Ada satu hal yang mungkin tidak tertulis di job description seorang sales.
Doa setelah mengirim penawaran.
Karena ternyata, menjadi sales bukan cuma soal menghitung harga, membuat quotation, memastikan nama perusahaan tidak salah, lalu klik Send.
Ada satu fase setelahnya yang tidak kalah penting:
menatap email sambil berharap.
“Semoga dibaca.”
“Semoga harganya masuk.”
“Semoga tidak dibandingkan dengan harga kompetitor yang entah bagaimana bisa jauh lebih murah.”
“Semoga ada balasan.”
Dan doa paling pamungkas:
“Semoga PO menyusul.”
Hahaha.
Awalnya saya pikir mengirim penawaran itu ya sudah. Penawaran dikirim, selesai. Tinggal menunggu.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Setelah email terkirim, saya biasanya mulai memperhatikan hal-hal kecil. Email sudah dibuka belum? Ada balasan belum? Hari ini atau besok follow up? Kalau follow up terlalu cepat nanti dianggap ngejar-ngejar, tapi kalau terlalu lama takut customer lupa.
Belum lagi kalau quotation sudah dikirim beberapa hari lalu dan inbox masih tenang.
Mulai muncul dialog internal:
“Pak/Bu sudah sempat review belum ya?”
“Mungkin masih diskusi internal.”
“Atau mungkin sedang minta pembanding?”
“Atau jangan-jangan emailnya tenggelam?”
Lalu buka CRM.
Lihat opportunity.
Lihat tanggal terakhir follow up.
Tutup lagi.
Lima menit kemudian buka lagi.
Padahal datanya tidak berubah.
Tapi tetap saja dicek.
Mungkin karena sebagai sales, kita memang punya sedikit kebiasaan untuk berharap dari sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Saya juga mulai belajar bahwa tidak semua penawaran akan berakhir menjadi PO.
Ada yang langsung lanjut.
Ada yang perlu beberapa kali follow up.
Ada yang revisi harga.
Ada yang minta diskon.
Ada yang tiba-tiba berubah kebutuhan.
Ada juga yang setelah penawaran dikirim… hilang entah ke mana.
Dan dari situ saya mulai paham bahwa pekerjaan sales bukan hanya tentang mendapatkan transaksi.
Ada proses panjang di belakangnya: memahami kebutuhan customer, menghitung solusi, koordinasi dengan tim, membuat penawaran, menjelaskan scope, menjawab pertanyaan, melakukan follow up, sampai akhirnya menunggu keputusan dari customer.
Jadi sekarang, setiap kali menekan tombol Send, saya punya doa kecil sendiri.
Semoga penawarannya sesuai kebutuhan.
Semoga harganya masih masuk budget.
Semoga customer merasa terbantu, bukan sekadar merasa sedang ditawari sesuatu.
Semoga kalau belum bisa lanjut sekarang, setidaknya komunikasi tetap baik.
Dan tentu saja…
semoga PO-nya menyusul.
Karena bagaimanapun juga, saya tetap sales.
Tidak perlu munafik.
Kalau ada notifikasi email masuk dari customer setelah saya kirim quotation, jantung memang sedikit lebih cepat.
Apalagi kalau subject-nya:
“Re: Quotation…”
Langsung dibuka.
Kalau ternyata isinya:
“Mohon revisi penawaran.”
Ya sudah.
Tarik napas.
Revisi lagi.
Hahaha.
Mungkin memang begini salah satu sisi kecil dari dunia sales yang tidak kelihatan dari luar.
Kita bukan cuma menjual produk atau layanan.
Kita juga belajar tentang sabar, timing, komunikasi, penolakan, negosiasi, dan tetap profesional meskipun dalam hati sudah berharap macam-macam.
Jadi untuk setiap quotation yang hari ini saya kirim:
Bismillah.
Semoga sampai ke orang yang tepat, dibaca di waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan yang tepat, dan kalau memang rezekinya…
semoga berakhir menjadi PO.
Aamiin paling serius untuk yang terakhir.
