Hari ini kembali lagi ke hari Rabu. Artinya: hari WFH. 🫶🏻
Setelah libur weekend, kemudian Senin yang kebetulan hari kejepit, lalu Selasa kembali libur lagi. Libur yang cukup panjang dan, surprisingly, terasa sangat produktif.
Bukan produktif dalam arti menyelesaikan pekerjaan, belajar sesuatu yang luar biasa, atau menghasilkan uang.
Tapi…
AKU BERHASIL MERAPIKAN 4 LEMARI.
YAP.
EMPAT. LEMARI. BAJU.
WKWKWK.
Entah kenapa kalau perempuan, apalagi anak perempuan pertama, sudah mulai beberes rumah, rasanya ada mode tertentu yang otomatis aktif.
Mode:
“Kayaknya ini sudah nggak kepakai.”
Lima menit kemudian:
BUANG.
“Kalau ini?”
BUANG JUGA.
“Ini kan masih bagus…”
“Tapi sudah dua tahun nggak dipakai.”
BUANG.
Dan tiba-tiba rumah terasa seperti rumah baru ditempati.
Saya rasa ini bukan rumor lagi. Ini valid. Sangat betul. 😂
Kalau sudah mulai beberes, rasanya rumah harus dikosongkan sekalian. Barang-barang yang selama ini cuma numpuk di sudut rumah mulai dipertanyakan eksistensinya.
“Kamu sebenarnya untuk apa ada di sini?”
Dan ternyata jawabannya:
Tidak tahu.
Akhirnya banyak barang yang saya keluarkan dan saya serahkan ke tukang rongsok atau dibuang karena memang sudah tidak digunakan.
Tapi jujur, selama proses beberes kemarin saya merasa galak sekali. WKWK.
Ya Allah, maafkan aku yang jutek ke orang rumah.
Tapi bagaimana tidak?
Saya sudah semangat mengosongkan lemari, menyusun barang, memilah mana yang masih berguna, mana yang harus dibuang…
Lalu melihat orang lain dengan santainya menyimpan barang yang sudah entah berapa tahun tidak digunakan.
Rasanya ingin berkata:
“INI MAU DIPAKAI KAPAN?” 😭
Saya baru sadar, mungkin masalah terbesar dalam beberes rumah bukan barangnya.
Tapi orang-orang yang punya kebiasaan menyimpan barang.
Karena semakin banyak barang yang tidak digunakan dan hanya menumpuk, semakin terasa rumah menjadi penuh. Dan akhir-akhir ini saya juga merasa rumah jadi semakin banyak nyamuk.
Apakah rumah kalian juga begitu?
Saya juga pernah membaca bahwa rumah yang terlalu banyak menyimpan dan menumpuk barang yang tidak berguna bisa membuat suasana rumah terasa kurang nyaman atau “kurang enak”.
Entah benar secara ilmiah atau tidak, saya tidak tahu.
Tapi kalau secara perasaan?
IYA.
Rumah yang terlalu penuh memang bikin kepala ikut penuh.
Setelah empat lemari dibereskan, barang-barang yang sudah tidak terpakai dikeluarkan, rasanya lega sekali.
Seperti ada ruang baru untuk bernapas.
Walaupun…
Saya sudah tahu siklusnya.
Beberapa minggu lagi pasti akan ada barang baru.
Barang asing.
Barang yang entah dari mana.
Barang yang “kayaknya nanti kepakai.”
Kemudian disimpan.
Lalu tidak dipakai.
Kemudian menumpuk, saya melihatnya, saya mulai emosi, and saya beberes lagi.
HAHAHAHA.
Jadi kalau beberapa minggu ke depan tiba-tiba saya kembali mengosongkan rumah, jangan kaget.
Mungkin bukan rumahnya yang terlalu banyak barang.
Mungkin…
saya yang memang ditakdirkan menjadi petugas pengosongan rumah. 😭
Dan untuk seluruh penghuni rumah:
Maaf kalau kemarin aku jutek.
Tapi kalau besok ada barang baru yang tidak jelas fungsinya…
aku tidak menjamin akan sebaik itu.
Jujur baca judulnya saja sangat dapat kesan horror komedinya WKWKWK. 🫠