sampai lupa menghitung apa saja yang sebenarnya sudah kita punya.

Mungkin jurnal syukur bukan tentang memaksa diri untuk selalu bahagia.

Bukan juga tentang berpura-pura bahwa semua masalah baik-baik saja.

Tapi tentang memberikan ruang kepada diri sendiri untuk berhenti sebentar dan menyadari:

“Oh, ternyata hidupku tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan.”

Karena ternyata, di tengah badan yang sedang tidak enak, pekerjaan yang tetap berjalan, dan berbagai tanggung jawab yang datang bergantian…

masih ada banyak hal yang bisa disyukuri.

Dan kalau hari ini aku harus menulis tiga hal dalam jurnal syukurku, mungkin jawabannya sederhana:

Aku bersyukur masih diberikan kekuatan untuk bermanfaat.
Aku bersyukur masih dipercaya oleh orang-orang di sekitarku.
Dan aku bersyukur hari ini mendapatkan satu pengingat baru: bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar sesuatu, tetapi juga tentang menyadari apa yang sudah kita miliki.

Mungkin mulai sekarang, sebelum tidur, tidak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri:

“Hari ini, apa tiga hal yang bisa aku syukuri?”

Barangkali jawabannya sederhana.

Tapi justru dari hal-hal sederhana itulah, kita belajar bahwa ternyata…

hidup punya lebih banyak alasan untuk disyukuri daripada yang selama ini kita sadari.

Post navigation

❮ Previous Post: Tidak Harus Selalu Punya yang Baru
Next Post: Jumat: Pulang atau Mampir Dulu? ❯

You may also like

Uncategorized
Sekilas Cerita di Pagi Hari
March 10, 2026
Uncategorized
WFH: Menurut Ibu Libur
August 19, 2026
Uncategorized
Kunjungan ke Lemhannas: Pengalaman yang Berbeda dari Biasanya
October 27, 2026
Uncategorized
Menutup Satu Bab, Membuka Bab Baru
February 6, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jajanan Kecil dan Perhatian Besar
  • Rasanya Seperti Masuk ke Film: Kunjungan ke Data Center
  • Di Balik Ulang Tahun Excellent ke-15: Antara Cuan & Deadline
  • Kunjungan ke Lemhannas: Pengalaman yang Berbeda dari Biasanya
  • Cuaca yang Datang dan Pergi Sesukanya

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  2. Ananda Kallila on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  3. asrisahnrd_ on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  4. Ahmad on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  5. asrisahnrd_ on Berbuat Baik Itu Wajib, Tapi Bukan Berarti Tanpa Batas

Archives

  • October 2026
  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by