Author: asrisahnrd_

  • Tentang “Rencana Pindah”: Saat Dunia Terasa Kehilangan Arah

    Ada satu hal yang sering terasa saat membaca tulisan Pak Dahlan Iskan: topik yang terlihat sederhana sering kali membawa pada pemikiran yang lebih luas. Hal itu juga terasa dalam tulisan berjudul “Rencana Pindah”. Sekilas, judulnya terdengar praktis, seolah hanya membahas perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Namun setelah dibaca lebih dalam, tulisan tersebut justru menggambarkan sesuatu yang lebih besar, yaitu dunia yang sedang berada dalam ketidakpastian arah.

    Dalam tulisannya, Pak Dahlan Iskan menyinggung situasi global yang belum sepenuhnya jelas ke mana arahnya. Banyak keputusan diambil, berbagai pernyataan disampaikan, tetapi tidak semuanya memberikan kepastian. Menariknya, hal ini terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketidakjelasan arah ternyata tidak hanya terjadi di tingkat global, tetapi juga dalam kehidupan pribadi—ketika rencana belum menemukan bentuk yang pasti, saat harus mengambil keputusan besar namun masih diliputi keraguan, atau ketika masa depan terasa belum sepenuhnya terlihat jelas. Dalam konteks ini, dunia dan kehidupan pribadi seperti memiliki kesamaan: sama-sama sedang mencari arah.

    Dari sudut pandang saya, kata “pindah” dalam tulisan Pak Dahlan Iskan tidak hanya dimaknai secara fisik. Lebih dari itu, “pindah” dapat dipahami sebagai dorongan untuk mencari situasi yang lebih jelas, keluar dari kondisi yang penuh ketidakpastian, atau bahkan memulai sesuatu yang baru. Yang menarik, keinginan untuk “pindah” sering kali muncul bukan karena kita sudah mengetahui tujuan yang pasti, melainkan karena kita mulai merasa bahwa arah yang sedang dijalani belum memberikan kejelasan.

    Di sisi lain, tulisan tersebut juga terasa menggambarkan dunia yang semakin ramai. Informasi terus mengalir, keputusan terus diambil, dan berbagai opini silih berganti muncul. Namun di tengah semua itu, kejelasan tidak selalu hadir. Kondisi ini membuat gagasan tentang “rencana pindah” menjadi relevan, bukan semata karena keinginan untuk pergi, tetapi karena adanya kebutuhan untuk menemukan arah yang lebih pasti.

    Bagi saya, tulisan ini memberikan pengingat sederhana bahwa tidak semua hal harus segera menemukan jawaban. Bahkan dalam skala besar seperti kondisi dunia, arah pun terkadang masih dalam proses pencarian. Dalam situasi seperti ini, mungkin yang lebih penting bukan terburu-buru mengambil keputusan, melainkan memberi waktu untuk memahami keadaan, meninjau kembali tujuan, dan memastikan bahwa langkah yang diambil tidak didorong oleh kebingungan semata.

    Pada akhirnya, tulisan “Rencana Pindah” dari Pak Dahlan Iskan memang tidak menawarkan jawaban yang tegas. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Tulisan ini mengajak pembaca untuk menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari perjalanan. Mungkin, “pindah” bukan selalu tentang pergi ke tempat baru, tetapi tentang menemukan arah sebelum benar-benar melangkah.

  • Review Film: Keluarga Super Irit — Antara Hemat, Kocak, dan Realita Kehidupan

    Sumber: https://m.21cineplex.com/id/movies/15KSIT

    Hari ini, seperti biasa saat jam makan siang atau jam istirahat, aku makan bekal dari rumah sambil menonton film. Di momen sederhana itu, aku memilih menonton Keluarga Super Irit, sebuah film keluarga Indonesia yang ternyata cukup menarik perhatian.

