MBG: Program Baik yang Jangan Sampai Kehilangan Makna

Membaca tulisan “MBG” di Disway.id membuat saya berpikir bahwa program makan bergizi gratis sebenarnya bukan hanya soal makanan. Program ini berbicara tentang masa depan, kualitas generasi, dan cara negara hadir untuk rakyat kecil. Meski demikian, program sebesar ini juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi sekadar proyek formalitas.

Saya pribadi melihat MBG sebagai ide yang sangat baik. Tidak semua anak berangkat sekolah dalam kondisi kenyang. Masih banyak yang belajar dengan perut kosong atau makan seadanya. Dalam kondisi seperti itu, sulit berharap konsentrasi belajar mereka maksimal. Karena itu, ketika negara mencoba hadir melalui program makan bergizi, tentu ini patut diapresiasi.

Namun, tantangan sebenarnya justru ada pada pelaksanaannya. Program besar sering kali terlihat bagus di atas kertas, tetapi berbeda saat diterapkan di lapangan. Kualitas makanan, distribusi, kebersihan, hingga pengawasan anggaran menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai tujuan mulia malah menimbulkan masalah baru.

Menurut saya, MBG juga seharusnya tidak hanya dipandang sebagai “memberi makan gratis”. Akan lebih baik jika program ini sekaligus menghidupkan ekonomi lokal. Misalnya, bahan makanan dibeli dari petani sekitar, UMKM lokal dilibatkan, dan tenaga dapur berasal dari masyarakat setempat. Dengan begitu, manfaatnya menjadi lebih luas, bukan hanya untuk siswa tetapi juga ekonomi daerah.

Hal lain yang menarik dari tulisan Dahlan Iskan adalah bagaimana beliau sering melihat persoalan dari sisi praktis dan realita lapangan. Gaya tulisan seperti itu membuat pembaca tidak hanya melihat kebijakan dari sisi pencitraan, tetapi juga dari kemungkinan tantangan yang akan muncul. (interior.disway.id)

Pada akhirnya, saya melihat MBG sebagai program yang punya niat baik dan potensi besar. Tetapi keberhasilannya tidak cukup hanya dengan anggaran besar atau slogan yang menarik. Yang paling penting adalah konsistensi, pengawasan, dan keseriusan dalam menjaga kualitas pelaksanaannya. Karena kalau benar dijalankan dengan baik, dampaknya bisa dirasakan bertahun-tahun ke depan oleh generasi muda Indonesia.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *