Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • August
  • 20
  • Dari “Tetangga Mau Nikah” Jadi “Kamu Kapan?”

Dari “Tetangga Mau Nikah” Jadi “Kamu Kapan?”

Posted on August 20, 2026 By asrisahnrd_ No Comments on Dari “Tetangga Mau Nikah” Jadi “Kamu Kapan?”
Uncategorized

Beberapa hari lalu aku dan keluarga pergi ke Karawang untuk menghadiri arisan keluarga.

Seperti biasa, kalau perjalanan bersama keluarga, rasanya hampir mustahil perjalanan berlangsung dalam keadaan hening. Selalu ada celetukan, gerutuan, komentar random, sampai obrolan spontan yang entah bagaimana bisa melebar ke mana-mana.

Kami juga lebih sering ngobrol daripada main HP masing-masing kalau sedang bepergian. Alasan romantisme nya adalah: menjunjung tinggi quality time.

Nggak lah tapi, Alasan utamanya: biar nggak mabok aja. HEHEHEHE.

Daripada main HP lima menit kemudian kepala pusing, lebih baik ngobrol.

Dan hari itu, obrolannya mengalir begitu saja sampai akhirnya…

target pembicaraannya adalah aku.

Awalnya kami membahas tetangga yang akan menikah setelah tujuh tahun menjalin hubungan. Dari cerita orang lain, tiba-tiba Bapak mulai menginterogasi—eh, bertanya dengan penuh kasih sayang—tentang hubunganku dengan pasangan yang sudah berjalan sekitar dua tahun.

Bagaimana hubungannya?

Sudah sejauh mana?

Ada rencana apa?

Bla bla bla.

Akhirnya aku menyampaikan semacam laporan perkembangan hubungan kepada Bapak dan Ibu. Lengkap. Rasanya seperti sedang presentasi laporan bulanan.

Aku menjelaskan perlahan bahwa aku juga tentu ingin menikah. Hanya saja, ada banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan, apalagi aku yang istilahnya karir baru dimulai.

Lalu adikku nyeletuk.

Dan di sinilah kobaran api dalam diriku mulai menyala. Elah lebay banget

“Jauh banget dah, udah nabung buat nikah aja, kayak jadi aja.”

DEPPP.

Menusuk sekali.

Minta dijambak.

Rasanya ingin menarik napas dalam-dalam sambil menggali kesabaran terdalam yang mungkin sudah tertimbun entah di mana.

Tapi akhirnya aku coba menjelaskan dengan tenang.

Aku ingin menikah. Tentu saja.

Entah nanti jodohnya dengan siapa, sudah diatur Yang Maha Kuasa. Tapi kalau ditanya keinginanku, tentu aku berharap bisa menikah dengan seseorang yang sudah dikenal, dengan hubungan yang sudah dijalani, dan yang keberadaannya juga sudah diketahui oleh keluarga.

Tapi menurutku, menikah bukan sekadar…

“Yaudah, nikah aja.”

Ada banyak hal di belakang kalimat sederhana itu.

Ada kesiapan mental, keluarga, kehidupan setelah menikah, tempat tinggal, pekerjaan, dan tentu saja biaya.

Karena biaya menikah itu bisa sangat di luar perkiraan.

Ketika mendengar adikku berkata seperti tadi, sebenarnya aku bisa memakluminya. Dia masih kuliah. Mungkin memang belum sampai pada fase berpikir, “Kalau nikah nanti katering berapa, tempatnya di mana, setelah nikah tinggal di mana, terus cicilan bagaimana?”

WKWKWK.

Nikmati saja dulu masa kuliahnya, Dek. Akupun juga masih menikmati masa muda berkarir, menabung itu memang harus, ntah nanti memang dipergunakan untuk menikah atau yang lainnya, yang penting aku ada tabungan dan gajiku tidak berhambur sia sia untuk yang tidak penting. Tidak perlu diambil pusing


Dari Obrolan Keluarga ke Obrolan Media Sosial

Percakapan di mobil itu ternyata membuatku memikirkan banyak hal. Apalagi belakangan ini media sosial juga sedang ramai dengan berbagai pendapat soal pernikahan.

