Author: asrisahnrd_

  • Mengenal Diri, Menerima Proses

    Ada satu fase dalam hidup di mana kita terlalu sering melihat ke luar, sampai lupa menengok ke dalam. Melihat pencapaian orang lain, membandingkan proses mereka dengan langkah kita, lalu diam-diam merasa tertinggal. Dari situlah rasa insecure sering tumbuh—pelan tapi pasti.

    Padahal, setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing.

    Aku mulai menyadari bahwa kemampuan diri tidak selalu harus terlihat mencolok untuk bisa bernilai. Ada hal-hal yang tumbuh dalam diam: ketekunan, konsistensi, keberanian untuk tetap melangkah meski ragu. Sayangnya, hal-hal seperti ini sering kalah sorotan dibanding pencapaian besar yang tampak di permukaan.

    Dulu, aku sering merasa kurang hanya karena tidak berada di titik yang sama dengan orang lain. Aku lupa bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri. Kita tidak sedang berlomba, melainkan sedang bertumbuh.

    Insecure Itu Manusiawi, Tapi Jangan Dijadikan Rumah

    Merasa insecure bukanlah tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kita peduli. Namun, yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa itu menetap terlalu lama dan mengaburkan pandangan kita terhadap diri sendiri. Saat insecure datang, aku belajar untuk berhenti sejenak dan bertanya:

    • Apa yang sebenarnya aku takuti?
    • Apakah aku benar-benar tidak mampu, atau hanya terlalu keras pada diri sendiri?

    Sering kali jawabannya bukan karena tidak bisa, tapi karena lupa melihat sejauh apa sudah melangkah.

    Melihat Kemampuan Diri dengan Jujur

    Melihat kemampuan diri bukan tentang membanggakan diri, tapi tentang bersikap adil pada diri sendiri. Mengakui bahwa kita punya batas, tapi juga punya potensi. Ada hal yang belum dikuasai hari ini, tapi bukan berarti tidak akan bisa dipelajari esok hari. Aku belajar bahwa setiap keterampilan, sekecil apa pun, adalah bekal. Setiap kesalahan bukan aib, melainkan bahan belajar. Dan setiap kegagalan adalah guru yang datang tanpa undangan.

    Menjadikan Setiap Momen Sebagai Pembelajaran

    Hidup tidak selalu memberi hasil sesuai rencana, tapi selalu memberi pelajaran. Dari momen lelah, kecewa, salah langkah, hingga keberhasilan kecil yang sering kita remehkan—semuanya punya makna. Ketika aku mulai memandang hidup sebagai ruang belajar, tekanan untuk “harus selalu sempurna” perlahan berkurang. Aku lebih fokus pada proses, bukan sekadar hasil. Lebih menghargai usaha, bukan hanya pencapaian.

    Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa sadar kita belajar di sepanjang perjalanan. Belajar mengenali diri sendiri adalah perjalanan seumur hidup. Akan ada hari-hari di mana kita merasa kuat, dan ada hari di mana kita ragu. Keduanya sama-sama valid. Selama kita mau terus belajar, mau terus bertumbuh, dan mau memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut, kita tidak pernah benar-benar tertinggal.

    Karena setiap momen—baik atau buruk—selalu punya sesuatu untuk diajarkan.

  • Belajar Tenang Menghadapi Hal Baru

    Hari ini saya kembali belajar satu hal penting tentang diri saya sendiri: mencoba dan menghadapi hal positif yang baru.

    Pagi ini, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi moderator dalam kegiatan briefing rutin mingguan bersama seluruh tim. Biasanya, briefing dilakukan secara offline di markas, dengan suasana yang sudah sangat familiar. Namun kali ini berbeda, briefing dilakukan secara online melalui Zoom Meeting.

    Jujur saja, deg-degan itu muncul. Dan menurut saya, itu hal yang sangat wajar. Deg-degan bukan selalu tanda ketakutan, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa kita sedang bersiap, bahwa ada tanggung jawab yang ingin kita jalankan dengan baik.

