Ada hari-hari tertentu ketika aku ingin diam saja.
Bukan karena sedang sedih atau karena sedang marah, kecewa, atau merasa hampa. Mood-ku baik-baik saja. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Aku masih bisa bekerja, makan, bercanda, bahkan sesekali tertawa.
Tapi entah kenapa, rasanya ingin diam.
Tidak ingin banyak bicara. Tidak ingin menjelaskan sesuatu. Tidak ingin memulai percakapan kalau memang tidak perlu. Bahkan melakukan aktivitas sehari-hari pun rasanya lebih nyaman dalam keadaan tenang, tanpa banyak suara.
Awalnya aku kira ini aneh.
Sampai suatu hari aku penasaran sendiri dan mulai searching, “Kenapa ya kadang kita ingin diam saja padahal sebenarnya baik-baik saja?”
Ternyata, keinginan untuk diam seperti itu bukan sesuatu yang aneh.
Aku menemukan tulisan dari The Positive Psychology People tentang The Power of Silence. Di sana dibahas bahwa diam bukan sekadar tidak adanya suara. Keheningan juga bisa menjadi ruang untuk refleksi, meningkatkan kesadaran diri, fokus, dan memberi kesempatan untuk berhadapan dengan pikiran sendiri.
Dan ternyata, secara sederhana, otak kita memang punya kondisi ketika perhatian tidak sedang diarahkan secara intens ke dunia luar.
Namanya Default Mode Network (DMN).
DMN banyak dikaitkan dengan aktivitas seperti mengingat pengalaman pribadi, berpikir tentang diri sendiri, membayangkan masa depan, mind-wandering, dan membangun semacam cerita internal tentang diri kita.
Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa ketika kita berada dalam keadaan istirahat dan pikiran berjalan secara spontan, aktivitas DMN berkaitan dengan proses pengaktifan kembali memori yang dapat membantu konsolidasi ingatan. Penelitian lain juga terus melihat hubungannya dengan kreativitas dan pemrosesan emosi.
Jadi mungkin, ketika dari luar kelihatannya aku cuma diam, sebenarnya ada banyak hal yang sedang terjadi di dalam kepala.
Mengulang kejadian hari ini.
Mengingat percakapan yang tadi terjadi.
Memikirkan sesuatu yang bahkan belum sempat aku sadari.
Atau mungkin cuma memberi kesempatan kepada otak untuk berhenti menerima terlalu banyak hal dari luar.
Aku suka dengan gagasan bahwa diam tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah.
Kadang diam ya memang cuma diam.
Tidak semua keheningan harus diisi dengan percakapan. Tidak setiap waktu luang harus diisi dengan scrolling. Tidak setiap perubahan mood harus dicari penyebabnya sampai ketemu.
Ada kalanya kita hanya butuh sedikit ruang untuk tidak melakukan apa-apa.
Duduk.
Mengerjakan sesuatu tanpa banyak bicara.
Menikmati perjalanan tanpa harus terus mendengarkan sesuatu.
Atau sekadar berada di kamar dan membiarkan pikiran berjalan sendiri.
Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa dengan kebisingan. Notifikasi, pekerjaan, percakapan, media sosial, musik, video, dan berbagai hal yang membuat otak terus menerima stimulasi.
Sampai ketika suasana tiba-tiba sunyi, kita malah bertanya, “Kok aku begini?”
Padahal mungkin tubuh dan pikiran kita sedang meminta sesuatu yang sederhana:
“Boleh nggak, hari ini kita diam sebentar?”
Dan sepertinya, tidak apa-apa.
Selama diamnya bukan karena sedang memendam sesuatu yang membuat kita semakin terpuruk, tidak ada salahnya menikmati hari dengan sedikit lebih sedikit suara.
Karena ternyata, diam pun bisa menjadi bentuk istirahat. Bukan berarti menjauh dari dunia.
Mungkin hanya sedang kembali sebentar kepada diri sendiri.
