
Hari ini sepertinya otakku sedang mogok.
Biasanya setelah makan siang aku masih bisa mencari ide blog. Tapi entah kenapa hari ini beda. Menjelang sore, rasa kantuknya benar-benar luar biasa. Mata rasanya berat, pikiran kosong, layar laptop sudah dibuka, kursor berkedip-kedip, tapi… tidak ada satu pun topik yang muncul.
Akhirnya aku melakukan aktivitas yang sering dilakukan orang ketika sedang mentok berpikir: melamun.
Pandanganku berkeliling meja kerja sampai akhirnya berhenti di satu benda yang setiap hari menemaniku. Botol minum.
Di botol itu tertulis cukup besar, “Genggam Tangan”, lengkap dengan logo dua tangan yang saling berpegangan.
Melihat tulisan itu, tiba-tiba aku malah teringat ucapan salah satu temanku.
Temanku ini memang spesialis mengeluarkan komentar yang… ya begitulah. Tidak bikin marah, tapi bikin pengen ngelus kepalanya pakai pentungan. 🤣
Waktu itu dia melihat botol minumku lalu langsung berkomentar,
“Ih, botol apaan ini? Mereknya enggak jelas. Genggam Tangan.”
Aku cuma melirik sebentar lalu lanjut minum.
Soalnya aku sudah hafal karakter dia. Memang hobinya iseng. Jadi daripada capek menanggapi, lebih baik diabaikan saja.
Padahal kalau dipikir-pikir, memang benar sih. Merek Genggam Tangan mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Bukan merek yang sering muncul di mall, bukan yang sering dipamerkan influencer, apalagi yang viral di media sosial.
Tapi justru di situlah nilai botol ini buatku.
Aku membeli botol minum ini saat mengikuti kegiatan volunteer di sebuah panti asuhan. Jadi setiap kali memegangnya, yang teringat bukan mereknya, melainkan momen ketika aku mendapatkannya.
Sampai sekarang pun masih kupakai setiap hari.
Bahkan belum ada keinginan sedikit pun untuk membeli botol baru.
Kadang aku heran melihat fenomena sekarang.
Konsep awal menggunakan tumbler, kan, supaya kita mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Intinya adalah memakai satu botol berkali-kali agar sampah berkurang.
Tapi sekarang justru muncul fenomena yang menurutku agak lucu.
Perusahaan tumbler terus mengeluarkan model baru.
Hari ini warna baru.
Minggu depan edisi baru.
Bulan depan kolaborasi baru.
Limited edition.
Seasonal edition.
Anniversary edition.
Dan masih banyak lagi.
Belum lagi media sosial yang membuat orang merasa, “Wah, yang itu lucu ya. Yang ini juga pengen.”
Aku bahkan pernah melihat sebuah reels di Instagram yang membahas hal ini. Isinya mempertanyakan bagaimana sebuah produk yang awalnya membawa misi mengurangi konsumsi berlebihan justru ikut mendorong budaya membeli barang yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan.
Kalau setiap tren baru membuat kita membeli tumbler lagi, lalu lagi, dan lagi…
Bukankah akhirnya kita tetap mengonsumsi lebih banyak barang?
Tentu saja tidak ada yang salah kalau memang seseorang membutuhkan tumbler baru. Misalnya yang lama rusak, bocor, atau kapasitasnya memang tidak sesuai kebutuhan.
Yang jadi pertanyaan adalah ketika kita membeli hanya karena takut ketinggalan tren.
Padahal botol yang lama masih berfungsi dengan sangat baik.
Seperti botol minumku ini.
Mungkin mereknya tidak terkenal.
Mungkin kalau dilihat orang lain biasa saja.
Mungkin juga masih akan dikomentari temanku dengan kalimat-kalimat menyebalkan berikutnya.
Tapi selama masih bisa dipakai, masih menemani minum setiap hari, dan masih mengingatkanku pada pengalaman volunteer yang menyenangkan, rasanya tidak ada alasan untuk menggantinya.
Lucunya lagi, dari botol minum yang sempat diejek itulah akhirnya lahir tulisan ini.
Ternyata memang benar, inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan dari sebuah tumbler yang sedang diam di atas meja.
Dan mungkin… lain kali kalau aku kehabisan ide blog lagi, aku tinggal melihat sekeliling meja. Siapa tahu ada benda lain yang siap “mengobrol” denganku.