Senin sore saya mengalami satu momen yang sebenarnya sederhana sekali: mau beli bensin atau tidak?
Tapi entah kenapa, keputusan sesederhana itu berubah menjadi bahan pertimbangan sepanjang perjalanan. ๐
Saya melihat indikator bensin motor sudah menunjukkan 2 bar. Buat saya, 2 bar itu sudah masuk kategori โoke, sebentar lagi harus isi.โ Biasanya kalau sudah sampai angka tersebut, saya langsung mampir ke SPBU. Bukan karena benar-benar sudah habis, tapi lebih ke bentuk antisipasi.
Daripada nanti bensin tinggal satu bar, terus mulai panik sendiri di jalan sambil berharap ada SPBU di depan.
Masalahnya, kondisi jalan kemarin cukup padat. Banyak truk dan bus besar yang lalu-lalang. Sementara kalau saya mampir untuk membeli bensin, saya harus kembali masuk ke jalur dan berdampingan dengan kendaraan-kendaraan besar tersebut.
Dan jujur saja… Saya tidak mau. ๐ญ
Kalau harus berkendara berdampingan dengan kendaraan sebesar itu, rasanya saya jadi lebih waspada. Apalagi kalau jalan sedang ramai dan ruang untuk bergerak terasa sempit.
Akhirnya sepanjang perjalanan saya mulai berpikir.
โKalau sekarang beli bensin, harus melewati jalan yang ramai ini.โ
Tapi kalau tidak beli sekarang, besok pagi sebelum berangkat kerja saya harus mampir ke SPBU.โ
โTerus kalau besok antre?โ
โKalau antreannya panjang?โ
โKalau malah telat kerja?โ
Hanya karena 2 bar bensin, kepala saya sudah membuat simulasi berbagai kemungkinan. ๐
Padahal secara logika, sebenarnya sederhana. Beli sekarang selesai. Atau tunda sampai besok juga kemungkinan besar masih aman.
Tapi akhirnya saya memilih untuk tidak membeli bensin.
Bukan karena ingin menghemat bensin atau karena yakin bensinnya pasti cukup.
Tapi karena saya memilih opsi yang menurut saya paling nyaman: lewat jalan tikus dan menghindari harus berdampingan dengan kendaraan-kendaraan besar.
Lucunya, setelah keputusan itu dibuat, saya merasa lega.
Padahal masalahnya cuma bensin.
Dari situ saya jadi berpikir, ternyata dalam perjalanan sehari-hari pun saya sering membuat keputusan kecil berdasarkan banyak pertimbangan, mana yang membuat kita merasa lebih aman dan nyaman.
Dan ternyata, menjadi pengendara motor itu bukan cuma soal bisa mengendarai motor.
Ada juga kemampuan untuk membaca kondisi jalan, memperkirakan bensin, menghitung waktu, memilih rute, menghindari kendaraan besar, dan tentu saja…
bernegosiasi dengan diri sendiri hanya gara-gara indikator bensin menunjukkan 2 bar. ๐
Besok-besok kalau indikator sudah 2 bar, mungkin saya tetap akan isi bensin.
Tapi semoga jalannya tidak penuh truk dan bus lagi.
Karena ternyata keputusan beli bensin bisa membutuhkan meeting internal yang cukup panjang juga.