    Film Keluarga Super Irit menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi banyak orang yang pernah berada dalam kondisi harus berhemat. Film ini bercerita tentang keluarga Sukaharta yang menjalani hidup dengan prinsip hemat secara ekstrem. Mulai dari memanfaatkan WiFi tetangga, mencari makanan gratis di acara-acara, hingga menekan pengeluaran sekecil mungkin, semua dilakukan demi bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin sulit.

    Seiring berjalannya cerita, kondisi keuangan keluarga ini semakin menantang, memaksa mereka untuk terus beradaptasi dengan cara-cara yang kadang tidak biasa. Di sinilah konflik mulai muncul, tidak hanya dari luar tetapi juga dari dalam keluarga itu sendiri. Hubungan antar anggota keluarga diuji, memperlihatkan bahwa hidup hemat ternyata tidak selalu membawa dampak positif jika dilakukan secara berlebihan.

    Menurut saya, kekuatan utama film ini terletak pada idenya yang sangat relevan. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, banyak orang bisa merasa relate dengan perjuangan keluarga ini, meskipun tidak sampai ke tingkat yang ekstrem. Film ini seperti ingin menyampaikan bahwa hidup hemat memang penting, tetapi jika dilakukan tanpa batas, justru bisa berdampak pada hubungan dan kebahagiaan dalam keluarga.

    Dari sisi komedi, film ini cukup menghibur dengan berbagai adegan yang terasa absurd namun tetap masuk akal. Penonton dibuat tertawa karena situasi yang mungkin tidak pernah dialami secara langsung, tetapi tetap terasa dekat dengan realita. Meski begitu, ada beberapa bagian humor yang terasa berulang dan kurang konsisten, sehingga tidak semua adegan berhasil memberikan efek lucu yang maksimal.

    Secara keseluruhan, Keluarga Super Irit adalah film yang ringan namun memiliki pesan yang cukup dalam. Film ini cocok ditonton bersama keluarga karena selain menghibur, juga mengajak penonton untuk merenungkan arti kebersamaan, pengorbanan, dan batas antara hidup hemat dan terlalu pelit. Walaupun tidak menawarkan alur yang kompleks atau kejutan besar, film ini tetap memberikan pengalaman menonton yang hangat dan bermakna.

  • Awalnya Cuma Baca, Tiba-Tiba Kepikiran Biaya Hidup

    Sumber: ProKalteng.co

    Setiap hari, aku sebagai karyawan PT Excellent memiliki budaya literasi dengan membaca artikel catatan harian Pak Dahlan Iskan di Disway. Tulisan beliau selalu punya cara tersendiri untuk membuatku berhenti sejenak dari rutinitas, lalu berpikir lebih dalam tentang hal-hal sederhana yang sering terlewat. Setelah selesai membaca tulisan Pak Dahlan, seperti biasa aku melanjutkan dengan scrolling, sekadar ingin tahu berita lain yang sedang ramai dibicarakan.

    Sampai akhirnya, satu judul berita membuatku berhenti. Tentang kabar naiknya harga BBM per 1 April 2026—yang berarti besok. Angka yang disebutkan pun tidak main-main. Dexlite disebut-sebut bisa menembus Rp23.650 per liter. Seketika itu juga, pikiranku langsung penuh dengan berbagai kemungkinan.

    Jujur, ada rasa kaget. Bukan hanya karena angkanya yang cukup tinggi, tapi juga karena dampaknya yang pasti akan terasa luas. BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, tapi juga “urat nadi” banyak aktivitas. Kalau benar naik, hampir semua lini kehidupan akan ikut terdorong. Ongkos transportasi bisa meningkat, harga bahan pokok berpotensi naik, dan biaya hidup perlahan ikut terkerek. Hal-hal seperti ini selalu terasa dekat, apalagi sebagai pekerja yang setiap hari bergantung pada mobilitas.

