Sebelumnya aku pernah menulis tentang bagaimana menurutku, selagi masih muda, kita sebaiknya Sebelumnya aku pernah menulis tentang bagaimana menurutku, selagi masih muda, kita sebaiknya banyak mencoba hal baru, mengeksplorasi berbagai hal, dan mengunjungi banyak tempat. Bukan karena kita harus buru-buru mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya, tetapi karena setiap pengalaman bisa menjadi ruang untuk belajar.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tambahkan.
Mencoba hal baru, belajar tentang tempat dan budaya yang berbeda, serta memperluas pengalaman itu tidak harus berhenti hanya karena usia bertambah.
Selama masih ada kesempatan, ya coba saja.
Karena ketika kita terus mencoba hal baru, proses belajar juga akan terus berjalan. Kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda, melihat sudut pandang yang berbeda, dan masuk ke lingkungan yang mungkin sebelumnya belum pernah kita bayangkan. Dari situlah ruang kita untuk bertumbuh dan berkembang menjadi semakin luas.
Dan ternyata, pemikiran itu baru saja terealisasikan dalam sebuah perjalanan kecil.
Weekend Kemarin: Bandung!
Tanggal 11–13 September 2026, aku dan sebagian tim perempuan di kantor akhirnya pergi untuk explore Bandung.
Kalau ditanya apakah dua malam tiga hari cukup untuk mengeksplorasi Bandung?
Jelas tidak. Wkwkwk.
Bandung punya terlalu banyak tempat dan cerita untuk diselesaikan hanya dalam waktu tiga hari. Tapi ternyata, tujuan perjalanan ini memang bukan sekadar mengejar sebanyak mungkin destinasi.
Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk membangun bonding yang lebih kuat, berkomunikasi lebih banyak, bertukar cerita dan pendapat, serta menikmati hal-hal baru bersama-sama.
Lucunya, rencana perjalanan ini juga sempat mengalami beberapa kali pergantian ide destinasi. Dari satu daerah ke daerah lain, sampai akhirnya pilihan pertama kami jatuh ke Bandung.
Dan sepertinya perjalanan ini akan menjadi beberapa cerita dalam beberapa blog.
Jadi, anggap saja ini episode pertama. Hahaha.
Sebelum Berangkat, Sudah Sibuk Duluan

Ternyata, perjalanan ini tidak dimulai ketika kami sampai di Bandung. Perjalanannya sudah dimulai jauh sebelum itu.
Sebelum benar-benar berangkat, kami beberapa kali melakukan meeting. Dan lucunya, tempat meeting-nya juga berpindah-pindah. Wkwkwk.
Kadang sambil makan, kadang sambil ngobrol santai, tetapi topiknya tetap serius:
“Kita mau ke mana?”
Kami berkali-kali membahas destinasi yang paling sesuai dengan alur perjalanan. Bukan hanya soal tempatnya bagus atau tidak, tetapi bagaimana supaya rute perjalanan tetap nyaman dan waktu tidak terlalu banyak habis di jalan.
Belum selesai soal destinasi, muncul pembahasan lain.
Outfit.
Hehe.
Karena kegiatan yang akan dilakukan berbeda-beda, outfit juga harus menyesuaikan. Jangan sampai sudah memilih tempat untuk banyak aktivitas, tapi bajunya malah tidak mendukung.
Setelah itu, kami kembali membahas rundown.
Mana waktu untuk jalan-jalan, mana waktu untuk makan, mana waktu untuk istirahat. Kami ingin perjalanan tetap menyenangkan tanpa membuat semua orang kelelahan.
Dari sini aku sadar, ternyata mempersiapkan perjalanan bersama orang lain membutuhkan banyak komunikasi dan kompromi.
Tidak semua ide langsung cocok. Ada destinasi yang akhirnya dicoret, ada rencana yang diubah, dan ada keputusan yang harus dipertimbangkan kembali.
Tapi justru dari proses itu kami belajar untuk saling mendengarkan dan mencari pilihan yang bisa dinikmati bersama.
Dari Spin Wheel Sampai Ganti Dompet
Selain destinasi dan rundown, tentu saja ada pembagian peran.
Supaya adil, kami akhirnya melakukan spin wheel untuk menentukan siapa yang bertugas sebagai bendahara.
Dan tebak siapa yang terpilih?
Aku.
Artinya, sebelum berangkat aku harus mengganti dompet kecilku dengan dompet yang sedikit lebih besar.
Yap, aku dipercaya untuk menampung uang operasional dan kebutuhan keuangan lainnya selama perjalanan. Wkwkwk.
Merasa menjadi beban?
Tidak sama sekali.
Toh, ini hanya perjalanan delapan orang. Masih manageable. Lagipula, sebelumnya aku juga pernah punya beberapa pengalaman memegang uang untuk kebutuhan bersama, jadi kurang lebih sudah tahu bagaimana cara mengaturnya.
Menurutku, pembagian peran seperti ini justru membuat perjalanan menjadi lebih terorganisir. Ada yang memikirkan rundown, ada yang mengatur destinasi, ada yang memastikan kebutuhan perjalanan, dan ada juga yang bertugas mengurus keuangan.
Semua punya bagian masing-masing.
Ternyata Persiapan Juga Bagian dari Perjalanan
Salah satu hal yang paling aku nikmati dari perjalanan ini justru terjadi sebelum perjalanan dimulai.
Melihat bagaimana kami berdiskusi, saling memberikan pendapat, mengubah rencana, membagi tugas, sampai memastikan kebutuhan masing-masing sudah dipersiapkan.
Semuanya terlihat antusias.
Dan menurutku, ketika orang-orang yang terlibat sama-sama antusias dan komunikatif, persiapan perjalanan juga menjadi jauh lebih matang.
Tidak semuanya harus dilakukan secara dadakan.
Tidak harus satu orang yang memikirkan semuanya.
Dan tidak harus selalu punya rencana yang sempurna.
Yang penting, semua orang mau terlibat.
Mungkin dari sini aku kembali belajar bahwa explore bukan hanya tentang pergi ke tempat baru.
Kadang, explore juga berarti mencoba peran baru, belajar mengatur sesuatu bersama orang lain, mendengar pendapat yang berbeda, dan melihat bagaimana kita bisa beradaptasi dalam situasi yang belum pernah kita alami sebelumnya.
Jadi, kalau sebelumnya aku berpikir “selagi muda, harus banyak mencoba hal baru,” mungkin sekarang kalimat itu ingin aku perluas menjadi:
Tidak harus menunggu muda untuk mencoba. Selama masih punya kesempatan untuk belajar, selalu ada ruang untuk mencoba sesuatu yang baru.
Dan perjalanan Bandung ini adalah salah satu contohnya.
Mungkin nanti aku akan lebih banyak bercerita tentang tempat yang kami kunjungi, makanan yang kami coba, kejadian-kejadian random selama perjalanan, sampai hal-hal kecil yang ternyata membuat trip ini berkesan.
Karena untuk kali ini, perjalanan Bandung baru saja dimulai.
To be continued…