    Namun pagi ini ada satu hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Saya keliru membaca SOP panduan briefing yang sebelumnya sudah dikirimkan. Di titik itu, ada dua pilihan: panik dan menyalahkan diri sendiri, atau berusaha tetap tenang agar semuanya tetap berjalan dengan baik.

    Saya memilih untuk tetap tenang. Fokus saya bukan lagi pada kesalahan yang sudah terjadi, melainkan pada bagaimana briefing bisa tetap berlangsung sampai selesai tanpa menjadi kacau. Dan alhamdulillah, briefing tetap berjalan dengan baik.

    Dari kejadian ini, saya belajar bahwa melakukan kesalahan di pertama kali adalah hal yang wajar. Tidak semua hal langsung bisa berjalan sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Kesalahan bukan untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan pembelajaran.

    Pengalaman hari ini menjadi pengingat bagi saya bahwa ke depannya, saya mungkin akan menghadapi hal serupa, atau bahkan tantangan yang jauh lebih besar. Maka, belajar tenang, belajar bertanggung jawab, dan belajar memperbaiki diri adalah bekal yang sangat penting.

    Pelan-pelan, saya belajar bahwa bertumbuh tidak selalu tentang berhasil tanpa salah, tetapi tentang mau belajar dari kesalahan dan berani melangkah lagi dengan lebih siap.

  • Menutup Satu Bab, Membuka Bab Baru

    Hari ini saya menerima sebuah undangan buka bersama yang terasa berbeda dari biasanya. Undangan tersebut sekaligus menjadi momen perpisahan resmi saya sebagai asisten dosen di Sekolah Vokasi IPB. Ada rasa senang, haru, dan sedikit tidak percaya bahwa fase ini akhirnya benar-benar sampai di titik akhir.

    Menjadi asisten dosen ternyata jauh lebih dari sekadar membantu kegiatan akademik. Dalam keseharian, rasanya seperti mengurus ratusan adik-adik dengan berbagai karakter dan tingkah laku. Ada yang aktif bertanya, ada yang diam tapi penuh potensi, ada yang sering terlambat, dan ada pula yang selalu hadir paling awal. Semua punya ceritanya masing-masing.

    Tidak jarang saya merasa lelah, terutama saat harus menghadapi banyak hal dalam waktu bersamaan. Namun di balik itu, ada banyak momen kecil yang justru membuat peran ini terasa sangat bermakna. Mulai dari melihat mahasiswa yang awalnya bingung lalu perlahan paham, sampai obrolan ringan di luar kelas yang sering kali lebih berkesan daripada materi perkuliahan itu sendiri.

    Selama menjadi asisten dosen, saya belajar banyak hal. Bukan hanya soal tanggung jawab dan manajemen waktu, tetapi juga tentang kesabaran, empati, dan cara berkomunikasi dengan berbagai kepribadian. Setiap hari seperti latihan menjadi versi diri yang lebih dewasa dan lebih siap menghadapi dunia akademik dan sosial.

    Perpisahan ini juga menjadi pengingat bahwa kini saya harus memulai lembaran baru. Setelah fase belajar dan mendampingi mahasiswa, saatnya melangkah ke dunia kerja yang lebih profesional. Tantangannya tentu berbeda, tetapi nilai-nilai yang saya dapatkan selama menjadi asisten dosen akan menjadi bekal penting untuk mengembangkan kompetensi, meningkatkan etos kerja, dan beradaptasi di lingkungan yang lebih dinamis.

    Undangan buka bersama dan perpisahan ini menjadi penanda bahwa semua kenangan tersebut kini resmi menjadi bagian dari masa lalu yang indah. Ada rasa berat untuk melepas, tetapi juga rasa syukur karena pernah diberi kesempatan menjalani peran ini. Tidak semua orang bisa merasakan pengalaman yang sama.

