Ada kalanya membuka media sosial bukan lagi soal mencari hiburan, melihat kabar teman, atau sekadar mengisi waktu luang. Justru, semakin sering membuka media sosial, semakin sering pula dibuat mengelus dada.
Belum selesai mencerna satu berita, sudah muncul berita lain yang tak kalah membuat geleng-geleng kepala. Ada kabar tentang bencana, persoalan masyarakat yang tak kunjung selesai, kebijakan yang mengundang pertanyaan, sampai ucapan-ucapan yang rasanya sulit dipercaya keluar dari mulut seseorang yang menduduki posisi penting di negeri ini.
Kadang saya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Di tengah masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan, kita berharap para pemimpin bisa memberikan ketenangan, menunjukkan empati, dan setidaknya berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu. Sebab, menjadi seorang pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan atau kekuasaan. Ada tanggung jawab besar yang melekat pada setiap perkataan dan keputusan yang dibuat.
Sayangnya, ada saja ucapan yang justru menambah kekecewaan. Kata-kata yang seharusnya dipikirkan matang-matang sebelum disampaikan ke publik, malah terdengar begitu mudah keluar. Padahal, bagi masyarakat yang mendengarnya, sebuah ucapan bukan selalu sekadar rangkaian kata. Ada perasaan yang bisa terluka, ada kepercayaan yang bisa terkikis, dan ada jarak yang semakin lebar antara mereka yang memimpin dan mereka yang dipimpin.
Saya memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai harapan. Memimpin sebuah negara tentu bukan pekerjaan sederhana. Ada banyak persoalan yang harus diselesaikan, banyak kepentingan yang perlu dipertimbangkan, dan banyak keputusan yang tidak mudah diambil.
Namun, bukankah justru karena tanggung jawabnya besar, seorang pemimpin seharusnya semakin bijak dalam berbicara?
Masyarakat tidak selalu menuntut pemimpin yang sempurna. Kita tahu bahwa setiap manusia bisa salah, termasuk mereka yang memiliki jabatan tinggi. Akan tetapi, ketika kesalahan terjadi, yang diharapkan adalah kesediaan untuk mengakui, memperbaiki, dan belajar. Bukan malah menganggap kritik sebagai gangguan atau meremehkan keresahan yang disampaikan masyarakat.
Apalagi di zaman sekarang, ketika setiap ucapan bisa direkam, dipotong, disebarkan, dan dibicarakan oleh jutaan orang dalam hitungan menit. Media sosial membuat kita semakin mudah mengetahui apa yang terjadi, tetapi pada saat yang sama, kita juga semakin sering dihadapkan pada hal-hal yang menguras emosi.
Kadang saya ingin berhenti membaca berita sejenak. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena rasanya melelahkan jika setiap hari harus menyaksikan berbagai persoalan yang membuat hati sesak. Namun, menutup media sosial juga bukan berarti persoalan-persoalan itu berhenti terjadi.
Pada akhirnya, kita tetap membutuhkan informasi. Kita perlu tahu apa yang sedang berlangsung di sekitar kita, memahami kebijakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat, dan menyadari hal-hal yang memang patut menjadi perhatian bersama.
Mungkin yang perlu kita lakukan adalah belajar menyaring informasi tanpa kehilangan kepedulian. Tidak semua berita harus ditanggapi dengan kemarahan, tetapi bukan berarti semuanya juga perlu diterima begitu saja. Kita tetap perlu berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan berani mempertanyakan sesuatu yang memang layak dipertanyakan.
Sebab, menjadi masyarakat yang kritis bukan berarti selalu mencari kesalahan. Terkadang, kritik justru lahir dari harapan bahwa keadaan bisa menjadi lebih baik.
Saya masih ingin percaya bahwa jabatan seharusnya membuat seseorang semakin berhati-hati, bukan semakin bebas berbicara tanpa memikirkan dampaknya. Bahwa kekuasaan seharusnya membuat seseorang semakin peka terhadap keadaan, bukan semakin jauh dari kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Dan bahwa seorang pemimpin semestinya memahami satu hal sederhana: tidak semua yang bisa diucapkan perlu diucapkan, dan tidak semua yang ingin disampaikan pantas disampaikan dengan cara apa pun.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga kepercayaan.
Jadi, kalau akhir-akhir ini saya lebih sering mengelus dada setiap membuka media sosial, sepertinya saya tidak sendirian. Ada banyak orang yang mungkin merasakan hal serupa, membaca berita dengan perasaan campur aduk, lalu bertanya-tanya dalam hati, kok bisa, ya?
Semoga suatu hari nanti, membuka media sosial kembali terasa seperti mencari informasi, bukan seperti sedang mempersiapkan diri untuk menerima kekecewaan berikutnya.
Karena sejujurnya, kita sudah cukup lelah menghadapi berbagai persoalan hidup. Rasanya tidak berlebihan jika kita berharap mereka yang diberi amanah untuk memimpin bisa sedikit lebih bijak dalam bersikap, lebih hati-hati dalam berbicara, dan lebih peka terhadap perasaan masyarakat.
Sebab, yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang pandai berbicara, melainkan pemimpin yang memahami kapan harus berbicara, apa yang pantas disampaikan, dan bagaimana kata-katanya bisa berdampak pada orang banyak.