Belakangan ini aku baru menyadari satu hal kecil yang ternyata cukup berpengaruh buat diriku sendiri.
Aku menaruh perhatian untuk kegiatan menulis.
Bukan cuma menulis sesuatu yang penting atau sesuatu yang memang harus ditulis, tapi juga menulis hal-hal sederhana yang terjadi sehari-hari. Tentang pekerjaan, obrolan dengan orang lain, sesuatu yang kupikirkan, kejadian kecil yang menurutku menarik, sampai hal-hal yang mungkin kalau diceritakan secara langsung sebenarnya tidak terlalu panjang.
Awalnya aku menganggap menulis di blog hanya sebagai kegiatan untuk mengisi blog.
Tapi semakin sering dilakukan, ternyata efeknya terasa ke diri sendiri.
Aku memang termasuk orang yang lebih sering menjadi pendengar. Kalau sedang ngobrol dengan orang lain, aku bisa cukup nyaman mendengarkan cerita mereka. Bahkan terkadang aku lebih mudah memahami cerita orang lain dibandingkan menjelaskan ceritaku sendiri.
Bukan berarti aku tidak pernah cerita.
Aku tetap bercerita kalau memang ada sesuatu yang ingin disampaikan. Hanya saja, aku baru sadar kalau ada perbedaan antara menceritakan sesuatu lewat percakapan dan menceritakannya lewat tulisan.
Ada yang berbeda ketika cerita ditulis
Kalau berbicara, biasanya cerita keluar begitu saja.
Aku mengingat kejadian, kemudian menceritakannya. Setelah selesai, ya sudah. Percakapannya selesai dan perhatian berpindah ke hal lain.
Tapi ketika menulis, aku seperti punya kesempatan untuk berhenti sebentar.
Aku bisa mengingat lagi apa yang terjadi. Memikirkan bagian mana yang sebenarnya menarik. Menyadari apa yang kurasakan saat itu. Bahkan kadang menemukan pendapat atau kesimpulan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Ada beberapa hal yang ketika dibicarakan rasanya biasa saja.
Tapi ketika ditulis, ternyata meninggalkan perasaan yang berbeda.
Mungkin karena saat menulis, aku tidak hanya mengingat kejadian, tetapi juga memproses kejadian tersebut.
Misalnya ada sesuatu yang membuat senang.
Ketika diceritakan, mungkin cukup dengan, “Tadi ada kejadian lucu di kantor.”
Selesai.
Tapi ketika ditulis, aku bisa mengingat kembali bagaimana kejadiannya, kenapa menurutku lucu, bagaimana reaksiku saat itu, dan akhirnya menyadari bahwa ternyata kejadian kecil tersebut memang membuat hari itu terasa sedikit lebih menyenangkan.
Begitu juga dengan hal-hal yang kurang menyenangkan.
Menuliskannya membuat aku punya ruang untuk melihat kejadian tersebut dari jarak yang sedikit lebih jauh.
Ternyata menulis juga menjadi cara untuk mengenal diri sendiri
Ini bagian yang paling tidak aku sangka.
Selama ini aku mengira blog hanya tempat untuk menyimpan cerita.
Ternyata blog juga seperti tempat untuk meninggalkan jejak pemikiran.
Suatu hari nanti ketika membaca tulisan lama, aku bisa melihat bagaimana cara berpikirku pada saat itu.
Apa yang sedang aku khawatirkan.
Apa yang membuatku senang.
Apa yang ternyata penting buatku.
Dan mungkin ada juga hal-hal yang dulu terasa besar, tetapi ketika dibaca kembali beberapa bulan kemudian ternyata sudah tidak terlalu berarti.
Dari situ aku jadi merasa, ternyata menulis bukan cuma tentang membagikan cerita kepada orang lain.
Kadang tulisan itu justru lebih banyak berbicara kepada diri sendiri.
Aku tetap suka menjadi pendengar
Dan mungkin setelah menyadari ini, aku tidak merasa harus berubah menjadi orang yang paling banyak bercerita.
Aku masih suka mendengarkan orang lain.
Aku masih nyaman ketika seseorang bercerita panjang lebar kepadaku.
Hanya saja sekarang aku mulai menyadari bahwa menjadi pendengar bukan berarti aku tidak punya ruang untuk menyampaikan ceritaku sendiri.
Kalau ada sesuatu yang sulit aku sampaikan lewat percakapan, mungkin aku bisa menuliskannya.
Tidak harus selalu dibagikan kepada orang lain.
Tidak harus selalu menghasilkan tulisan yang bagus.
Kadang cukup ditulis supaya aku sendiri tahu:
“Oh, ternyata aku merasakan hal ini.”
Dan mungkin itu yang selama ini tidak aku sadari.
Aku tidak kekurangan cerita.
Aku hanya menemukan bahwa tulisan adalah salah satu cara yang paling nyaman untuk membuat ceritaku terasa lebih berarti.
Jadi, mungkin ke depannya aku akan tetap menulis hal-hal kecil.
Tentang hari ini, tentang pekerjaan, tentang orang-orang yang kutemui, tentang sesuatu yang kupikirkan sebelum tidur, atau bahkan tentang kejadian yang awalnya kupikir tidak penting.
Karena ternyata, beberapa cerita memang baru terasa maknanya setelah dituliskan.
