Author: asrisahnrd_

  • Selangkah Lebih Maju Hari Ini

    Hari ini aku mulai berburu reservasi tempat untuk bukber. Setiap Ramadhan memang selalu ada momen yang satu ini—berbuka puasa bersama dengan teman, rekan kerja, atau orang-orang terdekat. Awalnya kupikir mencari tempat masih bisa santai, tapi ternyata setelah mulai mencari dan menghubungi beberapa tempat makan, baru terasa kalau banyak restoran sudah hampir penuh, bahkan beberapa tanggal sudah tidak tersedia lagi.

    Prosesnya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Aku harus mencari rekomendasi tempat yang cocok, melihat menu yang kira-kira pas untuk bukber, mempertimbangkan kapasitas tempat, lalu memastikan apakah mereka menerima reservasi untuk rombongan. Kadang tempatnya sudah terasa cocok, tapi jadwalnya tidak tersedia. Kadang jadwalnya cocok, tapi kapasitasnya tidak cukup.

    Ada sedikit rasa deg-degan juga setiap kali menunggu balasan dari pihak restoran, berharap masih ada slot yang tersisa. Rasanya seperti berburu kesempatan kecil sebelum semuanya penuh. Meski terlihat seperti hal sederhana, ternyata proses mencari dan memesan tempat bukber ini cukup seru juga.

    Bukber sendiri bukan hanya soal makan bersama, tapi juga tentang momen berkumpul, berbagi cerita, dan menyambung kembali kebersamaan yang mungkin jarang terjadi di hari-hari biasa. Jadi walaupun proses berburu reservasi ini cukup memakan waktu, tetap terasa menyenangkan karena tujuannya adalah untuk bertemu dan menikmati waktu bersama orang-orang yang berarti.

    Sekarang tinggal berharap saja tempat yang diincar masih tersedia. Kalau sudah berhasil reservasi, pasti rasanya lega sekali. Karena satu hal yang hampir selalu terjadi setiap Ramadhan: tempat bukber cepat sekali penuh.

  • Bersyukur dan Terus Belajar

    Orang tuaku pernah berkata bahwa aku harus bersyukur jika mendapatkan pekerjaan yang tidak jauh dari rumah, berada di lingkungan kerja yang baik, dan mendukung proses belajarku. Dulu mungkin aku hanya mendengarnya sebagai nasihat biasa. Namun seiring waktu berjalan, aku mulai benar-benar memahami makna dari kata-kata itu.

    Bekerja di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah ternyata bukan hanya tentang jarak yang lebih singkat atau perjalanan yang lebih mudah. Ada rasa tenang karena tidak harus menghabiskan banyak waktu di jalan, dan energi yang tersisa bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berarti. Aku juga semakin memahami bahwa rezeki bukan hanya sekadar uang. Rezeki bisa hadir dalam banyak bentuk: kesehatan, kesempatan belajar, kebersamaan dengan orang-orang yang kita sayangi, dan berada di lingkungan yang menerima kita dengan baik.

    Hal yang paling aku syukuri adalah kenyataan bahwa aku bekerja di bidang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Dunia IT dulu terasa sangat jauh dari bayanganku. Bahkan aku sempat memiliki stigma bahwa IT itu rumit dan sulit dipahami. Rasanya seperti dunia yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang benar-benar ahli.

    Namun hidup sering membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Hari ini aku justru berada di sebuah perusahaan IT dan menemukan banyak hal baru yang sebelumnya tidak pernah aku pelajari. Awalnya tentu ada rasa takut dan ragu. Tetapi perlahan aku belajar untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba membuang jauh ketakutan itu. Aku memilih untuk tetap berpikir optimis dan terus maju dalam proses belajar.

