Kemarin pagi, seperti biasa, aku berangkat ke kantor.
Di tengah perjalanan, dari kejauhan aku melihat cukup banyak orang seperti sedang menghindari sesuatu yang ada di tengah jalan. Awalnya aku juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin dekat, barulah kelihatan kalau ada dahan pohon yang tumbang di jalan.
Dahannya memang tidak terlalu besar. Tapi kalau dipikir-pikir, tetap saja cukup berbahaya.
Bagaimana kalau ada motor yang melintas dan sela-sela dahan masuk ke rongga ban sepeda motor? Atau ada kendaraan yang tiba-tiba menghindar dan malah membahayakan kendaraan lain?
Akhirnya aku langsung menyalakan lampu sein kiri, menepi ke pinggir jalan, lalu turun untuk menyingkirkan dahan tersebut.
Tidak lama. Tinggal diangkat, digeser ke tepi jalan, selesai.
Setelah itu aku melanjutkan perjalanan ke kantor seperti biasa.
Tapi entah kenapa, sepanjang perjalanan setelahnya ada perasaan yang berbeda. Ada rasa senang sekaligus bangga.
Bukan karena merasa sudah melakukan sesuatu yang besar.
Bukan juga karena ingin diperhatikan atau berharap ada yang melihat.
Sama sekali bukan.
Justru saat itu aku teringat Bapak.
Kebiasaan yang Ternyata Menempel
Dulu, ketika aku masih sering berboncengan dengan Bapak menggunakan motor, ada satu kebiasaan kecil yang sering beliau lakukan.
Saat perjalanan mengantar-jemput sekolah, atau ketika kami pergi ke mana pun, kalau beliau melihat ada batu besar, ranting, atau benda apa pun yang menghalangi jalan dan berpotensi membahayakan pengendara, beliau biasanya akan menepi.
Lalu benda itu disingkirkan.
Waktu masih kecil, tentu saja aku tidak pernah berpikir bahwa hal sesederhana itu akan menjadi sesuatu yang kuingat sampai bertahun-tahun kemudian.
Mungkin bagi Bapak, itu hanya tindakan spontan.
Melihat sesuatu yang membahayakan → menepi → singkirkan → lanjut perjalanan.
Selesai.
Tapi ternyata, anaknya memperhatikan.
Dan tanpa sadar, kebiasaan itu ikut tumbuh bersamaku.
Ternyata Anak Banyak Belajar dari Apa yang Dilihat
Kadang kita berpikir bahwa pelajaran dari orang tua harus selalu berupa nasihat panjang.
Harus ada kalimat seperti, “Kalau kamu melihat sesuatu yang membahayakan orang lain, kamu harus membantu.”
Padahal mungkin tidak selalu begitu.
Ada pelajaran yang justru disampaikan tanpa kata-kata.
Lewat kebiasaan.
Lewat tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya terekam begitu saja di kepala anak.
Dan kemarin pagi, aku baru sadar bahwa salah satu kebiasaan kecil Bapak ternyata masih aku bawa sampai sekarang.
Ketika melihat dahan di tengah jalan, aku tidak terlalu banyak berpikir. Rasanya seperti ada sesuatu yang otomatis mengatakan, “Singkirkan saja, nanti bahaya.”
Persis seperti yang dulu sering dilakukan Bapak.
Hal Kecil, Tapi Rasanya Besar
Dahan itu mungkin hanya satu dahan.
Menyingkirkannya juga mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik.
Tidak ada yang tahu siapa yang memindahkannya. Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang memberikan penghargaan.
Dan memang tidak perlu.
Aku hanya merasa bahagia karena ternyata pelajaran kecil yang pernah dicontohkan Bapak masih melekat dalam diriku.
Mungkin beginilah cara nilai-nilai dari orang tua diwariskan.
Bukan selalu melalui sesuatu yang besar.
Kadang hanya lewat hal sederhana yang dilakukan berkali-kali.
Kemudian bertahun-tahun setelahnya, tanpa sadar, anaknya melakukan hal yang sama.
Dan mungkin, inilah salah satu bentuk kecil dari keberhasilan orang tua dalam mendidik anak.
Bukan ketika anak bisa mengulang semua nasihatnya.
Tetapi ketika suatu hari anak melakukan kebaikan yang dulu pernah ia lihat dari orang tuanya—bahkan tanpa harus diingatkan.
Terima kasih, Pak.
Untuk semua contoh kecil yang mungkin dulu terlihat biasa saja.
Ternyata, ada beberapa di antaranya yang masih aku bawa sampai hari ini.
Dan semoga, kebiasaan kecil itu tidak berhenti di aku.
Semoga setiap hal baik yang pernah Bapak contohkan bisa terus aku lakukan, sekecil apa pun bentuknya, dan kalau memungkinkan, bisa ikut bermanfaat untuk orang lain juga.
Karena ternyata, hal-hal kecil yang dilakukan orang tua bisa tumbuh menjadi kebiasaan baik di dalam diri anak.
