Ada satu kalimat dari Bapak yang sering disampaikan ke aku dan adikku:
“Orang pintar, bahkan orang jenius sekalipun, akan berkurang valuenya kalau tidak punya adab dan etika yang baik di lingkungan sekitarnya.”
Dulu saya mungkin menganggapnya sebagai nasihat biasa. Tapi semakin bertambah usia dan semakin sering bertemu dengan banyak karakter orang, saya mulai memahami maksudnya.
Kepintaran memang bisa membuat seseorang terlihat menonjol. Orang yang cepat memahami sesuatu, punya banyak pengetahuan, atau punya kemampuan teknis yang bagus tentu punya nilai lebih.
Tapi ternyata, kemampuan bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang dihargai.
Ada cara seseorang berbicara kepada orang lain. Ada caranya menyampaikan pendapat. Ada caranya menghargai orang yang mungkin tidak sepintar dirinya. Ada sikap ketika melakukan kesalahan, menerima kritik, atau ketika berada di posisi yang lebih tinggi.
Hal-hal seperti itu mungkin tidak tertulis di CV, tetapi sangat terasa ketika kita bekerja atau hidup berdampingan dengan orang tersebut.
Saya pernah berpikir bahwa selama seseorang pintar dan pekerjaannya bagus, mungkin orang akan tetap menghargainya.
Ternyata tidak selalu.
Orang bisa mengakui “dia memang pintar”, tetapi dalam waktu yang sama juga berpikir “tapi saya tidak nyaman bekerja dengannya.”
Dan menurut saya, di situlah value seseorang bisa berkurang.
Bukan karena kepintarannya menjadi hilang, tetapi karena kepintaran tersebut tidak diiringi dengan kemampuan untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Adab dan etika menurut saya bukan berarti harus selalu mengalah, selalu diam, atau tidak boleh tegas.
Justru kita tetap bisa pintar, kritis, punya pendirian, dan berani menyampaikan sesuatu yang tidak kita setujui.
Hanya saja, cara menyampaikannya tetap perlu dipikirkan.
Karena kadang yang membuat orang menerima perkataan kita bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya.
Bapak pernah bilang, kurang lebih, bahwa ilmu itu membuat seseorang tahu banyak hal, tetapi adab membuat orang tahu bagaimana menggunakan apa yang dia tahu.
Dan semakin ke sini, saya merasa itu benar.
Di lingkungan kerja, misalnya, kita tidak bekerja sendirian. Kita bertemu dengan orang yang berbeda usia, pengalaman, pendidikan, karakter, bahkan cara berpikir.
Ada yang lebih senior, ada yang lebih junior. Ada yang lebih cepat memahami sesuatu, ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Kalau kebetulan kita lebih tahu tentang sesuatu, bukan berarti kita punya alasan untuk merendahkan orang lain.
Karena hari ini mungkin kita menjadi orang yang membantu.
Besok bisa jadi justru kita yang membutuhkan bantuan.
Pada akhirnya, saya rasa orang yang benar-benar bernilai bukan hanya orang yang pintar, tetapi orang yang bisa membuat kepintarannya bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Sebab pintar bisa membuat kita dikagumi.
Tetapi adab dan etika membuat kita dihargai.
Dan mungkin, itu salah satu hal yang ingin Bapak ajarkan sejak dulu:
jangan hanya berusaha menjadi orang yang berilmu. Berusahalah juga menjadi orang yang enak keberadaannya bagi orang lain.