    Tapi di tengah rasa khawatir itu, aku mencoba menahan diri untuk tidak langsung percaya sepenuhnya. Dari yang kubaca, informasi tersebut masih berupa kabar yang beredar dan belum tentu menjadi keputusan resmi. Ada kemungkinan itu hanya simulasi atau prediksi yang belum final. Di titik ini, aku merasa diingatkan lagi bahwa tidak semua yang cepat tersebar itu langsung bisa dijadikan pegangan. Kadang kita memang perlu jeda—untuk memastikan, untuk memahami, dan untuk tidak ikut terbawa arus kepanikan.

    Kalau dipikir lebih jauh, isu kenaikan BBM memang tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada cerita besar di belakangnya. Harga minyak dunia yang fluktuatif, nilai tukar yang berubah, hingga kondisi geopolitik global—semuanya saling terhubung. Hal-hal yang mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, ternyata punya dampak langsung pada hal sesederhana harga di SPBU.

    Di situ aku mulai merenung. Kalau pun benar harga BBM akan naik, sebenarnya yang paling penting bukan hanya soal “naiknya berapa”, tapi “seberapa siap kita menghadapinya”. Karena pada akhirnya, kita tidak punya kendali atas keputusan besar seperti itu. Yang bisa kita kendalikan adalah cara kita merespons.

    Mungkin ini jadi pengingat untuk mulai lebih bijak dalam banyak hal. Mengatur ulang pengeluaran, mempertimbangkan kembali penggunaan kendaraan, atau sekadar lebih sadar bahwa kondisi bisa berubah kapan saja. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, bisa jadi perlu dipikirkan ulang.

    Lucunya, semua refleksi ini berawal dari rutinitas sederhana: membaca. Dari satu tulisan ke tulisan lain, sampai akhirnya menemukan sesuatu yang memicu kekhawatiran sekaligus kesadaran. Aku jadi merasa bahwa literasi bukan hanya soal menambah informasi, tapi juga soal membentuk cara berpikir—bagaimana kita menyikapi kabar, memilah mana yang perlu dipercaya, dan tetap tenang di tengah ketidakpastian.

    Besok mungkin harga BBM benar-benar naik, atau mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang pasti, hidup akan selalu menghadirkan kejutan seperti ini. Dan mungkin, yang paling penting bukanlah kepastian dari kabar tersebut, melainkan bagaimana kita tetap bisa bersikap tenang dan rasional saat menghadapinya.

  • Hari Pertama Kembali ke Kantor: Pelajaran Berharga dari Pak Ali

    Hari ini menjadi hari pertama kembali bekerja di kantor setelah tiga hari menjalani WFH pasca libur Lebaran. Suasana terasa sedikit berbeda—ada rasa “mulai lagi” yang khas, sekaligus semangat untuk kembali ke rutinitas.

    Seperti biasa, hari Senin diawali dengan briefing rutin bersama tim. Kami membahas berbagai topik pekerjaan, update mingguan, hingga beberapa hal teknis yang perlu ditindaklanjuti. Namun, pagi ini terasa lebih spesial karena ada agenda tambahan setelah briefing: sebuah sharing session tentang kesehatan.

    Sharing session tersebut disampaikan oleh Pak Ali, seorang kenalan dari Pak Boss. Sosok beliau cukup unik—sehari-hari bekerja sebagai tukang kue, tukang sayur, dan juga tukang pijat di area Duren Jaya, tempat tinggal Pak Boss. Awalnya, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa beliau akan membawakan materi yang begitu dalam dan menyentuh.

    Sebelum Pak Ali mulai berbagi cerita, Pak Boss menyampaikan satu poin penting yang langsung terngiang di kepala saya: bahwa kita sebagai manusia jangan hanya belajar dari orang-orang yang terlihat “rapi”—yang berdasi, berjas, atau memiliki pekerjaan yang tampak mumpuni. Pelajaran hidup bisa datang dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

    Dan benar saja, apa yang disampaikan Pak Ali menjadi bukti nyata dari hal tersebut.

