
Ada satu hal yang baru aku sadari setelah umur mulai bertambah. Entah ini efek bertambahnya usia, bertambahnya tagihan, atau bertambahnya jumlah grup WhatsApp yang di-mute.
Dulu, waktu masih remaja, rasanya semua hal harus dipikirkan. Teman nggak balas chat? Kepikiran. Ada yang nyindir di media sosial? Kepikiran. Nilai jelek? Dunia serasa mau kiamat. Gebetan upload foto sama orang lain? Ya sudah, soundtrack galau langsung diputar dari lagu pertama sampai terakhir. Pokoknya, hidup waktu itu seperti drama 30 episode. Semua adegan terasa penting.
Sekarang?
Kalau ada chat yang belum dibalas dua hari, yang kepikiran justru, “Kayaknya dia juga lagi sibuk.” Kalau ada orang nggak suka sama kita? Ya… semoga sehat selalu.
Ternyata sesederhana itu.
Aku pernah membaca bahwa salah satu tanda seseorang mulai dewasa bukan ketika dia punya pekerjaan tetap, bisa beli kopi pakai uang sendiri, atau mulai ngomel soal harga cabai. Melainkan ketika dia mulai sadar bahwa tidak semua hal layak menghabiskan energi.
Dan menurutku, itu benar.
Karena energi kita setiap hari terbatas. Kalau dipakai buat mikirin omongan orang, drama kecil, debat yang nggak ada ujungnya, atau membuktikan sesuatu kepada orang yang memang tidak ingin mengerti, lalu kapan kita sempat menikmati hidup?
Dulu aku juga tipe orang yang kalau ada masalah, kepalanya seperti browser dengan 47 tab terbuka. Semuanya jalan bersamaan. Belum lagi ada satu tab yang bunyinya entah dari mana.
Sekarang aku mulai belajar menutup tab satu per satu. Bukan karena semua masalah sudah selesai, tapi karena ternyata tidak semua tab harus dibuka. Ada yang memang lebih baik ditutup. Ada yang memang lebih baik di-refresh. Dan ada yang… ya sudah, force close saja.
Semakin dewasa, aku juga sadar bahwa hidup itu lucu. Kita sering menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang, enam bulan kemudian, bahkan kita sendiri sudah lupa pernah memikirkannya.
Coba ingat-ingat. Masalah yang membuatmu menangis lima tahun lalu. Sekarang mungkin sudah tidak relevan. Bahkan mungkin kamu harus mikir dulu, “Eh, dulu aku sedih karena apa ya?”
Ternyata banyak kekhawatiran hanya mampir sebentar. Yang membuatnya bertahan lama justru karena kita menyuruhnya tinggal.
Ada satu filosofi yang belakangan ini aku suka.
Tidak semua bola harus kita tangkap.
Bayangkan hidup seperti seseorang yang sedang melempar bola ke arah kita. Ada bola pekerjaan. Ada bola keluarga. Ada bola kesehatan. Lalu ada bola komentar orang, bola gosip, bola drama, dan bola “katanya”.
Kalau semua ditangkap, ya capek sendiri.
Kadang yang paling bijak bukan menangkap semuanya, tapi membiarkan beberapa bola lewat begitu saja. Biarkan jatuh. Bukan semua hal adalah tanggung jawab kita.
Lucunya, semakin dewasa, definisi “menang” juga berubah.
Dulu menang itu harus membalas. Sekarang menang itu… tidak membalas.
Dulu menang itu harus menjelaskan. Sekarang menang itu… membiarkan orang salah paham kalau memang mereka tidak berniat memahami.
Dulu menang itu harus menjadi yang paling benar. Sekarang menang itu… bisa tidur nyenyak. Karena ternyata tidur delapan jam jauh lebih menyenangkan daripada menang debat dengan orang asing di internet.
Aku juga mulai belajar satu kalimat sederhana.
“Oh… ya sudah.”
Kalimat yang dulu terdengar seperti menyerah, sekarang justru terasa seperti kebebasan.
Rencana gagal? Oh ya sudah.
Ada yang kecewa? Oh ya sudah.
Ada yang tidak menyukai kita? Oh ya sudah.
Bukan berarti tidak peduli. Bukan berarti tidak bertanggung jawab. Hanya saja, aku mulai memilih mana yang memang bisa kuubah dan mana yang memang harus kulepaskan. Karena hidup sudah cukup ramai. Tidak perlu ditambah keributan yang sebenarnya bisa kita biarkan lewat begitu saja.
Mungkin memang begini rasanya bertambah dewasa. Bukan hidup yang menjadi lebih mudah, melainkan kita yang mulai belajar memilah. Mana yang penting. Mana yang mendesak. Mana yang hanya lewat sebentar. Dan mana yang sebenarnya tidak pantas menyewa ruang di kepala kita terlalu lama.
Kalau dipikir-pikir, hidup ini seperti naik angkutan umum. Tidak semua orang yang naik akan ikut sampai tujuan. Ada yang hanya satu halte. Ada yang turun di tengah jalan. Ada yang berisik. Ada yang diam.
Tugas kita bukan memaksa semua orang tetap duduk di samping kita. Tugas kita hanya memastikan kendaraan ini tetap berjalan menuju tujuan.
Kalau ada yang turun?
Ya sudah.
Kalau ada yang naik?
Silakan.
Yang penting jangan sopirnya ikut turun.
Akhirnya aku sampai pada kesimpulan kecil.
Barangkali menjadi dewasa bukan tentang menjadi orang yang tidak pernah sedih, marah, atau kecewa. Melainkan tentang mengetahui hal mana yang pantas diperjuangkan, dan hal mana yang cukup diucapkan dalam hati…
“Ya sudah, semoga harimu menyenangkan.”
Lalu melanjutkan hidup.
Karena ternyata, damai itu bukan ketika semua masalah hilang. Melainkan ketika kita berhenti mengundang semua masalah untuk tinggal di kepala kita.