Hari ini jadwalku WFH. Biasanya WFH jadi hari yang paling menyenangkan karena bisa bekerja dengan suasana yang lebih tenang. Tapi pagi ini rasanya sedikit berbeda.
Sejak malam sebelum tidur, setengah badanku mulai terasa kram. Jujur, kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru buatku. Sejak kecelakaan beberapa tahun lalu, sesekali rasa kram itu memang masih datang. Biasanya hanya sebentar, lalu hilang sendiri. Karena sudah sering mengalaminya, aku pun menganggap, “Ah, nanti juga reda.”
Ternyata pagi harinya rasa itu masih ada.
Bukan hanya kram yang belum hilang, tubuhku juga mulai terasa meriang. Mungkin tubuhku sedang berusaha menahan rasa sakit itu, sampai akhirnya memberi sinyal lain bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
Untungnya, saat bangun tidur aku membuat janji dengan dokter rumah sakit untuk periksa hari ini. Jadi saat jam istirahat kerja tiba, aku langsung bersiap berangkat.
Karena motor yang biasa kupakai sedang dipakai adikku untuk kuliah, pilihanku tinggal motor miliknya. Tapi melihat kondisiku yang sedang kram, aku sama sekali tidak berani memaksakan diri mengendarainya. Motornya lebih tinggi dan lebih berat daripada motorku. Dalam kondisi badan normal mungkin tidak masalah, tapi hari ini rasanya bukan keputusan yang bijak.
Akhirnya aku memesan ojek online.
Perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar dan cepat karena jaraknya memang dekat. Sesampainya di sana pun aku bersyukur karena tidak perlu menunggu lama. Sistem registrasi dengan aplikasi dan janji temu benar-benar membantu, jadi setelah konfirmasi registrasi aku langsung dipanggil dokter.
Setelah beberapa pemeriksaan dilakukan, hasilnya membuatku sedikit lega. Semuanya normal.
Dokter menjelaskan bahwa tubuhku memang sedang dalam kondisi ingin sakit. Mungkin karena ada penurunan daya tahan tubuh atau kelelahan, sehingga sinyalnya muncul di bagian tubuh yang memang sudah “punya cerita” sejak kecelakaan dulu. Seolah-olah tubuh tahu bagian mana yang paling mudah mengingatkan kalau kondisinya sedang tidak fit.
Lucu juga ya, tubuh kita ternyata punya cara sendiri untuk “berkomunikasi.”
Setelah urusan di rumah sakit selesai, aku pulang tepat ketika jam istirahat hampir berakhir. Rasanya badan sudah memberi kode besar-besaran.
“Tidur aja dulu…”
Tapi aku tahu diriku sendiri.
Kalau rebahan siang, kemungkinan besar bukan tidur sebentar, melainkan bablas sampai sore bahkan malam. Akibatnya nanti malam tidak bisa tidur, besok bangun dengan kepala pusing, lalu siklusnya berulang lagi.
Kadang keputusan sederhana seperti rebahan atau tidak pun perlu banyak pertimbangan. Rasanya lucu, tapi memang begitu kenyataannya.
Akhirnya aku memilih kembali membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan. Memang tidak sefit biasanya, tapi masih cukup kuat untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab hari ini.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang benar-benar kusyukuri.
Untung hari ini jadwalku WFH.
Kalau hari ini harus bekerja dari kantor, mungkin aku akan kesulitan menyempatkan diri ke rumah sakit. Harus izin keluar, menghitung waktu perjalanan, lalu kembali lagi ke kantor. Belum lagi kondisi badan yang sedang tidak nyaman.
Dengan WFH, jam istirahat benar-benar bisa dimanfaatkan sesuai fungsinya. Aku bisa kontrol ke dokter, memastikan kondisiku baik-baik saja, lalu kembali bekerja tanpa mengganggu pekerjaan.
Kadang kita baru menyadari nikmat dari sebuah fleksibilitas ketika benar-benar membutuhkannya.
Hari ini mengingatkanku bahwa menjaga kesehatan bukan berarti menunggu sampai sakit parah. Ketika tubuh mulai memberi sinyal sekecil apa pun, ada baiknya kita mendengarkannya. Syukurlah hasil pemeriksaannya baik-baik saja, sehingga aku bisa pulang dengan hati lebih tenang.
Alhamdulillah saat blog ini ditulis wkwk kram di seluruh badan terutama kaki kanan ku sudah berkurang, walaupun rasa kedinginan meriang masih ada. Aman aman sudah biasa, untung saja sudah gajian jadi moodnya bisa dikondisikan pada level tetap bahagia dan nyanyi saat membalas email klien hahahaha