    Pak Ali adalah seorang penyintas penyakit gagal ginjal. Mendengar kisah perjalanan beliau dalam menghadapi penyakit ini benar-benar membuat saya terkejut sekaligus merenung. Penyakit yang beliau alami ternyata berawal dari kebiasaan yang mungkin sering dianggap sepele: konsumsi minuman berenergi secara berlebihan.

    Sebagai pekerja keras yang sering beraktivitas di bawah terik matahari, Pak Ali mengandalkan minuman tersebut untuk menjaga stamina. Namun di balik itu, beliau juga kurang memperhatikan waktu istirahat dan tidak menyadari dampak jangka panjang dari kebiasaan tersebut. Bertahun-tahun menjalani pengobatan menjadi konsekuensi yang harus beliau hadapi.

    Namun, ada sisi lain dari cerita Pak Ali yang jauh lebih menyentuh.

    Beliau bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi karena menanggung keluarga yang tinggal bersama beliau. Di tengah kondisi kesehatannya, Pak Ali tetap berusaha menjalani peran sebagai tulang punggung keluarga.

    Yang membuat saya semakin kagum adalah cara beliau bercerita. Pak Ali menyampaikan semua kisahnya dengan tawa, tanpa memperlihatkan kesedihan yang mungkin pernah beliau rasakan. Padahal, beliau mengakui bahwa pernah berada di titik terendah dalam hidupnya—merasa putus asa, merasa menjadi beban bagi keluarga, hingga harus menghadapi biaya pengobatan yang tidak sedikit. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk menyerah pada hidup.

    Namun, semuanya berubah ketika beliau kembali mengingat anak-anaknya.

    Dari sanalah Pak Ali perlahan bangkit dari keterpurukan. Beliau memilih untuk menerima segala takdir yang hadir dalam hidupnya. Dukungan dari istri dan anak-anak yang terus menemani hingga saat ini menjadi alasan terbesarnya untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup.

    Pak Ali juga menambahkan bahwa saat ini beliau berusaha menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa membawa beban berlebihan agar tidak menjadi stres. Meski begitu, beliau tetap disiplin mengikuti anjuran dokter demi menjaga kondisinya agar tidak kembali drop.

    Dari cerita tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga.

    Pertama, jangan pernah menyepelekan apa yang kita konsumsi setiap hari. Makanan dan minuman bukan hanya soal rasa atau kenyang, tetapi juga tentang dampaknya bagi tubuh dalam jangka panjang.

    Kedua, kesehatan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang mental. Cara kita menghadapi masalah, menerima keadaan, dan tetap berpikir positif sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup.

    Dan yang paling penting, selalu ingat alasan kita untuk bertahan—keluarga, orang-orang terdekat, dan hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa.

    Energi yang kita butuhkan seharusnya tidak hanya bergantung pada minuman instan. Justru, cara yang lebih sehat adalah dengan berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan alami (real food), serta mengatur asupan gula dengan bijak.

    Hari ini bukan hanya sekadar hari pertama kembali ke kantor, tetapi juga menjadi pengingat penting tentang bagaimana menjaga tubuh dan mensyukuri hidup yang sering kali kita jalani tanpa sadar.

    Pelajaran sederhana, tapi sangat bermakna.

  • Dua Arah Pulang, Satu Tradisi yang Selalu Sama

    Setiap tahun, aku selalu punya dua tujuan pulang kampung. Bukan hanya satu, tapi dua tempat yang sama pentingnya—Klaten untuk ibu, dan Kebumen untuk bapak. Perjalanan ini sudah seperti agenda tetap yang tidak pernah terlewatkan, seolah ada panggilan yang selalu mengingatkan untuk kembali. Hanya satu waktu yang sempat menghentikan rutinitas ini, yaitu saat pandemi Covid, ketika semua orang harus menahan rindu dari jarak jauh.

