Seperti biasa, hari Senin menjadi awal untuk kembali menjalani rutinitas bekerja di kantor. Pagi ini dimulai dengan briefing rutin bersama tim, membahas pembaruan pekerjaan, kendala yang dihadapi, serta beberapa hal lain yang perlu menjadi perhatian bersama.
Dari sekian banyak pembahasan dalam briefing pagi ini, ada satu kalimat dari Pak Boss yang menjadi perhatian di pikiran saya.
Libatkan dan pertimbangkan worst case scenario dalam setiap hal yang kita rencanakan.
Sederhananya, kita perlu memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sebelum mengambil keputusan atau menjalankan suatu rencana. Bukan untuk membuat diri sendiri takut melangkah, melainkan supaya kita lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Kalau dipikir-pikir, nasihat ini sebenarnya relevan bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pekerjaan sebagai sales, misalnya, kita tidak cukup hanya memikirkan bagaimana sebuah penawaran bisa diterima oleh klien atau bagaimana target bisa tercapai. Ada banyak kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan. Bagaimana jika klien tidak memberikan respons? Bagaimana jika kebutuhan klien berubah di tengah proses? Atau bagaimana jika ada kendala yang membuat pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana?
Dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut, kita bisa menyiapkan langkah antisipasi sejak awal. Setidaknya, ketika sesuatu yang tidak diharapkan benar-benar terjadi, kita tidak sepenuhnya kebingungan mencari jalan keluar.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Ketika merencanakan sesuatu, terkadang kita terlalu fokus pada hasil yang diinginkan sampai lupa memikirkan apa yang mungkin menghambatnya. Padahal, menyiapkan alternatif bukan berarti kita pesimis. Justru, kita sedang berusaha lebih realistis dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Tentu saja, tidak semua kemungkinan bisa diprediksi. Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita, sebaik apa pun perencanaannya. Namun, setidaknya kita bisa berusaha mengenali risiko yang mungkin muncul dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Dari briefing pagi ini, saya belajar bahwa membuat rencana bukan hanya tentang menentukan bagaimana sesuatu bisa berhasil, tetapi juga memikirkan apa yang akan dilakukan jika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Sebab, kesiapan bukan hanya tentang memiliki rencana terbaik, tetapi juga tentang mengetahui langkah apa yang bisa diambil ketika rencana tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Satu pelajaran kecil dari briefing hari Senin yang rasanya layak untuk dibawa ke dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Selamat memulai minggu yang baru. Semoga kita bukan hanya semakin baik dalam menyusun rencana, tetapi juga semakin bijak dalam mempertimbangkan berbagai kemungkinan.
