Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • October
  • 5
  • Kosongkan Gelas, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Isinya

Kosongkan Gelas, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Isinya

Posted on October 5, 2026 By asrisahnrd_ No Comments on Kosongkan Gelas, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Isinya
Uncategorized

Senin. Hari ketika akhir pekan resmi selesai dan rutinitas bekerja kembali seperti biasa.

Sebelum mulai mengecek email yang masuk, menghitung penawaran, dan melakukan berbagai follow-up lainnya, ada satu rutinitas yang selalu dilakukan: briefing pagi.

Di briefing tadi, Kang Asep sharing pengalamannya ketika mengunjungi salah satu toko optik atau toko kacamata di Bandung. Dari ceritanya, ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya, yaitu tentang bagaimana toko tersebut memberikan pelayanan kepada customer.

Kalau harus dirangkum, mungkin ada dua kata yang terlintas di kepala saya: pelayanan excellent.

Bukan Excellent dalam konteks nama kantor saya, tentu saja. Tapi excellent dalam arti sebenarnya sebagai kata sifat—pelayanan yang luar biasa, dari awal customer datang sampai kebutuhannya benar-benar terpenuhi.

Dari cara melayani, memahami kebutuhan, sampai memastikan customer mendapatkan pengalaman yang baik.

Tapi bukan bagian itu yang paling lama menjadi perhatian saya.

Justru sebuah kalimat sederhana:

“Kosongkan dulu gelasnya.”

Saya pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.

Gelas sering kali dipakai sebagai gambaran ketika seseorang ingin belajar. Kalau kita ingin menerima sesuatu yang baru dari orang lain, kita perlu mengosongkan gelas yang kita punya terlebih dahulu.

Artinya, kita perlu memberikan ruang untuk menerima.

Karena kadang-kadang kita datang dengan gelas yang sudah penuh. Kita ingin belajar dari seseorang, tetapi setiap hal yang disampaikan langsung kita bandingkan dengan apa yang sudah kita yakini. Ketika ada sesuatu yang berbeda, kita buru-buru mencari alasan, membantah, atau merasa bahwa cara kita sebelumnya lebih benar.

Akhirnya, tidak ada ruang untuk sesuatu yang baru.

Saya setuju dengan makna “kosongkan gelas” tersebut. Dalam belajar, memang dibutuhkan sikap legowo. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa kita belum tahu, belum paham, atau mungkin selama ini melihat sesuatu dari sudut pandang yang terlalu sempit.

Tapi kemudian saya berpikir lagi.

Apakah gelas itu benar-benar harus kosong?

Menurut saya, tidak juga.

Bagi saya, gelas tetap boleh memiliki isi.

Isi tersebut adalah sari-sari dari pengalaman dan pembelajaran yang sudah kita dapatkan sebelumnya. Bukan untuk membuat kita merasa paling benar, tetapi untuk menjadi bekal ketika menerima sesuatu yang baru.

Jadi, mungkin bukan benar-benar mengosongkan gelas, tetapi menyisakan ruang di dalam gelas.

Ruang untuk mendengarkan.

Ruang untuk mempertimbangkan.

Ruang untuk mengakui bahwa ada kemungkinan kita salah.

Dan ruang untuk menerima sesuatu yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya.

Dengan begitu, pelajaran baru tidak serta-merta kita terima mentah-mentah, tetapi juga tidak langsung kita tolak hanya karena berbeda dengan apa yang selama ini kita percaya.

Kita punya pengalaman untuk menyaringnya.

Kita punya pengetahuan sebelumnya untuk membandingkannya.

Dan kita punya keterbukaan untuk mengambil bagian yang memang bisa membuat kita bertumbuh.

Mungkin seperti itulah proses belajar yang sebenarnya.

Gelas kita tidak pernah benar-benar kosong. Isinya akan terus bertambah seiring perjalanan hidup. Hanya saja, semakin banyak yang kita pelajari, seharusnya semakin sadar juga bahwa masih banyak hal yang belum kita tahu.

Dan mungkin, semakin dewasa kita belajar, bukan tentang membuat gelas menjadi penuh.

Tapi tentang tahu kapan harus menyisakan ruang untuk sesuatu yang baru.

Post navigation

❮ Previous Post: Hadiah Ulang Tahun Itu Bukan Soal Harganya
Next Post: Menjadi Dewasa Isinya Banyak ❯

You may also like

Uncategorized
Ketika Masa Kecil Tanpa Sadar Mengajarkan Public Speaking
June 12, 2026
Uncategorized
Dewasa Itu Bukan Tentang Menang, Tapi Tentang Memilih Mana yang Layak Dipikirkan
July 6, 2026
Uncategorized
Refleksi dari Sosialisasi DPLK
February 13, 2026
Uncategorized
Ketika Nasionalisme Tidak Hitam Putih
February 25, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jajanan Kecil dan Perhatian Besar
  • Rasanya Seperti Masuk ke Film: Kunjungan ke Data Center
  • Di Balik Ulang Tahun Excellent ke-15: Antara Cuan & Deadline
  • Kunjungan ke Lemhannas: Pengalaman yang Berbeda dari Biasanya
  • Cuaca yang Datang dan Pergi Sesukanya

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  2. Ananda Kallila on Ternyata, yang Paling Berkesan Bukan Destinasinya
  3. asrisahnrd_ on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  4. Ahmad on Telepon dari Brunei di Tengah Kesibukan Kantor
  5. asrisahnrd_ on Berbuat Baik Itu Wajib, Tapi Bukan Berarti Tanpa Batas

Archives

  • October 2026
  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by