    Di luar itu, perjalanan pulang kampung selalu menjadi momen yang dinanti. Ada rasa tenang yang berbeda ketika sampai di dua tempat tersebut. Bukan hanya karena suasananya, tapi karena ada bagian dari diri yang seperti “pulang” ke asalnya.

    Setelah semua rangkaian pulang kampung selesai, ada satu hal yang selalu ikut kembali ke Bekasi: oleh-oleh. Terutama saat perjalanan dari Gombong, Kebumen, bagasi mobil hampir selalu penuh. Plastik-plastik besar berisi berbagai jajanan khas tersusun rapat, memenuhi ruang yang ada. Lanting dengan rasa gurihnya, sale pisang yang manis, dan aneka camilan lainnya seolah sudah menjadi “wajib” untuk dibawa pulang.

    Sesampainya di rumah, biasanya aku mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Melepas lelah dari perjalanan panjang, menikmati suasana rumah yang kembali ditempati. Tapi tidak lama setelah itu, ada satu kegiatan yang hampir selalu dilakukan.

    Aku mulai membuka satu per satu plastik besar tersebut, lalu memindahkan isinya ke plastik-plastik yang lebih kecil. Tanganku bergerak membagi, menyusun, dan merapikan. Proses ini mungkin terlihat sederhana, bahkan bisa dibilang sepele, tapi selalu terasa berbeda setiap kali dilakukan. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

    Kebiasaan ini bukan muncul begitu saja. Sejak dulu, ibu yang mengajarkan. Memberi arahan bahwa oleh-oleh tidak hanya untuk dinikmati sendiri di rumah, tapi juga untuk dibagikan. Dari situlah kebiasaan ini terbentuk, dan tanpa sadar terus terbawa sampai sekarang.

    Setiap paket kecil yang sudah siap kemudian dibagikan ke tetangga sekitar rumah. Momen sederhana, hanya memberi sedikit camilan dari kampung halaman, tapi selalu disambut dengan senyum dan sapaan hangat. Dari situ terasa bahwa hal kecil seperti ini bisa menjaga hubungan tetap dekat, meskipun hidup di tengah kesibukan kota.

    Berbagi oleh-oleh menjadi cara sederhana untuk membawa sedikit suasana kampung ke lingkungan tempat tinggal. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh, perhatian yang tersampaikan tanpa harus banyak kata, dan kehangatan yang tercipta dari hal-hal kecil yang dilakukan secara tulus.

  • Daftar Keinginan: Antara Ambisi, Realita, dan Refleksi Diri

    Membaca tulisan Pak Dahlan Iskan dalam artikel “Daftar Keinginan” di Disway memberikan kesan yang sederhana, tetapi dalam. Seperti gaya khas beliau, tulisan tersebut tidak terasa menggurui, namun justru mengajak pembaca ikut berpikir—pelan, reflektif, dan kadang sedikit menohok.

    Dalam artikel itu, Pak Dahlan Iskan menyinggung tentang daftar keinginan yang muncul dalam konteks yang lebih luas—bukan sekadar keinginan pribadi, tetapi juga keinginan dalam skala negara, bahkan antarnegara. Ia menunjukkan bagaimana “daftar keinginan” sering kali menjadi sesuatu yang kompleks: penuh kepentingan, negosiasi, bahkan strategi tersembunyi.

    Yang menarik bagi saya adalah bagaimana konsep sederhana seperti “keinginan” bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat politis. Kita biasanya menganggap keinginan sebagai sesuatu yang personal—ingin sukses, ingin bahagia, ingin punya ini dan itu. Namun dalam tulisan tersebut, keinginan justru menjadi alat tawar-menawar, bahkan bisa mencerminkan kekuatan atau kelemahan suatu pihak.

    Dari situ saya mulai berpikir: ternyata keinginan bukan hanya soal “apa yang kita mau”, tetapi juga “apa yang bisa kita perjuangkan”.

