Kadang, hal kecil yang aku anggap sepele justru jadi pengingat yang cukup “nampol”.
Beberapa hari ini, badan rasanya kurang enak. Awalnya cuma tenggorokan sedikit gak nyaman, lalu berlanjut jadi flu yang lumayan mengganggu. Hidung tersumbat, kepala berat, dan energi rasanya turun jauh. Awalnya aku kurang enak badan karena munculnya “tamu” bulanan yang membuat badan ku nyeri semuanya.
Tapi hari ini flu ku sepertinya makin parah, bersin tiada henti dan hidung yang harus aku posisikan bolak balik ke atas agar tidak “meler” hehe. Penyebabnya simple, karena aku teledor, meminum segelas es teh dari makan siang jum’at.
Saat itu, rasanya segar. Apalagi di tengah cuaca yang cukup panas, es teh seperti jadi “penyelamat”. Tapi ternyata, tubuh punya ceritanya sendiri. Bukannya membaik, malah jadi semakin drop.
Dari situ aku mulai berpikir—kenapa ya aku sering mengabaikan sinyal kecil dari tubuh? Padahal, tubuh itu sebenarnya sudah “bicara”. Tenggorokan yang mulai kering, badan yang mulai lelah, itu semua tanda untuk lebih hati-hati. Tapi seringkali kita tetap memilih kenyamanan sesaat.
Refleksi kecil ini mengingatkanku bahwa menjaga kesehatan itu bukan soal keputusan besar saja, tapi juga pilihan-pilihan kecil sehari-hari. Seperti memilih minuman, istirahat yang cukup, atau sekadar mendengarkan kondisi tubuh sendiri.
Mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya nyata.
Sekarang, di tengah flu yang masih terasa, aku jadi lebih belajar untuk tidak memaksakan diri. Lebih memperhatikan apa yang masuk ke tubuh, dan lebih “nurut” sama kondisi diri sendiri.
Karena pada akhirnya, tubuh ini bukan mesin yang bisa dipaksa terus-menerus. Ada batasnya. Dan tugas kita bukan hanya menjalani aktivitas, tapi juga menjaga keseimbangan.
Dan ya, mungkin lain kali… aku akan berpikir dua kali sebelum memilih segelas es teh
Leave a Reply