    Saya percaya, kenangan manis sebagai asisten dosen ini akan selalu saya ingat. Bukan hanya sebagai catatan perjalanan akademik, tetapi sebagai bagian penting dari proses bertumbuh menuju pribadi yang lebih matang dan profesional. Terima kasih untuk semua adik-adik dengan segala tingkah lakunya, dan terima kasih untuk kesempatan belajar yang tidak ternilai.

  • Kamis Tanpa Bekal

    Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Aku tidak membawa bekal dari rumah. Padahal, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, membawa bekal sudah menjadi rutinitas kecil yang cukup konsisten dalam keseharianku.

    Namun, ada satu kebiasaan tak tertulis di kantor yang selalu kutunggu setiap minggunya: hari Kamis adalah hari jajan bersama. Hari di mana kami sepakat untuk tidak ribet, tidak membuka kotak bekal, dan memilih menikmati makan siang dari luar bersama-sama.

    Meski begitu, tetap saja ada satu hal yang harus kukorbankan hari ini. Menu favoritku—udang goreng tepung yang dimasak oleh ibuku sejak pagi buta—harus kurelakkan untuk lain waktu. Rasanya sedikit berat, tapi ya sudahlah, Kamis punya aturannya sendiri.

    Sejak pagi, pikiranku sudah dipenuhi pertanyaan klasik: “Siang ini kita makan apa, ya?” Setelah melalui obrolan ringan dan kesepakatan tak resmi, pilihan akhirnya jatuh pada menu yang sebenarnya tidak asing, tapi selalu ramai dibicarakan: ayam cabai hijau. Lebih tepatnya, ayam goreng dengan sambal cabai hijau.

    Sejujurnya, aku sudah lama penasaran dengan menu ini. Hampir setiap menjelang jam makan siang, ayam cabai hijau selalu menjadi MVP obrolan antar karyawan. Seolah-olah menu ini tidak pernah gagal mencuri perhatian.

    Satu jam sebelum waktu makan siang, kami mulai mengisi daftar pesanan. Aku memesan ayam kremes bagian paha—pilihan aman tapi memuaskan. Dagingnya juicy, tulangnya pun masih bisa kunikmati sarinya. Iya, aku tipe yang menikmati sampai ke tulang, hahaha.

    Pukul 12.10, pesanan akhirnya tiba. Aku mengambil nasi di dapur kantor, lalu kembali ke meja dengan semangat yang sedikit berlebihan. Saat suapan pertama masuk, aku langsung mengerti kenapa menu ini tidak pernah kehilangan penggemar.

    Rasanya gurih, sambal hijaunya balance, tidak terlalu pedas, sehingga bisa dinikmati dengan santai tanpa iringan paduan suara “huh-hah” di satu ruangan. Nyaman di lidah, ramah di perut.

    Dari makan siang sederhana ini, aku menarik satu kesimpulan kecil:
    menu yang melekat di hati konsumen tidak harus mewah, tidak perlu jargon bahan premium ala bintang lima. Yang terpenting adalah ciri khas rasa, rasa yang membuat orang betah, ingin kembali, dan tidak bosan untuk dikonsumsi sehari-hari.

  • Pandangan Pribadi dari Aku yang Belum Kenal Dunia Saham

    Aku baru saja membaca artikel berjudul “Buka Blak” yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan di Catatan Harian Dahlan Disway. Terus terang, aku ini bukan orang yang paham dunia saham. Bahkan bisa dibilang masih awam banget. Selama ini, saham di pikiranku cuma soal angka naik turun di layar, grafik warna merah dan hijau, serta istilah-istilah yang terdengar rumit. Tapi setelah membaca tulisan Pak Dahlan Iskan, aku jadi punya sudut pandang baru, meskipun masih dari kacamata orang luar.

