
Banyak orang bilang aku termasuk tipe orang yang santai menghadapi sesuatu. Jarang terlihat panik, jarang terlihat gugup, dan sering dianggap “tenang-tenang aja” walaupun sedang berada di situasi yang membuat deg-degan. Bahkan beberapa kerabat dan orang terdekatku pernah bilang kalau ekspresiku hampir tidak pernah menunjukkan rasa nervous.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Aku memang berusaha terlihat tenang. Entah karena tidak ingin merepotkan orang lain, tidak ingin terlihat lemah, atau memang sudah terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Namun di balik sikap yang terlihat santai itu, tubuhku ternyata punya cara sendiri untuk memberi sinyal kalau sebenarnya aku sedang cemas.
Tanpa sadar, aku melampiaskannya dengan merusak kuku jari tangan.
Kebiasaan kecil yang awalnya mungkin terlihat sepele, lama-lama jadi sesuatu yang sulit dihentikan. Saat sedang gugup, overthinking, atau berada di situasi yang membuat tidak nyaman, tanganku otomatis mencari kuku untuk dikupas, digigit, atau dimainkan terus menerus. Ironisnya, sering kali aku baru sadar ketika kulit di sekitar kuku mulai perih atau bahkan berdarah.
Sudah berkali-kali orang tua dan orang terdekat menegur kebiasaan ini. Mereka bilang tanganku jadi terlihat luka terus. Kadang aku juga merasa kesal pada diri sendiri karena sulit menghentikannya. Tapi ternyata mengubah kebiasaan yang dilakukan secara tidak sadar memang tidak mudah.
Ada momen di mana aku benar-benar berniat berhenti. Namun ketika rasa gugup datang diam-diam, tubuhku seperti kembali melakukan hal yang sama secara otomatis.
Akhirnya, sekarang ada dua benda yang hampir selalu tersedia di tasku ke mana pun pergi: Betadine dan hansaplast.
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Orang lain mungkin membawa makeup, parfum, atau camilan sebagai “penyelamat darurat”. Sedangkan aku membawa obat merah dan plester luka untuk menghadapi bekas perang kecil dengan diriku sendiri.
Mungkin tulisan ini bukan tentang bagaimana aku berhasil menghilangkan kebiasaan itu. Karena sampai sekarang pun aku masih belajar. Tapi setidaknya aku mulai sadar kalau tidak semua rasa gugup terlihat jelas di permukaan. Ada orang-orang yang tampak santai, padahal sedang berusaha keras menenangkan dirinya sendiri.
Dan mungkin, aku salah satunya.
Leave a Reply