“Baru masuk sehari, udah libur lagi aja.”
Begitulah ucapan Ibu pagi ini.
Saya yang sedang duduk manis di depan laptop langsung menoleh.
“Libur?”
Dalam hati saya, Hah? Libur dari mana, Bu? Laptop nyala, kerjaan ada, email klien masuk, to-do list menunggu, bahkan mata tetap pedih menatap layar terang benderangnya laptop. :))
Saya tetap duduk di depan laptop, mengerjakan to-do list, membalas email klien, koordinasi dengan tim, follow up pekerjaan, dan melakukan segala macam aktivitas yang biasanya saya kerjakan ketika berada di kantor.
Bedanya cuma satu: lokasi kerja saya pindah dari kantor ke rumah.
Tapi ternyata konsep sesederhana itu cukup sulit dipahami oleh orang rumah.
Padahal sudah berkali-kali selama berbulan-bulan saya menjelaskan kepada Ibu dan Bapak.
“WFH itu tetap kerja, Bu.”
“Jam kerjanya tetap.”
“Ini bukan libur.”
“Kalau libur mah saya nggak akan duduk depan laptop dari pagi.”
Dan penjelasan semacam itu sudah saya ulang entah berapa kali.
Tapi entah kenapa, setiap kali WFH datang, persepsi bahwa saya sedang “libur” seperti kembali dari awal. :))
Mungkin karena secara visual memang agak membingungkan.
Kalau kerja dari kantor, orang melihat kita mandi, berpakaian rapi, membawa tas, lalu keluar rumah.
Oh, anak saya pergi kerja.
Sementara kalau WFH?
Bangun → mandi → duduk depan laptop.
Tidak ada perjalanan.
Tidak ada seragam kantor.
Tidak ada pintu kantor yang harus dimasuki.
Tidak ada pemandangan rekan kerja yang lalu-lalang.
Jadi dari sudut pandang orang rumah mungkin terlihat seperti:
“Lho, ini anak kok di rumah terus? Berarti libur.”
Padahal kenyataannya, saya bisa saja sedang serius mengerjakan sesuatu sambil sesekali mendengar suara Ibu yang mengingatkan “nanti siang jangan lupa angkat jemuran ya mba.”
Dan komentar soal “libur” ini juga kadang muncul dengan timing yang luar biasa.
Seperti pagi ini.
“Baru masuk sehari udah libur lagi aja.”
Saya diam sebentar.
Sebenarnya bisa saja saya menjelaskan lagi.
Tapi kemudian saya berpikir…
Sudahlah.
Daripada saya mengadakan presentasi PowerPoint berjudul “WFH: Why It Is Not a Holiday” di ruang tengah rumah, lebih baik saya jawab dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Saya cuma bilang:
“Iri bilang boss.” :))
Selesai. Karena memang selepas itu ibu dan bapak berangkat kerja hehehe.
Tidak ada presentasi.
Tidak ada sesi tanya jawab.
Ibu mungkin tidak benar-benar mengerti konsep WFH setelah itu, tapi setidaknya kami sama-sama tertawa.
Dan mungkin memang begitu cara paling mudah menjelaskan sesuatu kepada keluarga.
Kadang tidak semua hal harus dijelaskan sampai mereka benar-benar paham.
Apalagi kalau penjelasannya sudah dilakukan berkali-kali dan hasilnya tetap:
WFH = libur.
Kemudian laptop kembali dibuka dan pekerjaan dilanjutkan.
Karena pada akhirnya, yang penting bukan orang rumah menganggap saya sedang apa.
Yang penting to-do list selesai, email klien terjawab, pekerjaan beres, dan gaji tetap masuk.
Kalau setelah itu Ibu masih bilang saya libur?
Ya sudah deh terserah bapak dan ibu saja :))