    Dalam artikelnya, Pak Dahlan Iskan membahas kondisi pasar saham Indonesia yang sedang bergejolak. Ia menjelaskan bagaimana harga saham perusahaan-perusahaan besar bisa turun tajam dalam waktu singkat, sampai nilainya seolah-olah “hilang” triliunan rupiah. Padahal, menurut Pak Dahlan Iskan, uang itu sebenarnya tidak benar-benar lenyap dalam bentuk fisik, melainkan berubah nilainya di sistem pasar modal. Buat aku yang belum mengenal saham, penjelasan ini cukup membuka pikiran, karena selama ini aku mengira penurunan saham berarti uangnya benar-benar raib.

    Yang paling menarik perhatian aku adalah saat Pak Dahlan Iskan menyinggung soal kurangnya keterbukaan di pasar saham. Ia menilai bahwa kepemilikan saham di banyak perusahaan belum sepenuhnya transparan. Ada saham-saham yang pemilik sebenarnya tidak jelas, sehingga membuka peluang terjadinya permainan harga atau manipulasi. Dari sinilah istilah “buka blak” yang disampaikan Pak Dahlan Iskan terasa masuk akal — bahwa pasar modal seharusnya lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih jelas soal siapa memegang apa.

    Sebagai orang yang belum paham saham, aku menangkap satu pesan penting dari tulisan Pak Dahlan Iskan: transparansi itu sangat krusial. Kalau di kehidupan sehari-hari saja kita butuh kejelasan saat membeli barang atau bekerja sama dengan orang lain, apalagi di dunia saham yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah. Ketika informasi tidak terbuka, yang paling berisiko justru orang-orang kecil atau pemula yang tidak punya cukup pengetahuan dan akses.

    Tulisan Pak Dahlan Iskan juga membuat aku sadar bahwa dunia saham bukan sekadar soal untung dan rugi. Ada sistem, aturan, dan etika yang seharusnya dijaga agar pasar tetap sehat. Aku jadi berpikir, kalau suatu saat nanti tertarik masuk ke dunia saham, rasanya aku harus benar-benar belajar dari dasar, memahami istilah-istilahnya, dan tidak asal ikut tren. Artikel ini seperti peringatan halus agar tidak gegabah.

    Pada akhirnya, meskipun aku belum mengenal dunia saham secara mendalam, tulisan Pak Dahlan Iskan berhasil membuat aku lebih peka dan kritis. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa di balik angka-angka saham yang terlihat di layar, ada banyak hal penting seperti keterbukaan, kejelasan, dan keadilan. Dan mungkin, dari sini, pelan-pelan rasa ingin tahuku tentang dunia saham mulai tumbuh.

  • Pagi yang Berantakan, Tapi Tetap Sampai Tepat Waktu

    Di kantorku, ada satu kebiasaan kecil yang sebenarnya sederhana, tapi hangat: makan real food hasil kukusan. Jagung, ubi, kacang, pisang—semuanya dikukus tanpa tambahan apa pun. Yang membawanya bergiliran, tidak terjadwal secara kaku, tapi semua saling mengingat. Bahan mentahnya disediakan oleh kantor, lalu dibawa pulang oleh yang kebagian giliran.

    Saat giliranku tiba, biasanya aku membawa bahan mentah itu pulang. Sesampainya di rumah, langsung aku cuci dan potong menjadi beberapa bagian. Tujuannya sederhana: supaya pagi harinya aku bisa sedikit lebih santai. Tinggal mengukus, tanpa terburu-buru. Pola ini biasanya berjalan lancar, begitu juga hari-hari sebelumnya.

    Namun pagi ini berbeda.

    Aku terlambat bangun. Penyebabnya sepele tapi fatal: semalam lupa mengatur ulang alarm agar berbunyi lebih pagi dari biasanya. Begitu sadar, aku langsung ke dapur dengan setengah mengigau, menumpangkan panci kukus besar ke atas kompor. Di titik ini, masalah pertama sudah terjadi—kesiangan.

