Ada satu hal yang sampai sekarang masih sering saya rasakan, yaitu beberapa menit sebelum harus berbicara di depan banyak orang.
Entah itu presentasi di kantor, menyampaikan laporan, atau sekadar berbagi informasi dalam sebuah meeting, rasa gugup itu tetap datang. Padahal materi sudah dipersiapkan, slide sudah dicek beberapa kali, bahkan sudah latihan sebelumnya. Namun, tetap saja muncul pikiran, “Semoga nanti penyampaiannya lancar.”
Dulu saya menganggap rasa gugup itu sebagai pertanda bahwa saya belum siap. Seolah-olah, orang yang benar-benar menguasai materi pasti akan berbicara dengan tenang tanpa rasa cemas sedikit pun.
Ternyata, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Semakin banyak membaca dan mendengarkan pengalaman orang lain, saya justru menemukan bahwa rasa gugup adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan, banyak pembicara profesional masih merasakannya sebelum naik ke panggung.
Yang membedakan bukanlah ada atau tidaknya rasa gugup, tetapi bagaimana mereka tetap berbicara meskipun rasa itu ada.
Gugup Tidak Selalu Berarti Tidak Siap
Saya sempat menemukan satu pemikiran yang cukup menenangkan.
Dalam bukunya Presence, Amy Cuddy menjelaskan bahwa ketika kita akan menghadapi situasi yang penting, tubuh akan memberikan respons alami. Detak jantung menjadi lebih cepat, tubuh lebih waspada, dan pikiran menjadi lebih fokus. Respons ini bukan berarti kita tidak mampu, melainkan tubuh sedang mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang dianggap penting.
Penjelasan itu membuat saya berpikir.
Mungkin selama ini saya salah menafsirkan rasa gugup.
Bisa jadi, gugup bukan tanda bahwa saya tidak siap. Justru karena saya sudah menghabiskan waktu untuk membaca materi, menyusun presentasi, dan memikirkan bagaimana agar orang lain mudah memahami apa yang akan saya sampaikan.
Kalau saya tidak peduli dengan hasilnya, mungkin saya tidak akan merasa gugup sama sekali.
Ternyata Saya Peduli
Ada satu kalimat yang sampai sekarang cukup membekas di pikiran saya.
“We don’t get nervous because we’re incapable. We get nervous because what we’re about to do matters to us.”
Artinya kurang lebih, “Kita gugup bukan karena tidak mampu, tetapi karena apa yang akan kita lakukan itu penting bagi kita.”
Saya merasa kalimat itu cukup menggambarkan apa yang sering saya alami.
Rasa gugup muncul karena saya ingin menyampaikan sesuatu dengan baik. Saya ingin orang lain memahami apa yang saya jelaskan. Saya ingin waktu yang sudah saya gunakan untuk belajar dan mempersiapkan materi tidak sia-sia.
Meskipun memang, rasa gugup tidak selalu berarti seseorang sudah mempersiapkan diri dengan baik. Ada orang yang gugup karena kurang siap, ada juga yang sudah sangat berpengalaman tetapi tetap merasa gugup. Namun, dalam banyak kasus, rasa gugup muncul karena kita menganggap momen tersebut penting dan ingin memberikan yang terbaik.
Mengubah Cara Memandang Gugup
Saya juga pernah membaca penelitian dari Alison Wood Brooks yang menurut saya menarik.
Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa daripada terus mengatakan kepada diri sendiri, “Saya gugup,” akan lebih membantu jika kita mengubahnya menjadi, “Saya bersemangat.”
Kedengarannya sederhana, tetapi ternyata cukup berpengaruh.
Karena secara fisik, gugup dan antusias sama-sama membuat detak jantung meningkat. Bedanya hanya bagaimana kita memberi makna terhadap perasaan tersebut.
Sejak mengetahui hal itu, saya mulai mencoba mengubah cara berpikir.
Alih-alih berkata, “Jangan sampai salah.”
Saya mencoba mengatakan, “Ini kesempatan untuk berbagi apa yang sudah saya pelajari.”
Rasanya jauh lebih ringan.
Tidak Perlu Menunggu Gugup Itu Hilang
Ada satu hal yang akhirnya saya sadari.
Mungkin tujuan kita bukan menghilangkan rasa gugup.
Karena kalau menunggu benar-benar percaya diri, mungkin kita tidak akan pernah mulai berbicara.
Yang lebih penting adalah tetap melangkah meskipun masih ada sedikit rasa gugup.
Karena keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melakukan apa yang perlu dilakukan meski rasa takut itu masih ada.
Sekarang, setiap kali saya akan presentasi atau berbicara di depan banyak orang, saya masih merasa gugup. Namun, saya tidak lagi menganggapnya sebagai musuh.
Saya justru menganggapnya sebagai pengingat bahwa apa yang akan saya sampaikan adalah sesuatu yang saya anggap penting.
Dan mungkin, itu bukan pertanda bahwa saya belum siap.
Melainkan pertanda bahwa saya sudah berusaha mempersiapkan yang terbaik.
Referensi
- Amy Cuddy. Presence: Bringing Your Boldest Self to Your Biggest Challenges (2015).
- Alison Wood Brooks. Get Excited: Reappraising Pre-Performance Anxiety as Excitement. Journal of Experimental Psychology: General (2014).
Catatan: Bahwa rasa gugup sering muncul ketika seseorang menganggap situasi tersebut penting dan ingin tampil dengan baik. Jadi, jika setelah mempersiapkan materi dengan sungguh-sungguh kamu masih merasa gugup, kemungkinan besar itu adalah bentuk kepedulianmu terhadap apa yang akan disampaikan, bukan semata-mata tanda bahwa kamu belum siap.
Nice POV, Asri. Selain gugup, saya juga sering deg-degan. Entah pas briefing, presentasi, mengajar training, atau disuruh ngomong tiba-tiba di forum. Meskipun hal tersebut sudah pernah dilakukan beberapa kali. Tetap gugupnya selalu ada
Karena ngerasa gugup dan deg-degan, kadang ngomong jadi gagap. Aaah, jangan-jangan selama ini GaGu itu singkatan dari Gagap dan Gugup?
Bener juga ya Om hehe, walaupun hanya ngomong satu dua patah kata tetep aja deg deg ser nya terus terusan akhirnya ngomongnya jadi patah patah Om hahaha