    Pak Dahlan Iskan, dengan gaya penulisan yang santai dan cenderung menggunakan sudut pandang pribadi, memang sering mengajak pembaca untuk melihat realitas dari pengalaman langsungnya. Gaya ini membuat tulisannya terasa dekat dan mudah dicerna, meskipun topiknya sering berat atau kompleks.

    Menurut saya, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari artikel tersebut: tidak semua keinginan layak diperjuangkan dengan cara yang sama. Ada keinginan yang realistis, ada yang terlalu ambisius, dan ada pula yang sebenarnya hanya sekadar ilusi. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian—kita sering membuat “daftar keinginan” tanpa benar-benar memahami konsekuensinya.

    Tulisan ini juga secara tidak langsung mengingatkan bahwa semakin besar posisi atau kekuasaan seseorang, semakin besar pula dampak dari keinginannya. Jika individu biasa hanya berdampak pada dirinya sendiri, maka keinginan dalam skala besar bisa memengaruhi banyak orang.

    Pada akhirnya, saya melihat artikel “Daftar Keinginan” bukan hanya sekadar catatan opini, tetapi juga refleksi tentang bagaimana manusia—baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sistem—memandang dan memperjuangkan keinginannya.

    Dan mungkin, setelah membaca itu, kita juga perlu membuat daftar keinginan versi kita sendiri. Bukan sekadar daftar mimpi, tetapi daftar yang disertai kesadaran: mana yang benar-benar penting, dan mana yang sebaiknya kita lepaskan.

  • Di Balik Mudik yang Lancar, Ada Cerita dari Tol Pemalang dan Tegal

    Mudik selalu punya cerita. Tahun ini, perjalanan dari Bekasi menuju Klaten terasa cukup berbeda bagiku. Bukan karena rutenya yang berubah, tapi karena perjalanan kali ini terasa lebih lancar dari yang aku bayangkan—meskipun di tengah kelancaran itu, ada beberapa pemandangan yang cukup membuat hati terasa was-was.

    Perjalanan dimulai seperti biasa, dengan persiapan sederhana namun penuh harap. Jalanan keluar Bekasi yang biasanya padat ternyata cukup bersahabat. Lalu lintas mengalir dengan stabil, tidak terlalu lengang, tapi juga jauh dari kata macet parah. Rasanya seperti diberi kemudahan sejak awal, membuat perjalanan terasa lebih ringan dan menyenangkan.

    Sepanjang tol, suasana khas mudik tetap terasa. Deretan kendaraan dengan berbagai plat nomor daerah, mobil yang penuh barang hingga ke atap, dan sesekali terlihat keluarga yang beristirahat di rest area. Semua bergerak menuju tujuan masing-masing, membawa rindu yang sama—pulang ke rumah.

    Namun, di balik kelancaran perjalanan itu, ada beberapa momen yang cukup mengusik pikiran. Beberapa kali aku menjumpai kecelakaan di sepanjang jalan, dan cukup banyak di antaranya terjadi di rute tol Pemalang dan Tegal. Ada yang melibatkan mobil pribadi dengan bus, dan ada juga antar mobil pribadi. Pemandangan mobil yang ringsek, kaca yang pecah, dan kendaraan yang berhenti mendadak di pinggir jalan menjadi pengingat bahwa perjalanan sejauh ini tidak selalu aman bagi semua orang.

    Setiap kali melewati lokasi kecelakaan, suasana di dalam kendaraan seketika menjadi lebih hening. Kecepatan pun refleks diturunkan. Ada rasa syukur karena masih diberi perjalanan yang lancar, tapi juga ada rasa hati-hati yang semakin meningkat. Rasanya seperti diingatkan untuk tidak lengah, walaupun kondisi jalan terlihat baik-baik saja.

    Perjalanan kemudian kembali berjalan normal. Langit yang cerah, jalan yang relatif mulus, dan ritme perjalanan yang stabil membuat waktu terasa cepat berlalu. Hingga akhirnya, perlahan suasana mulai berubah—tanda bahwa Klaten sudah semakin dekat. Udara terasa berbeda, lebih hangat dan familiar. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan saat akhirnya sampai di tujuan.

