Kalau ditanya kenapa hampir setiap hari membawa bekal ke kantor, jawabannya bukan cuma karena ingin menghemat pengeluaran. Ada alasan yang lebih sederhana: memang sudah disiapkan makanan di rumah.
Di rumah, Bapak, Ibu, dan Adik juga membawa bekal masing-masing. Jadi, kalau semuanya membawa bekal, rasanya aneh kalau aku justru berangkat kerja tanpa membawa apa-apa. Sudah seperti tradisi keluarga saja.
Sebenarnya, kebiasaan ini sudah ada sejak aku masih sekolah. Dari zaman sekolah dasar sampai masa-masa sekolah berikutnya, aku terbiasa dibawakan bekal oleh Ibu ntah itu nasi dengan lauk yang lengkap atau sekadar roti dengan buah. Jadi, membawa bekal bukan sesuatu yang baru kulakukan setelah bekerja, melainkan kebiasaan yang sudah terbentuk sejak kecil.
Mungkin karena sudah terbiasa, ketika tidak membawa bekal, rasanya ada yang kurang. Seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal, padahal barang-barang lain sudah lengkap dibawa.
Selain lebih hemat, membawa bekal juga membuatku tahu apa yang kumakan. Setidaknya, aku tahu bagaimana makanan itu dimasak, bahan-bahan apa yang digunakan, dan bagaimana prosesnya sebelum sampai ke kotak makan.
Apalagi kalau yang memasak adalah Ibu sendiri. Rasanya lebih tenang karena tahu masakannya dibuat dari bahan-bahan yang biasa digunakan di rumah, tanpa perlu khawatir dengan tambahan bahan yang tidak diketahui. Bukan berarti makanan di luar selalu tidak sehat, tetapi kalau bisa menikmati masakan rumah sendiri, kenapa tidak?
Ada kepuasan tersendiri ketika membuka kotak bekal saat jam makan siang. Menu yang dibawa mungkin sederhana, kadang juga menu yang sudah sering dimakan di rumah. Namun, justru makanan seperti itulah yang terasa akrab.
Kalau dipikir-pikir, membawa bekal memang punya banyak keuntungan. Pengeluaran untuk makan siang bisa lebih ditekan, tidak perlu bingung mencari tempat makan, dan bisa menikmati masakan rumah. Belum lagi kalau satu keluarga sama-sama membawa bekal, semuanya jadi terasa lebih praktis.
Namun, di balik semua keuntungan itu, ada satu hal yang mungkin sering luput disadari: bekal yang dibawa setiap hari adalah salah satu bentuk perhatian kecil dari rumah.
Mungkin bagi Ibu, menyiapkan makanan sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Bagi kami yang membawanya, makanan itu menjadi bekal untuk menjalani aktivitas di luar rumah. Hal sederhana yang dilakukan berulang kali, tetapi manfaatnya terasa sampai ke tempat kerja.
Sampai sekarang, aku belum merasa perlu mengubah kebiasaan ini. Selama masih bisa membawa bekal dari rumah, rasanya tidak ada alasan untuk sengaja meninggalkannya.
Lagipula, selain bisa lebih hemat, bisa makan masakan Ibu setiap hari juga termasuk keuntungan yang tidak selalu dimiliki semua orang.
Jadi, kalau suatu hari melihatku membawa kotak makan ke kantor, ya memang begitu kebiasaannya. Bukan sedang ikut tren hidup hemat, bukan pula sedang menjalani program tertentu. Aku hanya meneruskan kebiasaan sejak kecil, ditambah ada Ibu yang masih rajin memasak untuk keluarga.
Ternyata, kebiasaan sederhana yang dimulai sejak kecil bisa terus terbawa sampai dewasa. Dan kali ini, kebiasaan itu bukan cuma soal membawa makanan, tetapi juga tentang menikmati hal sederhana yang sudah disiapkan dari rumah.