Skip to content

Blognya Asri

My WordPress Blog

  • Home
  • 2026
  • February
  • 20
  • Belajar Berdamai dengan Trauma

Belajar Berdamai dengan Trauma

Posted on February 20, 2026 By asrisahnrd_ No Comments on Belajar Berdamai dengan Trauma
Uncategorized
https://gunungkidul.sorot.co/berita-110806-link.html

Tepatnya akhir tahun 2024, aku mengalami kecelakaan tunggal di Gunungkidul. Rem motor tiba-tiba blong, dan dalam hitungan detik semuanya berubah. Aku terjatuh, dan kejadian itu membuat dengkul kaki kananku sulit berjalan selama beberapa bulan. Saat itu yang paling terasa adalah sakit fisiknya—nyata, terlihat, dan benar-benar membatasi gerakku. Hari-hari terasa lebih lambat karena berjalan saja tidak mudah. Butuh waktu, kesabaran, dan proses sampai akhirnya aku bisa kembali berjalan normal.

Ketika rasa sakit itu perlahan menghilang, aku pikir semuanya juga ikut sembuh. Aku mengira dengan pulihnya kondisi fisik, rasa takut untuk naik motor juga akan hilang dengan sendirinya. Ternyata tidak sesederhana itu.

Secara fisik aku memang sudah membaik, tetapi setiap kali harus naik motor sendirian—terutama di jalan yang sangat padat—tubuhku bereaksi berbeda. Tanganku gemetar. Napasku terasa sesak. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seolah-olah tubuhku masih mengingat kejadian di akhir 2024 itu, meskipun pikiranku berusaha mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku baru menyadari bahwa trauma tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga menetap dalam respons tubuh.

Selama ini aku masih berangkat kerja dengan ibu sebagai penumpang. Ada rasa aman ketika tidak sendirian, ada perasaan terlindungi yang membuatku lebih tenang. Namun dalam waktu dekat aku harus mulai berangkat sendiri. Pikiran tentang itu memunculkan kecemasan yang sulit dijelaskan. Bukan karena aku tidak bisa mengendarai motor, tetapi karena ada bayangan masa lalu yang masih muncul, terutama ketika membayangkan kondisi jalan yang padat dan penuh risiko. Ada suara kecil dalam diri yang terus bertanya, “Bagaimana kalau itu terjadi lagi?”

Di titik ini aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bergantung pada orang lain untuk merasa aman. Menghindari ketakutan hanya akan membuatnya tetap tinggal. Aku tidak ingin selamanya hidup dalam bayang-bayang satu kejadian. Aku ingin meminimalisir efek trauma itu, meskipun harus pelan-pelan.

Aku mulai dengan mengakui bahwa aku memang takut. Tidak menyangkalnya, tidak memaksa diri untuk terlihat kuat. Aku mencoba kembali membiasakan diri berkendara di kondisi jalan yang lebih tenang. Saat rasa panik muncul, aku belajar mengatur napas dan menenangkan diri. Aku mengingatkan diriku bahwa motorku dalam kondisi baik, bahwa aku sudah lebih waspada, dan bahwa aku punya kendali.

Aku juga mencoba mengubah cara pandangku terhadap kejadian itu. Dulu aku melihatnya sebagai pengalaman yang menakutkan dan menyakitkan. Sekarang aku berusaha melihatnya sebagai bagian dari proses bertumbuh—pengalaman yang membuatku lebih berhati-hati dan lebih menghargai keselamatan. Kejadian itu adalah bagian dari ceritaku, tetapi bukan penentu masa depanku.

Keluar dari zona nyaman sering dibicarakan, tetapi bagiku ini lebih dari itu. Ini tentang keluar dari zona trauma—zona di mana aku merasa aman karena tidak mencoba, karena bergantung, karena membiarkan rasa takut mengambil alih. Padahal aku tahu, di luar sana ada versi diriku yang lebih mandiri dan lebih percaya diri.

Mungkin saat pertama kali berangkat sendiri aku masih gemetar. Mungkin napasku masih terasa berat. Namun aku percaya bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski takut itu ada. Aku pernah jatuh, aku pernah kesakitan, tetapi aku juga pernah sembuh. Jika tubuhku bisa pulih dari luka fisik, maka perlahan jiwaku pun akan pulih dari luka batin. Pelan-pelan, satu perjalanan demi satu perjalanan, aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu melaju lagi.

Post navigation

❮ Previous Post: Hari Pertama Puasa, Babak Baru dalam Perjalanan Karier
Next Post: Semangat Sahur ❯

You may also like

Uncategorized
Belajar dari Kebakaran SPBE Cimuning: Ketika Kelalaian Kecil Berujung Bencana Besar
April 6, 2026
Uncategorized
Rekening Bisa Hilang, Stres Menyusul
January 26, 2026
Uncategorized
Belajar Menghemat, Belajar Menghargai Diri
June 24, 2026
Uncategorized
Ketika Neraka Tak Lagi Menakutkan bagi Para Pemegang Amanah
January 21, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  • Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  • Belajar Mengelola Emosi di Jalan
  • Kebiasaan Kecil dari Bapak Masih Aku Bawa Sampai Sekarang
  • Tiga Kabar Membahagiakan Hari Ini

Recent Comments

  1. asrisahnrd_ on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  2. Vavai on Ketika Banyak Ide Malah Bingung Mau Nulis Apa
  3. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  4. Zahro alhasny on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah
  5. asrisahnrd_ on Ketika Jam Kerja Bapak Berubah, Jam Hidup Serumah Ikut Berubah

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Blognya Asri.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by