Beberapa hari lalu aku dan keluarga pergi ke Karawang untuk menghadiri arisan keluarga.
Seperti biasa, kalau perjalanan bersama keluarga, rasanya hampir mustahil perjalanan berlangsung dalam keadaan hening. Selalu ada celetukan, gerutuan, komentar random, sampai obrolan spontan yang entah bagaimana bisa melebar ke mana-mana.
Kami juga lebih sering ngobrol daripada main HP masing-masing kalau sedang bepergian. Alasan romantisme nya adalah: menjunjung tinggi quality time.
Nggak lah tapi, Alasan utamanya: biar nggak mabok aja. HEHEHEHE.
Daripada main HP lima menit kemudian kepala pusing, lebih baik ngobrol.
Dan hari itu, obrolannya mengalir begitu saja sampai akhirnya…
target pembicaraannya adalah aku.
Awalnya kami membahas tetangga yang akan menikah setelah tujuh tahun menjalin hubungan. Dari cerita orang lain, tiba-tiba Bapak mulai menginterogasi—eh, bertanya dengan penuh kasih sayang—tentang hubunganku dengan pasangan yang sudah berjalan sekitar dua tahun.
Bagaimana hubungannya?
Sudah sejauh mana?
Ada rencana apa?
Bla bla bla.
Akhirnya aku menyampaikan semacam laporan perkembangan hubungan kepada Bapak dan Ibu. Lengkap. Rasanya seperti sedang presentasi laporan bulanan.
Aku menjelaskan perlahan bahwa aku juga tentu ingin menikah. Hanya saja, ada banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan, apalagi aku yang istilahnya karir baru dimulai.
Lalu adikku nyeletuk.
Dan di sinilah kobaran api dalam diriku mulai menyala. Elah lebay banget
“Jauh banget dah, udah nabung buat nikah aja, kayak jadi aja.”
DEPPP.
Menusuk sekali.
Minta dijambak.
Rasanya ingin menarik napas dalam-dalam sambil menggali kesabaran terdalam yang mungkin sudah tertimbun entah di mana.
Tapi akhirnya aku coba menjelaskan dengan tenang.
Aku ingin menikah. Tentu saja.
Entah nanti jodohnya dengan siapa, sudah diatur Yang Maha Kuasa. Tapi kalau ditanya keinginanku, tentu aku berharap bisa menikah dengan seseorang yang sudah dikenal, dengan hubungan yang sudah dijalani, dan yang keberadaannya juga sudah diketahui oleh keluarga.
Tapi menurutku, menikah bukan sekadar…
“Yaudah, nikah aja.”
Ada banyak hal di belakang kalimat sederhana itu.
Ada kesiapan mental, keluarga, kehidupan setelah menikah, tempat tinggal, pekerjaan, dan tentu saja biaya.
Karena biaya menikah itu bisa sangat di luar perkiraan.
Ketika mendengar adikku berkata seperti tadi, sebenarnya aku bisa memakluminya. Dia masih kuliah. Mungkin memang belum sampai pada fase berpikir, “Kalau nikah nanti katering berapa, tempatnya di mana, setelah nikah tinggal di mana, terus cicilan bagaimana?”
WKWKWK.
Nikmati saja dulu masa kuliahnya, Dek. Akupun juga masih menikmati masa muda berkarir, menabung itu memang harus, ntah nanti memang dipergunakan untuk menikah atau yang lainnya, yang penting aku ada tabungan dan gajiku tidak berhambur sia sia untuk yang tidak penting. Tidak perlu diambil pusing
Dari Obrolan Keluarga ke Obrolan Media Sosial
Percakapan di mobil itu ternyata membuatku memikirkan banyak hal. Apalagi belakangan ini media sosial juga sedang ramai dengan berbagai pendapat soal pernikahan.
Ada yang bilang yang penting sah di KUA, tidak perlu pesta besar.
Ada yang berpendapat perempuan sebenarnya tidak punya kewajiban menabung untuk biaya pernikahan.
Ada juga yang mempertanyakan kenapa pasangan harus terlalu memikirkan kebahagiaan tamu ketika resepsi.
Kurang lebih:
“Ini kan pernikahan kita. Kenapa kita harus mikirin menu makanan dan kebahagiaan para tamu?”
Wah.
Kalau sudah masuk media sosial, memang tidak pernah sesederhana itu.
Satu pendapat bisa dibalas sepuluh pendapat lain.
Dan jujur, aku justru tertarik melihatnya dari berbagai sisi.
Misalnya soal intimate wedding. Aku bisa memahami kenapa seseorang memilih menikah sederhana. Tidak semua orang ingin menghabiskan banyak uang untuk pesta.
Tapi di sisi lain, bagaimana dengan orang tua? Bagaimana dengan keluarga besar? Bagaimana kalau mereka punya harapan yang berbeda?
Begitu juga soal perempuan yang menabung untuk pernikahan. Apakah tidak wajib berarti tidak boleh? Kalau seorang perempuan ingin mempersiapkan tabungannya sendiri atau membantu pasangan, apakah itu menjadi sesuatu yang salah?
Kemudian soal tamu.
Memang benar, yang menjalani kehidupan setelah menikah adalah kita. Tapi kalau kita mengundang orang untuk datang ke acara kita, menurutku wajar juga kalau kita memikirkan kenyamanan mereka.
Bukan berarti harus mengadakan pesta mewah.
Tapi setidaknya jangan sampai tamu datang jauh-jauh, lalu pulang sambil berkata,
“Makanannya mana?”
Dan dari sinilah aku sadar, ternyata topik pernikahan itu banyak banget cabangnya.
Bukan Kode Mau Menikah Besok
Sebelum ada yang salah paham, aku menulis ini bukan sedang mengumumkan bahwa aku siap menikah.
Bukan.
Masih dalam proses, guys. 😂
Aku hanya sedang berada di fase ketika topik pernikahan mulai sering muncul di kepala. Entah karena usia, lingkungan, obrolan keluarga, atau algoritma media sosial yang sepertinya tahu sekali kalau aku sedang memikirkan hal ini.
Aku memang ingin menikah suatu hari nanti.
Tapi kapan dan bagaimana?
Ya, nanti.
Untuk sekarang, mungkin aku masih mau belajar, mempersiapkan diri, menabung, dan tentu saja…
menyiapkan mental menghadapi celetukan keluarga. Apalagi pertanyaan “Asri kapan nyusul nih, udah siap kondangan” dari keluarga dan tetangga yang hanya aku balas dengan “Hehehe” Sabar buibu bapak bapak, saya masih mau rutin beli jajan sendiri