Besok hari Sabtu.
Hari yang bagi sebagian besar karyawan mungkin terdengar seperti sebuah kalimat penuh harapan:
“Besok libur.”
Hari di mana alarm bisa dimatikan. Hari di mana kita boleh bangun agak siang tanpa merasa bersalah. Hari di mana kasur terasa jauh lebih nyaman, selimut terasa lebih hangat, dan aktivitas paling produktif mungkin adalah… rebahan sambil scroll TikTok.
Setidaknya, itu adalah bayangan ideal tentang hari Sabtu.
Dan yap, aku adalah salah satu karyawan yang punya harapan seperti itu.
Sayangnya, harapan tersebut sepertinya harus ditunda dulu karena besok aku punya dua kegiatan dari pagi sampai malam.
Pagi: Akad dan Resepsi Tetangga
Besok pagi-pagi sekali, aku harus menghadiri acara pernikahan tetanggaku. Sebut saja namanya Kak F.
Sebenarnya aku sudah cukup familiar dengan rangkaian acara pernikahan Kak F karena beberapa waktu lalu, ketika acara lamaran, aku juga dipercaya untuk menjadi MC.
Untungnya acara lamaran berjalan lancar.
Dan besok akhirnya sampai juga di hari H.
Bedanya, kali ini aku tidak menjadi MC. Aku dipercaya untuk menjadi sari tilawah saat akad nikah.
Kemungkinan aku akan berada di lokasi acara sejak pagi sampai siang. Setelah itu, rencananya langsung pulang untuk istirahat.
Karena…
Malamnya masih ada acara lagi.
Malam: Jadi MC Lagi
Belum benar-benar selesai dengan segala euforia pernikahan, malam harinya aku harus kembali menjalankan tugas sebagai MC.
Kali ini bukan acara keluarga, melainkan malam puncak peringatan HUT RI di lingkungan RW.
Dan kalau melihat rundown-nya…
Hmm.
Sepertinya ini bukan acara kecil-kecilan yang bisa MC-nya cuma bilang,
“Selanjutnya acara sambutan. Kepada Bapak X dipersilakan.”
Selesai.
Karena di acara tersebut akan hadir Pak Camat, Pak Lurah, dan kalau aku tidak salah lihat di rundown, ada juga beberapa anggota dewan.
Tapi sebenarnya ada satu persoalan yang serius daripada menjadi MC di depan Pak Camat.
AKU HARUS PAKAI BAJU APA?! HEHEHEHE
Dilema Abadi Perempuan: “Aku Nggak Punya Baju”
Nah, ini dia.
Sebuah permasalahan klasik yang mungkin dialami hampir semua perempuan.
Buka lemari.
Penuh.
Baju tergantung di mana-mana.
Ada warna hitam, putih, cokelat, cream, navy, sage, dusty pink, dan entah warna apa lagi yang sebenarnya kalau dilihat sekilas semuanya terlihat sama.
Tapi tetap saja kita bisa berkata:
“Aku nggak punya baju.”
Kemudian mulai mencari alasan.
“Yang ini udah pernah dipakai.”
“Yang itu udah pernah diposting.”
“Yang ini kurang cocok buat acaranya.”
“Yang itu udah masuk keranjang laundry.”
“Yang satunya lagi kayaknya udah pernah dipakai ketemu orang itu.”
Dan akhirnya…
Buka marketplace.
Scroll.
Lihat baju.
Masuk keranjang.
Checkout.
Padahal lima menit sebelumnya baru saja berkata:
“Aku harus hemat.”
HAHAHAHA.
Dulu aku juga seperti itu.
Aku merasa setiap ada kegiatan penting, aku harus punya pakaian yang berbeda.
Takut terlihat itu-itu saja.
Takut dianggap tidak punya banyak pakaian.
Takut kalau orang lain memperhatikan.
Takut kalau ada yang berpikir,
“Loh, bukannya dia pakai baju itu waktu acara kemarin?”
Padahal…
Emang kenapa?
Semakin Dewasa, Semakin Banyak yang Tidak Perlu Dipikirkan
Seiring bertambahnya usia, ternyata banyak hal yang berubah.
Bukan hanya umur yang bertambah, tapi cara melihat sesuatu juga perlahan berubah.
Dulu aku mungkin berpikir bahwa memiliki banyak pakaian akan membuatku lebih bahagia.
Sekarang aku justru merasa, memiliki terlalu banyak pilihan kadang malah membuat kepala lebih penuh.
Dulu aku merasa harus membeli sesuatu karena sedang tren.
Sekarang aku mulai bertanya:
“Aku benar-benar butuh atau cuma sedang ingin?”
Dulu aku ingin terlihat menarik di mata banyak orang.
Sekarang aku mulai berpikir:
“Memangnya mereka mikirin aku selama itu?”
Jawabannya kemungkinan besar:
Tidak.
Orang lain sibuk dengan hidupnya masing-masing.
Dan lucunya, kita sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan penilaian orang yang bahkan mungkin tidak memperhatikan kita.
Aku juga jadi teringat sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan Emma Watson:
“Mengenakan pakaian murah dan tanpa merek bukan berarti kamu miskin. Ingatlah bahwa kamu memiliki keluarga yang harus diberi makan, bukan sekelompok orang yang harus dibuat terkesan.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tapi semakin dewasa, aku semakin memahami maksudnya.
Bukan berarti kita tidak boleh membeli pakaian bagus.
Bukan berarti kita harus berhenti memperhatikan penampilan.
Dan bukan berarti menggunakan barang bermerek adalah sesuatu yang salah.
Sama sekali bukan.
Tapi yang perlu dipikirkan adalah:
Apakah aku membeli karena memang membutuhkan, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?
Karena kalau alasannya adalah ingin membuat orang lain terkesan, rasanya tidak akan pernah selesai.
Hari ini beli satu.
Besok lihat yang baru.
Lalu merasa kurang.
Kemudian beli lagi.
Begitu terus.
Padahal uang yang sama sebenarnya bisa dialokasikan untuk sesuatu yang jauh lebih berarti.
Ternyata Bertumbuh Itu Bukan Cuma Soal Umur
Semakin bertambah usia, aku merasa semakin banyak pola pikir yang berubah.
Bukan karena tiba-tiba menjadi lebih bijaksana.
Tapi karena pengalaman perlahan mengajarkan.
Belajar dari kesalahan.
Belajar dari keputusan-keputusan yang pernah diambil.
Belajar dari bertemu orang-orang baru.
Belajar dari masuk ke lingkungan yang berbeda.
Dan yang paling penting, belajar bahwa tidak semua hal harus kita ikuti hanya karena orang lain melakukannya.
Dulu mungkin aku mudah terbawa tren.
Sekarang aku mulai belajar punya pendirian.
Kalau memang suka, silakan.
Kalau memang butuh, beli.
Kalau memang mampu, tidak masalah.
Tapi kalau hanya karena takut ketinggalan?
Mungkin tidak perlu.
Karena hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling update.
Dan kita tidak harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.
Kadang, menjadi cukup untuk diri sendiri jauh lebih menenangkan.
Jadi, Besok Pakai Baju Apa?
Kembali ke persoalan awal.
Besok aku pakai baju apa?
Jawabannya belum tahu. 😭
Tapi yang jelas, aku tidak akan menjadikan dua acara dalam satu hari sebagai alasan untuk membeli dua baju baru.
Aku akan bongkar lemari.
Memilih yang masih layak.
Memadupadankan dengan yang sudah ada.
Dan kalau ternyata harus memakai pakaian yang pernah dipakai sebelumnya…
Ya sudah.
Tidak ada masalah.
Toh, bajunya belum berubah menjadi barang terlarang hanya karena sudah pernah dipakai ke acara lain.
Yang penting bersih, rapi, sopan, nyaman, dan sesuai dengan acaranya.
Besok pagi menjadi sari tilawah.
Malam menjadi MC.
Siang?
Semoga bisa tidur.
Karena setelah seharian beraktivitas, sepertinya yang paling aku butuhkan bukan baju baru.
Tapi kasur.
Dan semoga ketika membuka lemari nanti aku tidak kembali berkata:
“Aku nggak punya baju.”