Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • July
  • 7
  • Gugup Sebelum Presentasi? Mungkin Itu Tanda Peduli

Gugup Sebelum Presentasi? Mungkin Itu Tanda Peduli

Posted on July 7, 2026 By asrisahnrd_ 2 Comments on Gugup Sebelum Presentasi? Mungkin Itu Tanda Peduli
Uncategorized

Ada satu hal yang sampai sekarang masih sering saya rasakan, yaitu beberapa menit sebelum harus berbicara di depan banyak orang.

Entah itu presentasi di kantor, menyampaikan laporan, atau sekadar berbagi informasi dalam sebuah meeting, rasa gugup itu tetap datang. Padahal materi sudah dipersiapkan, slide sudah dicek beberapa kali, bahkan sudah latihan sebelumnya. Namun, tetap saja muncul pikiran, “Semoga nanti penyampaiannya lancar.”

Dulu saya menganggap rasa gugup itu sebagai pertanda bahwa saya belum siap. Seolah-olah, orang yang benar-benar menguasai materi pasti akan berbicara dengan tenang tanpa rasa cemas sedikit pun.

Ternyata, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Semakin banyak membaca dan mendengarkan pengalaman orang lain, saya justru menemukan bahwa rasa gugup adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan, banyak pembicara profesional masih merasakannya sebelum naik ke panggung.

Yang membedakan bukanlah ada atau tidaknya rasa gugup, tetapi bagaimana mereka tetap berbicara meskipun rasa itu ada.

Gugup Tidak Selalu Berarti Tidak Siap

Saya sempat menemukan satu pemikiran yang cukup menenangkan.

Dalam bukunya Presence, Amy Cuddy menjelaskan bahwa ketika kita akan menghadapi situasi yang penting, tubuh akan memberikan respons alami. Detak jantung menjadi lebih cepat, tubuh lebih waspada, dan pikiran menjadi lebih fokus. Respons ini bukan berarti kita tidak mampu, melainkan tubuh sedang mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang dianggap penting.

Penjelasan itu membuat saya berpikir.

Mungkin selama ini saya salah menafsirkan rasa gugup.

Bisa jadi, gugup bukan tanda bahwa saya tidak siap. Justru karena saya sudah menghabiskan waktu untuk membaca materi, menyusun presentasi, dan memikirkan bagaimana agar orang lain mudah memahami apa yang akan saya sampaikan.

Kalau saya tidak peduli dengan hasilnya, mungkin saya tidak akan merasa gugup sama sekali.

Ternyata Saya Peduli

Ada satu kalimat yang sampai sekarang cukup membekas di pikiran saya.

“We don’t get nervous because we’re incapable. We get nervous because what we’re about to do matters to us.”

Artinya kurang lebih, “Kita gugup bukan karena tidak mampu, tetapi karena apa yang akan kita lakukan itu penting bagi kita.”

Saya merasa kalimat itu cukup menggambarkan apa yang sering saya alami.

Rasa gugup muncul karena saya ingin menyampaikan sesuatu dengan baik. Saya ingin orang lain memahami apa yang saya jelaskan. Saya ingin waktu yang sudah saya gunakan untuk belajar dan mempersiapkan materi tidak sia-sia.

Meskipun memang, rasa gugup tidak selalu berarti seseorang sudah mempersiapkan diri dengan baik. Ada orang yang gugup karena kurang siap, ada juga yang sudah sangat berpengalaman tetapi tetap merasa gugup. Namun, dalam banyak kasus, rasa gugup muncul karena kita menganggap momen tersebut penting dan ingin memberikan yang terbaik.

Mengubah Cara Memandang Gugup

Saya juga pernah membaca penelitian dari Alison Wood Brooks yang menurut saya menarik.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa daripada terus mengatakan kepada diri sendiri, “Saya gugup,” akan lebih membantu jika kita mengubahnya menjadi, “Saya bersemangat.”

Kedengarannya sederhana, tetapi ternyata cukup berpengaruh.

Karena secara fisik, gugup dan antusias sama-sama membuat detak jantung meningkat. Bedanya hanya bagaimana kita memberi makna terhadap perasaan tersebut.

Sejak mengetahui hal itu, saya mulai mencoba mengubah cara berpikir.

Alih-alih berkata, “Jangan sampai salah.”

Saya mencoba mengatakan, “Ini kesempatan untuk berbagi apa yang sudah saya pelajari.”

Rasanya jauh lebih ringan.

Tidak Perlu Menunggu Gugup Itu Hilang

Ada satu hal yang akhirnya saya sadari.

Mungkin tujuan kita bukan menghilangkan rasa gugup.

Karena kalau menunggu benar-benar percaya diri, mungkin kita tidak akan pernah mulai berbicara.

Yang lebih penting adalah tetap melangkah meskipun masih ada sedikit rasa gugup.

Karena keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melakukan apa yang perlu dilakukan meski rasa takut itu masih ada.

Sekarang, setiap kali saya akan presentasi atau berbicara di depan banyak orang, saya masih merasa gugup. Namun, saya tidak lagi menganggapnya sebagai musuh.

Saya justru menganggapnya sebagai pengingat bahwa apa yang akan saya sampaikan adalah sesuatu yang saya anggap penting.

Dan mungkin, itu bukan pertanda bahwa saya belum siap.

Melainkan pertanda bahwa saya sudah berusaha mempersiapkan yang terbaik.


Referensi

  • Amy Cuddy. Presence: Bringing Your Boldest Self to Your Biggest Challenges (2015).
  • Alison Wood Brooks. Get Excited: Reappraising Pre-Performance Anxiety as Excitement. Journal of Experimental Psychology: General (2014).

Catatan: Bahwa rasa gugup sering muncul ketika seseorang menganggap situasi tersebut penting dan ingin tampil dengan baik. Jadi, jika setelah mempersiapkan materi dengan sungguh-sungguh kamu masih merasa gugup, kemungkinan besar itu adalah bentuk kepedulianmu terhadap apa yang akan disampaikan, bukan semata-mata tanda bahwa kamu belum siap.

Post navigation

❮ Previous Post: Dewasa Itu Bukan Tentang Menang, Tapi Tentang Memilih Mana yang Layak Dipikirkan
Next Post: Empat Jam Menuju Deadline, dan Pelajaran yang Tidak Ada di SOP ❯

You may also like

Uncategorized
Belajar Berdamai dengan Trauma
February 20, 2026
Uncategorized
WFH Hari Ini: Ada Saja Cerita Baru Setiap WFH
July 29, 2026
Uncategorized
Hari Pertama Puasa, Babak Baru dalam Perjalanan Karier
February 19, 2026
Uncategorized
Belajar Time Management dalam Menjalani Aktivitas Sehari-hari
June 19, 2026

2 thoughts on “Gugup Sebelum Presentasi? Mungkin Itu Tanda Peduli”

  1. Ahmad says:
    July 10, 2026 at 12:13 pm

    Nice POV, Asri. Selain gugup, saya juga sering deg-degan. Entah pas briefing, presentasi, mengajar training, atau disuruh ngomong tiba-tiba di forum. Meskipun hal tersebut sudah pernah dilakukan beberapa kali. Tetap gugupnya selalu ada

    Karena ngerasa gugup dan deg-degan, kadang ngomong jadi gagap. Aaah, jangan-jangan selama ini GaGu itu singkatan dari Gagap dan Gugup?

    Reply
    1. asrisahnrd_ says:
      July 14, 2026 at 12:33 am

      Bener juga ya Om hehe, walaupun hanya ngomong satu dua patah kata tetep aja deg deg ser nya terus terusan akhirnya ngomongnya jadi patah patah Om hahaha

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  • Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  • Belajar Mengelola Emosi di Jalan
  • Kebiasaan Kecil dari Bapak Masih Aku Bawa Sampai Sekarang
  • Tiga Kabar Membahagiakan Hari Ini

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  2. Vavai on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  3. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  4. Zahro alhasny on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  5. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by