    Belum selesai sampai di situ. Di tengah proses mengukus, muncul masalah kedua: gas habis. Untungnya, penjual gas ada tepat di samping rumah. Aku langsung membeli gas dengan tergopoh-gopoh, sambil berharap waktu masih bisa dikejar.

    Setelah semua urusan dapur selesai, aku berangkat kerja. Jam menunjukkan pukul 07.05—terlambat tiga menit dari waktu berangkat biasanya. Di perjalanan, awalnya semua terasa lancar, sampai muncul masalah ketiga yang tidak direncanakan: ojek online yang kutumpangi kebingungan arah.

    Driver berulang kali mengitari area mal tempat aku menunggu. Mungkin karena faktor usia, atau memang jalanan Bekasi yang penuh putar balik dan lampu merah sering kali membingungkan. Aku hanya bisa menarik napas, mencoba tetap tenang, dan berharap waktu berpihak.

    Dengan tiga hal di luar rencana—kesiangan, gas habis, dan driver tersesat—aku akhirnya sampai di kantor pukul 07.50. Tinggal sepuluh menit lagi menuju batas keterlambatan.

    Pagi itu memang tidak sempurna. Namun, dari semua kekacauan kecil yang terjadi, aku belajar satu hal: tidak semua pagi harus rapi untuk bisa berakhir baik. Kadang, cukup dengan bertahan, bergerak, dan tidak menyerah pada kepanikan, kita tetap bisa sampai di tujuan.

  • Ketika Kepemimpinan dan Reformasi Pasar Modal Dipandang “Bukan Sekadar PT”

    https://www.hajimakbul.com/2019/04/belajar-dari-disway-dahlan-iskan-way.html

    Membaca artikel “PT Bukan” yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan di Disway memberi saya ruang refleksi tentang kepemimpinan, cara berpikir institusi, dan bagaimana reformasi seharusnya dijalankan di sektor strategis seperti pasar modal. Gaya tulisan Pak Dahlan yang ringan namun tajam kembali menunjukkan bahwa isu besar tidak selalu harus dibahas dengan bahasa yang rumit. Justru melalui analogi sederhana dan pengamatan personal, Pak Dahlan berhasil mengajak pembaca melihat persoalan dari sudut yang lebih jujur dan apa adanya.

    Dalam tulisan tersebut, Pak Dahlan menyoroti perbedaan gaya kepemimpinan dan komunikasi di lingkaran Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Ia menggambarkan bagaimana kehati-hatian yang berlebihan, terutama dalam bertutur dan mengambil keputusan, dapat berujung pada lambannya respons terhadap tekanan pasar. Bagi saya, pesan ini terasa relevan: di tengah dinamika ekonomi global yang bergerak cepat, institusi publik tidak hanya dituntut rapi secara regulasi, tetapi juga gesit secara tindakan. Apa yang disampaikan Pak Dahlan bukan sekadar kritik personal, melainkan cerminan kegelisahan terhadap budaya birokrasi yang kerap terlalu aman untuk bergerak maju.

    Pergantian kepemimpinan yang disinggung Pak Dahlan, termasuk munculnya janji perubahan “secepat mungkin”, justru menjadi catatan penting. Frasa tersebut terdengar optimistis, tetapi tanpa ukuran waktu dan target yang jelas, ia mudah kehilangan makna. Di sinilah saya sependapat dengan Pak Dahlan: reformasi tidak cukup disampaikan sebagai niat baik, melainkan harus hadir dalam bentuk rencana yang terukur, bisa dievaluasi, dan berani dipertanggungjawabkan. Pasar, seperti halnya publik, membutuhkan kejelasan, bukan sekadar harapan.

    Lebih jauh, Pak Dahlan mengingatkan bahwa isu demutualisasi atau perubahan bentuk kelembagaan bukanlah tujuan akhir. “PT” atau “bukan PT” hanyalah wadah. Yang jauh lebih penting adalah isi di dalamnya: budaya kerja, kualitas kepemimpinan, dan keberanian mengambil keputusan strategis. Ancaman penurunan peringkat pasar modal Indonesia di mata global bukan sekadar persoalan teknis, melainkan alarm bahwa ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Jika tidak ditangani dengan serius, kita berisiko tertinggal dari negara lain yang lebih siap berbenah.