    Mudik kali ini mengajarkanku satu hal sederhana: perjalanan yang lancar bukan berarti tanpa risiko. Di balik kemudahan yang dirasakan, selalu ada hal-hal yang perlu diwaspadai. Dan mungkin, itulah makna perjalanan sebenarnya—bukan hanya tentang sampai tujuan, tapi juga tentang bagaimana kita menjalaninya dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.

    Sampai di rumah, semua lelah langsung terbayar. Dan seperti biasa, senyum orang rumah menjadi penutup paling sempurna dari perjalanan panjang ini.

  • Hari Terakhir Kerja Sebelum Libur Lebaran

    Hari ini jadi hari terakhir masuk kerja sebelum libur Lebaran. Secara pekerjaan sebenarnya masih sama seperti biasa—masih ada email yang perlu dibalas, beberapa task yang harus diselesaikan, dan koordinasi dengan tim supaya semuanya tetap berjalan dengan baik sebelum ditinggal libur.

    Tapi suasananya terasa sedikit berbeda. Di sela-sela pekerjaan, mulai banyak obrolan santai tentang rencana mudik, persiapan di rumah, sampai cerita sederhana soal menu Lebaran nanti. Jadi walaupun tetap kerja, rasanya tidak terlalu tegang seperti hari-hari biasa.

    Menariknya, hari ini juga ada kebijakan baru yaitu jam kerja dipersingkat. Kalau biasanya pulang jam 4 sore, khusus hari ini jadi jam 3 sore. Hal kecil seperti ini ternyata cukup berpengaruh—rasanya jadi lebih ringan dan bikin mood menjelang libur makin terasa.

    Menjelang jam pulang, satu per satu pekerjaan mulai dirapikan. Pastikan tidak ada yang tertinggal atau perlu ditindaklanjuti saat libur. Rasanya campur aduk, antara lega karena akhirnya bisa istirahat, tapi juga sadar kalau rutinitas ini nanti pasti akan kembali lagi.

    Sekarang tinggal menikmati waktu libur, semoga bisa benar-benar dimanfaatkan untuk istirahat, kumpul dengan keluarga, dan recharge sebelum kembali ke aktivitas seperti biasa.

    Selamat libur Lebaran 🌙

  • Misi Rahasia di Rak Camilan: Menyusun Hadiah Game Tanpa Ikut Kalap Jajan

    Hari ini aku mendapat tugas yang cukup menyenangkan sekaligus menantang: belanja hadiah untuk tiga kelompok pemenang dalam games kegiatan buka bersama. Awalnya aku berpikir kegiatan ini akan cepat selesai dan terasa mudah. Tinggal datang ke toko, pilih beberapa jajanan, lalu selesai. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

    Saat mulai memilih jajanan, aku baru sadar bahwa menentukan hadiah yang tepat juga butuh pertimbangan. Aku ingin setiap kelompok mendapatkan hadiah yang seru dan seimbang. Bukan hanya sekadar banyak, tetapi juga bervariasi. Aku mulai memikirkan komposisi rasanya—harus ada yang asin, manis, dan sedikit asam supaya lebih menarik saat dinikmati bersama.

    Di tengah proses memilih itu, godaan mulai datang. Rak-rak penuh camilan dengan warna kemasan yang menarik benar-benar menguji ketahanan diri. Awalnya aku fokus memilih untuk hadiah, tapi lama-lama muncul juga keinginan dalam hati, “Wah ini enak kayaknya… yang ini juga menarik…” Sampai akhirnya aku sadar kalau sebenarnya aku juga sedang tergoda hawa nafsu untuk jajan sendiri.

