
Ada yang unik dari jam kerja hari ini. Bukan meeting besar, bukan juga pembahasan target. Justru obrolan santai di meja kantor ruang bawah yang tiba-tiba berubah jadi sesi refleksi hidup.
Pemainnya sederhana: aku, Mba Zahro, Kang Asep, dan Suyen.
Awalnya Mba Zahro penasaran. Beberapa hari lalu Kang Asep sempat menyinggung istilah “selesai dengan diri sendiri.” Hari ini akhirnya rasa penasaran itu ditagih.
“Emang maksudnya selesai dengan diri sendiri itu apa sih?”
Dari situ obrolan mengalir begitu saja.
Kurang lebih yang kutangkap, selesai dengan diri sendiri bukan berarti hidup kita sudah sempurna. Bukan juga berarti sudah tidak punya masalah. Tapi lebih ke kondisi ketika kita mulai berdamai dengan diri sendiri dan tidak lagi menjadikan penilaian orang lain sebagai kompas utama.
Kang Asep menjelaskan bahwa setiap orang punya voice di dalam dirinya. Ada pikiran, pendapat, keresahan, bahkan keyakinan yang sebenarnya ingin disampaikan. Sayangnya, sering kali suara itu kalah keras dibanding suara orang lain.
Akhirnya kita berbicara bukan karena benar-benar ingin menyampaikan pendapat, tetapi karena ingin diterima.
Kita diam bukan karena tidak punya opini, tetapi karena takut dinilai.
Kita mengubah diri bukan karena merasa perlu, tetapi karena takut tidak disukai.
Padahal, mengeluarkan voice dari dalam diri seharusnya cukup dengan satu alasan: karena memang itu yang kita pikirkan. Bukan supaya dipuji. Bukan supaya dianggap pintar. Bukan supaya mendapat validasi.
Kalau ternyata orang lain setuju, ya syukur.
Kalau tidak setuju, ya tidak apa-apa.
Di titik itu, kita mulai mengenal diri sendiri.
Aku jadi sadar, kadang tanpa disadari kita terlalu sering mengukur nilai diri dari reaksi orang lain. Saat dipuji, rasanya percaya diri. Saat dikritik, langsung merasa tidak mampu. Saat pendapat kita disetujui, kita merasa benar. Saat tidak ada yang mendukung, kita mulai meragukan diri sendiri.
Lama-lama yang kita kenal bukan lagi diri sendiri, melainkan versi diri yang dibentuk oleh ekspektasi orang lain.
Bukankah itu melelahkan?
Obrolan tadi membuatku berpikir, jangan-jangan banyak dari kita sebenarnya belum benar-benar mengenal diri sendiri. Kita terlalu sibuk mencari cermin di wajah orang lain sampai lupa bercermin ke dalam diri.
Mungkin itulah mengapa istilah selesai dengan diri sendiri terasa menarik.
Bukan karena sudah mencapai garis akhir.
Melainkan karena kita mulai berhenti mencari pengakuan di setiap langkah.
Mulai berani berkata, “Ini pendapatku.”
Mulai berani berkata, “Aku memang seperti ini.”
Dan mulai menerima bahwa tidak semua orang harus menyukai kita agar kita tetap berharga.
Lucunya, semua obrolan ini terjadi di tengah meja kantor ruang bawah. Tempat yang biasanya dipenuhi candaan receh, bahas kerjaan, atau saling lempar komentar soal kopi.
Hari ini justru berubah jadi ruang refleksi kecil yang mungkin hanya berlangsung belasan menit, tapi cukup membuat pikiranku bekerja.
Kadang memang pelajaran hidup tidak selalu datang dari seminar mahal atau buku setebal ratusan halaman.
Kadang datang dari obrolan santai, ditemani tawa kecil, di meja kantor ruang bawah.
Terima kasih untuk Mba Zahro yang memulai pertanyaan, Kang Asep yang berbagi sudut pandangnya, dan Suyen yang ikut meramaikan diskusi dengan keasbunannya.
Siapa sangka, dari rasa penasaran sederhana, pulangnya malah membawa satu pertanyaan untuk diri sendiri.
Sudahkah aku benar-benar mengenal diriku, atau selama ini aku hanya mengenal diriku lewat penilaian orang lain?


Ehehe, sama-samaa, Asrii
sering sering kita deeptalk mbaaa