    Bagi saya pribadi, tulisan Pak Dahlan Iskan ini terasa seperti pengingat halus namun tegas bahwa perubahan tidak boleh berhenti pada struktur dan istilah. Reformasi sejati lahir dari kejelasan arah, keberanian bertindak, dan kesadaran bahwa waktu adalah faktor krusial. Dalam konteks apa pun—baik institusi negara, organisasi, maupun kehidupan personal—kita tidak cukup hanya berkata “akan dipercepat”. Kita perlu tahu: dipercepat ke mana, dengan cara apa, dan sampai kapan.

  • Catatan Santai tentang Dinamika Politik

    Membaca artikel “Gibran Capres” karya Pak Dahlan Iskan membuat saya berpikir bahwa politik Indonesia sering kali bergerak bukan hanya oleh rencana besar yang matang, tetapi juga oleh momentum dan dinamika yang kadang sulit ditebak. Gibran Rakabuming Raka, yang selama ini lebih dikenal sebagai sosok pendamping dalam peta politik nasional, dalam tulisan tersebut digambarkan memiliki potensi besar jika suatu saat benar-benar tampil sebagai kandidat utama. Bagi saya, ini menarik karena menunjukkan bahwa politik bukan sekadar soal pengalaman panjang atau senioritas, melainkan juga soal persepsi publik, popularitas, dan posisi tawar di waktu yang tepat. Figur Gibran, dengan latar belakang usia yang relatif muda dan nama besar yang melekat, bisa menjadi simbol perubahan bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang menginginkan wajah baru dalam kepemimpinan nasional. Namun di sisi lain, popularitas saja tentu tidak cukup; politik tetap membutuhkan strategi, dukungan partai, serta kemampuan membuktikan diri di hadapan publik yang kini semakin kritis. Tulisan tersebut seolah mengingatkan bahwa dalam politik, seseorang yang awalnya diposisikan sebagai pelengkap bisa saja berubah menjadi pusat perhatian, tergantung bagaimana situasi berkembang dan keputusan diambil. Dari sudut pandang saya sebagai pembaca biasa, fenomena ini terasa seperti cermin kehidupan sehari-hari: rencana bisa berubah, peran bisa bergeser, dan yang awalnya tidak diperhitungkan justru menjadi kemungkinan yang paling dibicarakan. Pada akhirnya, wacana Gibran sebagai capres bukan hanya soal satu nama, tetapi juga tentang bagaimana politik Indonesia terus bergerak dinamis, penuh kejutan, dan menuntut kita sebagai masyarakat untuk tetap berpikir kritis serta tidak menelan isu begitu saja.

  • Jam Tujuh di Tengah Banjir

    Pagi ini hujan turun tanpa kompromi. Deras, terus-menerus, dan bikin jalanan berubah jadi sungai dadakan. Banjir ada di mana-mana. Notifikasi dari HRD pun masuk: ada toleransi keterlambatan sampai jam 12.00, dari yang biasanya jam 08.00. Kebijakan yang sangat masuk akal di kondisi seperti ini. Meski begitu, aku tetap memutuskan berangkat seperti hari biasa. Alasannya sederhana tapi krusial: jam 7 pagi adalah satu-satunya waktu aku bisa dapat akses kendaraan. Aku berangkat bersama ibuku, searah dengan tujuan beliau ke Stasiun Bekasi. Kalau melewatkan jam itu, pilihanku tinggal satu—ojek online, yang jujur saja masih belum ramah untuk m-banking seorang karyawan baru. Jadi, jam 7 pagi aku keluar rumah, di tengah hujan yang masih mengguyur tanpa ampun.

