Lagu Lama, Rasa Tenang

Banyak orang mungkin akan menganggap selera musikku sedikit “berbeda” untuk usia 23 tahun. Di saat kebanyakan orang menikmati lagu-lagu yang sedang viral atau mengikuti tren terbaru, aku justru menemukan kenyamanan dalam karya-karya Ebiet G. Ade. Kedengarannya mungkin kuno bagi sebagian orang—atau bahkan “aneh”. Tapi buatku, justru di sanalah letak keistimewaannya.

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan sederhana ketika mendengarkan lagu-lagu beliau. Bukan hanya sekadar musik, tapi seperti perjalanan batin. Lirik-liriknya terasa jujur, dekat dengan realita, dan sering kali seperti cermin yang memantulkan kondisi diri sendiri. Tanpa terasa, kita diajak merenung—tentang hidup, tentang manusia, tentang hubungan dengan sesama, bahkan tentang hubungan dengan Tuhan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, lagu-lagu Ebiet selalu jadi teman setia. Saat bekerja, alunannya memberi rasa tenang yang tidak mengganggu fokus. Saat membersihkan rumah, ada perasaan damai yang mengalir begitu saja. Seolah-olah setiap nada dan kata yang dinyanyikan membawa energi yang menenangkan, bukan sekadar mengisi keheningan.

Aku sudah mendengarkan hampir semua albumnya. Dan yang menarik, setiap kali mendengarkan ulang, rasanya selalu berbeda. Ada makna baru yang muncul, ada sudut pandang yang berubah, seiring dengan pengalaman hidup yang juga bertambah. Lagu-lagunya tidak pernah terasa usang—justru semakin relevan.

Mungkin benar, di usia seperti ini menyukai Ebiet G. Ade terlihat tidak biasa. Tapi justru dari situlah aku belajar bahwa selera tidak harus selalu mengikuti arus. Kadang, yang kita butuhkan bukan sekadar hiburan, tapi juga ketenangan, pemahaman, dan ruang untuk refleksi diri.

Dan untukku, semua itu ada dalam lagu-lagu Ebiet G. Ade.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *