Hari ini seperti biasa rutinitas sehari-hari yaitu membaca artikel Pak Dahlan Iskan, namun hari ini terdapat satu judul artikel yang menarik perhatianku yaitu kasus manajer tempat kursus bahasa Inggris di Kelapa Gading yang diduga mengancam murid usia 7 tahun.
Awalnya aku kira ini hanya sekadar konflik kecil antara orang tua dan pihak tempat kursus. Tapi setelah membaca lebih jauh, rasanya sulit untuk menganggap ini sebagai hal biasa. Ada sesuatu yang terasa janggal—bahkan mengganggu.
Bagaimana mungkin sebuah tempat belajar, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak, justru menjadi sumber ketakutan?
Dari informasi yang beredar, kasus ini bermula dari insiden sederhana—seorang anak terjatuh di area kursus. Namun ketika orang tua mencoba meminta klarifikasi, situasinya justru berkembang menjadi dugaan ancaman, bahkan disertai ujaran yang tidak pantas. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian dan sedang dalam proses penyelidikan .
Di titik ini, menurutku masalahnya bukan lagi soal siapa yang benar atau salah secara teknis. Tapi soal bagaimana orang dewasa—terlebih yang berada di lingkungan pendidikan—mengelola emosi dan tanggung jawabnya.
Karena jujur saja, anak usia 7 tahun itu belum paham dunia orang dewasa. Mereka hanya tahu satu hal: apakah mereka merasa aman atau tidak.
Dan ketika rasa aman itu hilang, dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekadar satu kejadian.
Aku jadi berpikir, kadang kita terlalu fokus pada “branding” tempat kursus—fasilitas bagus, pengajar profesional, kurikulum internasional—tapi lupa pada hal yang paling mendasar: sikap manusia di dalamnya.
Percuma tempatnya terlihat modern kalau empatinya nol.
Yang lebih membuatku prihatin adalah bagaimana konflik ini bisa sampai melibatkan ancaman. Dalam dunia pendidikan, bahkan di level non-formal sekalipun, harusnya ada standar moral yang dijaga. Bukan hanya soal mengajar, tapi juga bagaimana memperlakukan murid dan orang tua.
Kalau hal seperti ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan akan perlahan terkikis.
Menurutku, kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi juga soal lingkungan. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tapi dari bagaimana orang dewasa bersikap di sekitar mereka.
Dan ketika yang mereka lihat adalah kemarahan, ancaman, atau bahkan arogansi—itu juga yang tanpa sadar mereka pelajari.
Pada akhirnya, semoga kasus ini bisa diselesaikan dengan adil. Bukan hanya untuk keluarga korban, tapi juga sebagai pelajaran bagi semua pihak—bahwa bekerja di dunia pendidikan berarti memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar pekerjaan.
Karena di sana, ada masa depan anak-anak yang sedang dibentuk.
Leave a Reply