Ada satu novel yang sampai sekarang masih menjadi salah satu penghuni daftar bacaan saya: Kami Bukan Sarjana Kertas karya J.S. Khairen.
Dan lucunya, novel ini sudah saya baca hampir berbulan-bulan, tetapi belum selesai juga. π
Entah memang karena saya yang kalau membaca novel membutuhkan waktu cukup lama, atau mungkin karena di awal cerita saya merasa alurnya masih cukup ke mana-mana. Saya belum benar-benar bisa melihat dengan jelas sebenarnya cerita ini ingin membawa saya ke mana.
Jadi, bukannya tidak menarik.
Saya hanya belum menemukan alasan untuk terus-terusan penasaran di bagian awalnya.
Akhirnya pola bacanya pun seperti biasa: baca beberapa halaman, berhenti, lanjut lagi beberapa hari kemudian, berhenti lagi. Tahu-tahu sudah berbulan-bulan dan bukunya masih belum tamat.
Pembaca macam apa saya ini? π
Tapi belakangan ini saya mulai melanjutkannya lagi.
Dan sekarang saya sudah hampir sampai di bagian akhir.
Menariknya, semakin mendekati akhir, saya mulai merasa bahwa cerita yang sebelumnya terasa cukup ke mana-mana itu perlahan mulai menemukan bentuknya. Ada makna yang mulai terlihat lebih jelas, terutama tentang bagaimana seseorang memandang kesuksesan setelah melewati dunia perkuliahan.
Ternyata IPK bukan satu-satunya ukuran
Salah satu hal yang cukup membuat saya berpikir dari novel ini adalah tentang bagaimana kita sering kali menghubungkan keberhasilan seseorang dengan sesuatu yang bisa diukur.
Salah satunya tentu saja IPK.
Selama kuliah, IPK terasa seperti angka yang cukup penting.
IPK bagus rasanya membanggakan.
IPK turun sedikit mulai panik.
Dapat nilai bagus senang.
Dapat nilai jelek mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri.
Seolah-olah angka tersebut bisa menjadi gambaran seberapa berhasilnya kita sebagai mahasiswa.
Padahal setelah mulai memasuki dunia kerja, saya perlahan menyadari bahwa kehidupan ternyata tidak sesederhana transkrip nilai.
Tidak ada yang akan bertanya setiap hari,
“IPK kamu berapa?”
Yang lebih sering ditanyakan justru:
“Bisa mengerjakan ini?”
“Bisa komunikasi dengan customer?”
“Bisa bekerja sama dengan tim?”
“Kalau ada masalah, kamu bisa menyelesaikannya?”
Dan ternyata, banyak hal seperti itu yang tidak pernah tercantum di lembar transkrip nilai.
Kuliah ternyata bukan cuma tentang nilai
Bukan berarti IPK tidak penting.
Menurut saya, IPK tetap menjadi salah satu bentuk pencapaian selama kuliah. Ia menunjukkan usaha, konsistensi, dan kemampuan kita dalam menyelesaikan tanggung jawab akademik.
Tetapi mungkin yang perlu diingat adalah:
IPK hanya salah satu bagian dari diri kita.
Ada banyak hal lain yang ikut menentukan bagaimana perjalanan seseorang setelah lulus.
Cara berkomunikasi.
Cara menyelesaikan masalah.
Kemampuan beradaptasi.
Kemampuan bekerja sama.
Keberanian mengambil keputusan.
Kemauan untuk belajar lagi ketika ternyata apa yang kita pelajari di bangku kuliah tidak sepenuhnya sama dengan kenyataan di dunia kerja.
Dan mungkin yang paling penting adalah kemampuan untuk terus berjalan meskipun kita belum tahu persis akan berakhir di mana.
Semakin dekat ke akhir, semakin terasa maknanya
Saya sendiri belum selesai membaca novel ini, jadi sebenarnya belum bisa memberikan kesimpulan secara utuh.
Tapi setidaknya sampai halaman yang sudah saya baca sekarang, saya mulai menangkap satu hal yang cukup relate:
kesuksesan seseorang tidak bisa hanya dilihat dari nilai IPK-nya selama kuliah.
Ada perjalanan yang jauh lebih panjang setelah seseorang mendapatkan gelar sarjana.
Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan impian.
Ada yang harus mencoba berkali-kali.
Ada yang kariernya berjalan sesuai rencana.
Ada juga yang justru menemukan jalan lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Dan mungkin memang begitu kehidupan.
Kita tidak pernah benar-benar tahu seperti apa hasil akhirnya hanya berdasarkan apa yang terlihat di awal.
Sama seperti novel ini.
Di awal saya sempat merasa, βIni sebenarnya mau ke mana, ya?β π
Tapi setelah membaca semakin jauh, perlahan saya mulai melihat benang merahnya.
Dan mungkin saya masih harus membaca beberapa halaman lagi untuk benar-benar memahami keseluruhan ceritanya.
Karena sampai tulisan ini dibuat, saya masih belum tamat. π
Tapi setidaknya, perjalanan membaca novel ini membuat saya kembali berpikir bahwa menjadi seorang sarjana ternyata bukan tentang memiliki selembar kertas dengan nilai yang bagus.
Kita bukan sekadar sarjana kertas.
Ada kehidupan yang harus dijalani setelahnya.
Dan mungkin, justru di situlah bagian paling menariknya baru dimulai.
