
Libur panjang kali ini rasanya datang seperti jeda kecil yang diam-diam menenangkan. Dimulai sejak hari Kamis karena libur Kenaikan Isa Almasih, lalu berlanjut sampai Minggu. Bahkan kalau dipikir-pikir, suasana libur itu sudah terasa sejak Rabu, ketika kebijakan WFA membuat pagi terasa lebih lambat dan jalan menuju kantor tidak perlu dilalui. Rasanya seperti diberi ruang sebentar untuk berhenti dari rutinitas yang biasanya berjalan cepat.
Awalnya aku benar-benar berniat menghabiskan libur di rumah saja. Beristirahat, tidur lebih lama, rebahan tanpa memikirkan pekerjaan. Kedengarannya menyenangkan. Tapi ternyata, terlalu lama diam juga membuat tubuh dan pikiran terasa penuh. Hari-hari berlalu hanya ditemani bantal, kasur, dan langit-langit kamar yang itu-itu saja. Anehnya, bukan segar yang datang, melainkan rasa lelah yang lain. Mungkin tubuh memang perlu bergerak, dan hati kadang perlu melihat dunia di luar jendela.
Akhirnya hari Sabtu aku memutuskan keluar.
Tidak jauh. Hanya berkeliling Bekasi dan pergi ke mall—karena ya… kalau di Bekasi bingung mau main ke mana lagi selain mall, hehe.
Namun ternyata, sesederhana itu saja sudah cukup membuat hati terasa lebih hidup.
Menjelang sore, aku dan teman mainku singgah ke sebuah minimarket dekat LRT Tambun Bekasi. Kami duduk di depan minimarket sambil menikmati es krim murah yang entah kenapa terasa sangat nikmat sore itu. Angin lewat pelan. Orang-orang berlalu lalang pulang kerja. Ada yang berjalan cepat mengejar waktu, ada yang tampak lelah, ada juga yang sesekali tertawa bersama temannya.
Suasananya sederhana, tapi hangat.
Lalu tiba-tiba aku heboh sendiri.
Karena sebuah mobil sport datang dan berhenti tepat di parkiran depan mataku.
Aku memang selalu punya rasa suka yang berlebihan pada mobil sport, apalagi kalau sudah melihat Porsche atau BMW. Rasanya seperti anak kecil yang melihat mainan favoritnya di etalase toko. Excited? Sudah pasti. Dan seperti biasa, refleks mulut ini langsung bersholawat sambil mengirim doa kecil ke langit,
“Siapa tahu suatu saat aku yang punya…”
Haha.
Kadang lucu juga memikirkan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa membuat kita sebahagia itu.
Namun sore itu aku sadar, mungkin yang membuat hati terasa tenang bukan soal mall, es krim, atau mobil sportnya. Tapi karena aku memilih keluar dan melihat dunia bergerak lagi.
Dari duduk di depan minimarket saja, ternyata banyak hal yang bisa direnungkan.
Tentang orang-orang yang pulang kerja dari LRT dengan wajah lelah namun tetap berjalan pulang. Tentang suara klakson angkot yang saling bersahutan memenuhi jalan. Tentang pedagang tisu dan cemilan yang terus menawarkan dagangannya di tengah hiruk pikuk kendaraan. Tentang seorang bapak penjual yang tersenyum kecil melihat anaknya tertawa mendengar suara telolet bus.
Dunia ternyata sibuk sekali.
Dan mungkin memang tidak ada manusia yang benar-benar tidak lelah.
Semua orang sedang berjalan membawa bebannya masing-masing. Semua sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri. Namun di sela-sela sibuk dan lelah itu, Tuhan tetap menitipkan tenang dalam bentuk-bentuk kecil yang sering tidak kita sadari.
Dalam es krim di sore hari.
Dalam angin yang lewat pelan.
Dalam tawa kecil.
Dalam doa sederhana.
Dalam harapan-harapan yang diam-diam kita kirim ke langit.
Aku jadi merasa, hidup memang bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Semua orang punya porsinya sendiri-sendiri. Punya jalannya masing-masing. Dan tugas kita mungkin hanya menjalani semuanya sebaik mungkin, sambil terus berharap ridho-Nya dan berusaha membawa manfaat untuk sekitar.
Leave a Reply