    Di jalan, suasananya riuh. Klakson bersahut-sahutan, air cokelat mengalir deras, mobil dan truk melintas menimbulkan ombak kecil yang cukup bikin deg-degan. Sepanjang perjalanan, pikiranku nggak cuma fokus ke arah depan, tapi juga ke ibuku yang mengendarai motor. Ada rasa khawatir kalau beliau harus melewati genangan dan “ombak” banjir saat kendaraan besar melintas. Dalam hati cuma bisa berharap semuanya baik-baik saja.Sampai di kantor, suasananya… sepi. Ternyata memang banyak karyawan memilih aman dan stay WFH dulu. Keputusan yang sangat bisa dipahami. Di kantor hari ini hanya ada tiga orang, dan aku salah satunya. Rasanya agak aneh. Kantor yang biasanya ramai jadi sunyi. Tapi di situ juga ada rasa syukur kecil: bisa sampai dengan selamat, tetap menjalani hari, dan belajar bahwa setiap orang punya cerita dan pertimbangannya sendiri saat menghadapi kondisi yang nggak ideal.

    Hari ini mengajarkanku satu hal sederhana:
    bertahan bukan soal memaksa, tapi soal menyesuaikan. Semoga hujan segera reda, banjir surut, dan semua orang—terutama yang kita sayangi—selalu dalam keadaan aman. 🌧️🤍

  • Hari Ini, Aku Belajar Lagi Tentang Menjadi Sales

    Hari ini aku menjalani rutinitas yang baru sebagai sales yaitu berkunjung ke perusahaan klien. Agendanya adalah membahas support preventive maintenance Zimbra, namun seperti banyak hari lainnya, yang paling membekas justru bukan soal pembahasan itu sendiri, melainkan pengalaman aku sebagai seorang sales.

    Setiap kali masuk ke lingkungan klien, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Cara mereka menyambut, suasana kantor, hingga ritme kerja yang terasa dari percakapan singkat, semuanya memberi kesan tersendiri. Di momen seperti ini aku kembali diingatkan bahwa peran sales bukan hanya datang membawa penawaran, tetapi hadir sebagai seseorang yang mau mendengar. Kadang, klien tidak membutuhkan penjelasan panjang, mereka hanya ingin merasa ditemani dan diyakinkan bahwa ada orang yang bisa diandalkan.

    Dalam pertemuan hari ini, aku berusaha menahan diri untuk tidak terburu-buru. Aku memilih untuk lebih banyak mendengar, membangun obrolan, dan memahami sudut pandang mereka. Dari situ aku semakin sadar bahwa menjual itu tidak selalu harus terlihat seperti menjual. Kepercayaan tidak muncul dari kata-kata yang rapi, tapi dari sikap yang tulus dan kehadiran yang konsisten.

    Perjalanan hari ini belum selesai ketika meeting berakhir. Di jalan pulang, aku dihadapkan pada kenyataan klasik: macet total. Yang membuatku cukup terkejut, aku sempat berpikir bahwa setelah banyak pekerja beralih menggunakan KRL, jalanan akan terasa lebih lengang. Ternyata tidak. Masih begitu banyak pekerja yang bertahan di jalan raya, dengan motor dan mobil, terjebak di kemacetan yang sama, di waktu yang sama.

    Di tengah jalan yang padat dan pergerakan yang lambat, aku sempat merenung. Setiap orang yang ada di jalan ini pasti sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang lelah secara fisik, ada yang pikirannya penuh, ada juga yang sedang menahan penat demi tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Aku pun salah satunya.

    Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyesuaikan diri dengan banyak karakter, menjaga sikap tetap profesional di berbagai kondisi. Tapi hari ini, di balik rasa capek itu, ada perasaan bangga yang pelan-pelan tumbuh. Bukan karena hasil akhir atau angka, melainkan karena aku tahu aku sudah menjalani peranku sebaik mungkin: datang, mendengar, dan berusaha memberi rasa aman.