Ada yang bilang yang penting sah di KUA, tidak perlu pesta besar.

Ada yang berpendapat perempuan sebenarnya tidak punya kewajiban menabung untuk biaya pernikahan.

Ada juga yang mempertanyakan kenapa pasangan harus terlalu memikirkan kebahagiaan tamu ketika resepsi.

Kurang lebih:

“Ini kan pernikahan kita. Kenapa kita harus mikirin menu makanan dan kebahagiaan para tamu?”

Wah.

Kalau sudah masuk media sosial, memang tidak pernah sesederhana itu.

Satu pendapat bisa dibalas sepuluh pendapat lain.

Dan jujur, aku justru tertarik melihatnya dari berbagai sisi.

Misalnya soal intimate wedding. Aku bisa memahami kenapa seseorang memilih menikah sederhana. Tidak semua orang ingin menghabiskan banyak uang untuk pesta.

Tapi di sisi lain, bagaimana dengan orang tua? Bagaimana dengan keluarga besar? Bagaimana kalau mereka punya harapan yang berbeda?

Begitu juga soal perempuan yang menabung untuk pernikahan. Apakah tidak wajib berarti tidak boleh? Kalau seorang perempuan ingin mempersiapkan tabungannya sendiri atau membantu pasangan, apakah itu menjadi sesuatu yang salah?

Kemudian soal tamu.

Memang benar, yang menjalani kehidupan setelah menikah adalah kita. Tapi kalau kita mengundang orang untuk datang ke acara kita, menurutku wajar juga kalau kita memikirkan kenyamanan mereka.

Bukan berarti harus mengadakan pesta mewah.

Tapi setidaknya jangan sampai tamu datang jauh-jauh, lalu pulang sambil berkata,

“Makanannya mana?”

Dan dari sinilah aku sadar, ternyata topik pernikahan itu banyak banget cabangnya.


Bukan Kode Mau Menikah Besok

Sebelum ada yang salah paham, aku menulis ini bukan sedang mengumumkan bahwa aku siap menikah.

Bukan.

Masih dalam proses, guys. 😂

Aku hanya sedang berada di fase ketika topik pernikahan mulai sering muncul di kepala. Entah karena usia, lingkungan, obrolan keluarga, atau algoritma media sosial yang sepertinya tahu sekali kalau aku sedang memikirkan hal ini.

Aku memang ingin menikah suatu hari nanti.

Tapi kapan dan bagaimana?

Ya, nanti.

Untuk sekarang, mungkin aku masih mau belajar, mempersiapkan diri, menabung, dan tentu saja…

menyiapkan mental menghadapi celetukan keluarga. Apalagi pertanyaan “Asri kapan nyusul nih, udah siap kondangan” dari keluarga dan tetangga yang hanya aku balas dengan “Hehehe” Sabar buibu bapak bapak, saya masih mau rutin beli jajan sendiri

Post navigation

❮ Previous Post: WFH: Menurut Ibu Libur
Next Post: Sebelum Membuat Penawaran, Pastikan Kebutuhannya Jelas ❯

You may also like

Uncategorized
Jangan Jadi Lilin
August 3, 2026
Uncategorized
Ilmu Baru dari Sebuah Online Meeting
July 10, 2026
Uncategorized
Belajar Tenang di Tengah Hal yang Tidak Sesuai Rencana
April 14, 2026
Uncategorized
Empat Jam Menuju Deadline, dan Pelajaran yang Tidak Ada di SOP
July 8, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  • Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  • Belajar Mengelola Emosi di Jalan
  • Kebiasaan Kecil dari Bapak Masih Aku Bawa Sampai Sekarang
  • Tiga Kabar Membahagiakan Hari Ini

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  2. Vavai on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  3. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  4. Zahro alhasny on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  5. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by