    Rasanya lucu juga, datang dengan niat belanja hadiah untuk orang lain, tapi justru harus berjuang menahan diri dari keinginan membeli camilan untuk diri sendiri. Beberapa kali aku hampir saja memasukkan jajanan tambahan ke keranjang, lalu berhenti sejenak sambil mengingat tujuan awal: fokus ke hadiah dan tetap sesuai dengan budget.

    Selain menahan godaan, aku juga harus memperhatikan anggaran yang sudah ditentukan. Ada beberapa jajanan yang terlihat menarik, namun harganya membuatku harus berpikir dua kali. Akhirnya aku benar-benar menimbang setiap pilihan: mana yang paling pas, mana yang bisa melengkapi rasa lain, dan mana yang tetap sesuai dengan anggaran.

    Proses yang kupikir akan singkat ternyata cukup memakan waktu. Aku mondar-mandir di antara rak jajanan, membandingkan rasa, ukuran, dan harga. Meski begitu, ada rasa seru tersendiri dalam prosesnya. Rasanya seperti sedang menyusun “paket kebahagiaan kecil” untuk para pemenang nanti.

    Semoga saat hadiah itu dibagikan nanti, mereka bisa menikmati setiap camilan yang sudah dipilih dengan penuh pertimbangan hari ini. Hal sederhana seperti memilih jajanan ternyata bisa menjadi cerita kecil yang cukup berkesan di balik persiapan kegiatan buka bersama. Dan yang paling penting, aku berhasil keluar dari toko tanpa terlalu banyak “jajan tambahan” untuk diri sendiri… walaupun godaannya luar biasa.

  • Belajar Hal Baru di Dunia Layanan IT: Mengenal Nextcloud

    Image

    Hari ini aku kembali belajar sesuatu yang baru di dunia layanan IT, sebuah pengalaman kecil yang menambah wawasan tentang bagaimana perusahaan mengelola data mereka. Teknologi yang baru aku kenal hari ini bernama Nextcloud.

    Awalnya aku mencoba memahami konsepnya, dan ternyata sistem kerja Nextcloud cukup mirip dengan Google Drive. Keduanya sama-sama digunakan untuk menyimpan file secara online, berbagi dokumen, serta memudahkan kolaborasi antar tim. Namun setelah dijelaskan lebih dalam, ternyata ada perbedaan yang cukup menarik antara keduanya.

    Jika menggunakan Google Drive, pusat pengelolaan sistem berada pada layanan internasional yang dikelola oleh Google. Artinya, perusahaan menggunakan layanan yang sudah disediakan secara global. Hal ini tentu sangat praktis, tetapi dalam beberapa kondisi perusahaan mungkin akan mengalami keterbatasan ketika ingin mengatur sistem penyimpanan data secara lebih spesifik sesuai kebutuhan internal.

    Berbeda dengan itu, Nextcloud memberikan pendekatan yang lebih fleksibel. Sistem ini dapat diinstal dan dikelola langsung oleh tim IT perusahaan. Dengan begitu, perusahaan memiliki kendali penuh terhadap penyimpanan data, mulai dari pengaturan akses pengguna, kapasitas penyimpanan, hingga keamanan data yang disimpan di dalam sistem tersebut.

    Bagi perusahaan yang memiliki banyak data penting, kemampuan untuk mengelola sistem sendiri tentu menjadi nilai tambah. Koordinasi antar tim juga bisa menjadi lebih mudah karena semua pengaturan berada di tangan tim internal perusahaan.

    Dari hal kecil yang aku pelajari hari ini, aku menyadari bahwa dunia IT ternyata sangat luas. Banyak teknologi yang mungkin terlihat sederhana di permukaan, tetapi sebenarnya memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam operasional perusahaan.

    Hari ini aku kembali mendapatkan wawasan baru, dan rasanya menyenangkan mengetahui bahwa masih banyak hal di dunia teknologi yang bisa dipelajari sedikit demi sedikit. Setiap hari selalu ada pengetahuan baru yang membuatku semakin memahami bagaimana teknologi bekerja di balik aktivitas perusahaan.