Beberapa hari lalu, saat briefing pagi, Pak Boss mengatakan sesuatu yang sederhana.
Katanya, banyak orang yang semangat saat menemukan bacaan menarik atau melihat buku yang sedang ramai dibahas. Excited mencari bukunya, membaca sinopsisnya, bahkan langsung menyimpannya. Tapi setelah itu… bukunya tidak kunjung dibaca.
Entah kenapa kalimat itu terus teringat.
Awalnya aku merasa, “Ah, kayaknya bukan aku deh.”
Soalnya aku memang suka membaca.
Kalau sudah menemukan buku yang cocok, aku bisa lupa waktu. Aku suka bagian ketika sebuah buku membuatku berhenti sejenak karena ada satu kalimat yang terasa sangat mengena. Aku juga suka ketika selesai membaca sebuah novel lalu masih memikirkan tokohnya beberapa hari setelah buku itu ditutup.
Tapi setelah kupikir-pikir lagi…
Mungkin ada sedikit bagian dari diriku yang dimaksud oleh Pak Boss.
Setiap kali melihat rekomendasi buku di media sosial, aku hampir selalu penasaran.
Bukan karena sedang FOMO.
Tapi memang karena sinopsisnya menarik.
“Wah… ini kayaknya cocok buat aku.”
Lalu aku mulai mencari ebook-nya.
Kalau tidak ada, aku cari buku fisiknya.
Kalau sudah ketemu, rasanya senang.
Bukan karena berhasil menambah koleksi.
Tapi karena aku membayangkan, “Nanti kalau ada waktu, aku ingin membaca ini.”
Masalahnya adalah…
Daftar “nanti” itu semakin panjang.
Belum selesai membaca satu buku, sudah muncul rekomendasi buku lain.
Belum selesai novel, ada buku psikologi yang menarik.
Belum selesai psikologi, ada komik Korea yang katanya bagus.
Belum selesai yang itu, ada lagi buku tentang quarter-life crisis.
Akhirnya folder ebook-ku semakin penuh.
Rak bukuku juga mulai bertambah.
Bukan karena aku ingin mengoleksi.
Tapi karena rasa ingin tahuku selalu datang lebih cepat daripada waktu luangku.
Aku baru sadar, mungkin ini konsekuensi dari benar-benar suka membaca.
Semakin banyak membaca, semakin banyak juga buku lain yang ingin kita baca.
Satu buku selesai, penulisnya merekomendasikan lima buku lain.
Satu video tentang psikologi muncul, algoritma langsung memberikan sepuluh rekomendasi berikutnya.
Rasa penasaranku tidak pernah benar-benar habis.
Yang terbatas justru waktunya.
Sekarang aku tidak lagi melihat folder ebook yang penuh sebagai sesuatu yang harus membuatku merasa bersalah.
Aku menganggapnya seperti daftar tempat yang ingin kukunjungi.
Tidak harus semuanya hari ini.
Tidak harus selesai bulan ini.
Karena membaca, bagiku, bukan perlombaan.
Ada buku yang memang datang di waktu yang tepat.
Ada juga buku yang mungkin baru benar-benar kupahami beberapa tahun lagi.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang penting, ketika akhirnya aku membacanya, aku benar-benar hadir di setiap halamannya.
Aku sadar kalau rasa ingin tahuku berkembang jauh lebih cepat daripada waktu yang kumiliki.
