Senin. Hari ketika akhir pekan resmi selesai dan rutinitas bekerja kembali seperti biasa.
Sebelum mulai mengecek email yang masuk, menghitung penawaran, dan melakukan berbagai follow-up lainnya, ada satu rutinitas yang selalu dilakukan: briefing pagi.
Di briefing tadi, Kang Asep sharing pengalamannya ketika mengunjungi salah satu toko optik atau toko kacamata di Bandung. Dari ceritanya, ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya, yaitu tentang bagaimana toko tersebut memberikan pelayanan kepada customer.
Kalau harus dirangkum, mungkin ada dua kata yang terlintas di kepala saya: pelayanan excellent.
Bukan Excellent dalam konteks nama kantor saya, tentu saja. Tapi excellent dalam arti sebenarnya sebagai kata sifat—pelayanan yang luar biasa, dari awal customer datang sampai kebutuhannya benar-benar terpenuhi.
Dari cara melayani, memahami kebutuhan, sampai memastikan customer mendapatkan pengalaman yang baik.
Tapi bukan bagian itu yang paling lama menjadi perhatian saya.
Justru sebuah kalimat sederhana:
“Kosongkan dulu gelasnya.”
Saya pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.
Gelas sering kali dipakai sebagai gambaran ketika seseorang ingin belajar. Kalau kita ingin menerima sesuatu yang baru dari orang lain, kita perlu mengosongkan gelas yang kita punya terlebih dahulu.
Artinya, kita perlu memberikan ruang untuk menerima.
Karena kadang-kadang kita datang dengan gelas yang sudah penuh. Kita ingin belajar dari seseorang, tetapi setiap hal yang disampaikan langsung kita bandingkan dengan apa yang sudah kita yakini. Ketika ada sesuatu yang berbeda, kita buru-buru mencari alasan, membantah, atau merasa bahwa cara kita sebelumnya lebih benar.
Akhirnya, tidak ada ruang untuk sesuatu yang baru.
Saya setuju dengan makna “kosongkan gelas” tersebut. Dalam belajar, memang dibutuhkan sikap legowo. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa kita belum tahu, belum paham, atau mungkin selama ini melihat sesuatu dari sudut pandang yang terlalu sempit.
Tapi kemudian saya berpikir lagi.
Apakah gelas itu benar-benar harus kosong?
Menurut saya, tidak juga.
Bagi saya, gelas tetap boleh memiliki isi.
Isi tersebut adalah sari-sari dari pengalaman dan pembelajaran yang sudah kita dapatkan sebelumnya. Bukan untuk membuat kita merasa paling benar, tetapi untuk menjadi bekal ketika menerima sesuatu yang baru.
Jadi, mungkin bukan benar-benar mengosongkan gelas, tetapi menyisakan ruang di dalam gelas.
Ruang untuk mendengarkan.
Ruang untuk mempertimbangkan.
Ruang untuk mengakui bahwa ada kemungkinan kita salah.
Dan ruang untuk menerima sesuatu yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya.
Dengan begitu, pelajaran baru tidak serta-merta kita terima mentah-mentah, tetapi juga tidak langsung kita tolak hanya karena berbeda dengan apa yang selama ini kita percaya.
Kita punya pengalaman untuk menyaringnya.
Kita punya pengetahuan sebelumnya untuk membandingkannya.
Dan kita punya keterbukaan untuk mengambil bagian yang memang bisa membuat kita bertumbuh.
Mungkin seperti itulah proses belajar yang sebenarnya.
Gelas kita tidak pernah benar-benar kosong. Isinya akan terus bertambah seiring perjalanan hidup. Hanya saja, semakin banyak yang kita pelajari, seharusnya semakin sadar juga bahwa masih banyak hal yang belum kita tahu.
Dan mungkin, semakin dewasa kita belajar, bukan tentang membuat gelas menjadi penuh.
Tapi tentang tahu kapan harus menyisakan ruang untuk sesuatu yang baru.