Mengelola nafsu makan itu sebenarnya hal yang mudah. Kalau lapar, ya makan. Kalau sudah kenyang, ya berhenti.
Tapi kalau sudah berhubungan dengan nafsu jajan, ceritanya beda.
Ini sulitnya minta ampun.
Apalagi kalau sudah muncul sugesti:
“Pulang kerja mampir beli sesuatu untuk orang dirumah.”
Padahal sebenarnya tidak ada yang minta.
Tidak ada yang titip.
Tidak ada yang menunggu.
Tapi entah kenapa tangan ini sudah belok sendiri ke tempat jajanan.
Awalnya memang niatnya baik. Mau membawakan sesuatu untuk orang rumah. Tapi begitu sampai rumah, yang paling semangat membuka bungkusnya siapa?
Aku.
Yang bilang, “cuma mau coba sedikit” siapa?
Aku juga.
Dan ujung-ujungnya, orang rumah cuma kebagian bungkusnya.
Kadang saya merasa tantangan terbesar bukan mengontrol rasa lapar, tapi membedakan antara “aku lapar” dan “aku cuma pengin jajan.”
Karena keduanya rasanya hampir sama, terutama ketika lewat tempat makan yang aromanya sudah menyerang dari kejauhan.
Sekarang saya mulai kembali ke setelan awal, seperti Asri yang dulu menjadi anak kos, iritnya bukan main, beli sayur di warteg 5 ribu bisa untuk lauk makan sehari. Kalau pulang kerja ingin mampir, saya coba tanya dulu ke diri sendiri:
“Ini benar-benar butuh makan, atau cuma butuh sesuatu untuk ngunyah hehe?”
Kalau jawabannya yang kedua, ya… biasanya tetap beli juga.
Namanya juga belajar mengelola nafsu jajan. Tidak harus langsung berhenti total. Yang penting mulai sadar bahwa tidak semua makanan yang terlihat harus dibawa pulang.
Walaupun kadang…
tetap dibawa pulang juga.