Entah sejak kapan aku punya anggapan kalau hari Jumat adalah hari yang paling “ramah” di kantor. Rasanya semua orang sudah mulai menghitung jam menuju akhir pekan. Pekerjaan biasanya mulai berkurang, suasana sedikit lebih santai, dan obrolan ringan mulai lebih sering terdengar dibanding bunyi notifikasi email.
Tapi ternyata, tidak semua Jumat berjalan sesuai ekspektasi.
Hari ini justru kebalikannya.
Sejak pagi kantor sudah terasa hidup. Satu per satu tamu datang untuk berbagai keperluan. Ruang meeting beberapa kali terisi, pintu kantor terus terbuka dan tertutup, sementara staf di dalam kantor terlihat wara-wiri ke sana kemari. Ada yang sedang menyiapkan dokumen, ada yang menyambut tamu, ada yang bolak-balik membawa perlengkapan, dan ada juga yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan di depan layar komputer.
Biasanya aku bisa sesekali berhenti sejenak untuk menikmati secangkir minuman atau sekadar melihat keluar jendela. Hari ini? Rasanya baru sadar waktu sudah siang ketika perut mulai mengingatkan kalau belum sempat benar-benar istirahat.
Lucunya, di tengah kesibukan itu, aku sempat berpikir, “Bukannya ini hari Jumat?”
Hari yang selama ini identik dengan ritme kerja yang lebih pelan, ternyata bisa berubah menjadi salah satu hari paling sibuk dalam seminggu. Mungkin memang pekerjaan tidak mengenal nama hari. Selama masih ada yang harus diselesaikan, kalender hanyalah angka.
Meski melelahkan, ada satu hal yang kusukai dari hari seperti ini. Kantor terasa benar-benar hidup. Semua orang bergerak dengan tujuan masing-masing, saling membantu ketika diperlukan, dan tanpa sadar kesibukan itu membuat waktu berjalan sangat cepat.
Tiba-tiba saja jam pulang sudah di depan mata.
Mungkin memang tidak semua Jumat harus tenang. Ada Jumat yang diisi dengan pekerjaan yang datang bertubi-tubi, tamu yang silih berganti, dan langkah kaki yang tidak berhenti terdengar di sepanjang lorong kantor.
Namun justru dari hari seperti ini aku belajar bahwa produktif tidak selalu terasa berat. Ketika semua orang memiliki semangat yang sama untuk menyelesaikan pekerjaannya, rasa lelah perlahan berubah menjadi kepuasan.
Akhirnya, weekend tetap datang seperti biasa.
Bedanya, kali ini ia terasa sedikit lebih pantas untuk dinikmati setelah melewati Jumat yang begitu sibuk.