    Aku menyadari bahwa proses dan hasil tentu berasal dari diri sendiri. Kita yang menentukan seberapa besar usaha yang ingin kita lakukan untuk berkembang. Namun aku juga belajar bahwa lingkungan memiliki peran yang sangat penting. Jika lingkungan kerja tidak mendukung seseorang untuk tumbuh dan berkembang, maka hasil yang didapatkan pun bisa terasa kurang maksimal. Sebaliknya, ketika berada di lingkungan yang memberi ruang untuk belajar, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan, maka proses bertumbuh menjadi jauh lebih mungkin terjadi.

    Di usia yang masih terbilang muda ini, aku merasa masih harus terus belajar dari banyak hal. Tidak semua proses berjalan sempurna, dan kesalahan tentu akan selalu ada dalam perjalanan. Namun kini aku mencoba melihat kesalahan dengan cara yang berbeda. Kesalahan bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang bisa diterima sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.

    Ada kesalahan-kesalahan yang pernah aku lewati, dan dari sana aku belajar untuk memperbaikinya. Setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan, menjadi bagian dari proses membentuk diriku hari ini. Perjalanan ini mungkin masih panjang, dan masih banyak hal yang belum aku pahami. Tetapi selama masih diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang, aku ingin terus melangkah maju dengan rasa syukur.

    Karena terkadang, tempat yang tidak pernah kita bayangkan justru menjadi tempat kita bertumbuh dan sudah diatur sangat baik oleh Allah.

  • Ketika Aku Kehabisan Ide dan Bertanya ke GPT


    Hari ini aku benar-benar kehabisan ide menulis blog.

    Bukan karena tidak ada waktu. Bukan juga karena tidak ada kejadian menarik. Tapi entah kenapa, rasanya kosong saja. Aku menatap layar cukup lama, lalu mengetik satu kalimat dan menghapusnya lagi. Tidak ada yang terasa “cukup bagus” untuk dipublikasikan.

    Akhirnya, dengan setengah bercanda dan setengah serius, aku bertanya ke ChatGPT:
    “Nulis apa lagi ya hari ini?”

    Kupikir jawabannya akan sederhana. Mungkin daftar topik random, atau ide-ide umum seperti produktivitas, self-love, atau tips mengatur waktu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dari percakapan itu, GPT tidak langsung memberiku satu topik tunggal. Ia justru melihat pola dari hal-hal yang sering kutanyakan dan kuceritakan sebelumnya.

    Katanya, aku sering membahas tentang refleksi diri. Tentang rasa takut dan bagaimana menghadapinya. Tentang dunia kerja dan bagaimana tetap profesional meski sedang lelah secara mental. Tentang perempuan yang belajar percaya diri. Tentang proses bertumbuh yang tidak selalu dramatis, tapi nyata.

    Aku berhenti sejenak membaca rangkumannya.

    Ternyata selama ini aku bukan kehabisan ide. Aku hanya lupa bahwa tulisanku punya benang merah.

    Aku cenderung menulis tentang proses. Tentang hal-hal yang pelan, tidak instan. Tentang menjadi kuat tanpa harus terlihat kuat. Tentang menjalani tanggung jawab sambil tetap berdialog dengan diri sendiri. Dan tanpa sadar, itu konsisten muncul dalam setiap topik yang kupilih.

    Dari situ aku sadar satu hal: mungkin masalahnya bukan tidak ada ide, tapi aku terlalu sering meremehkan ceritaku sendiri. Aku berpikir tulisan harus selalu baru, unik, atau berbeda dari sebelumnya. Padahal yang membuatnya bermakna bukan karena topiknya spektakuler, tapi karena sudut pandangnya jujur.

    GPT menyimpulkan bahwa aku tipe penulis yang reflektif dan personal. Bukan yang penuh teori atau data panjang. Aku lebih nyaman menulis dari pengalaman, pengamatan, dan dialog batin yang sederhana. Dan ketika kubaca lagi, rasanya memang seperti itu.

    Menariknya, aku baru menyadari pola itu justru setelah “bercermin” pada mesin.

    Kadang kita terlalu dekat dengan hidup kita sendiri sampai tidak bisa melihat gambaran besarnya. Perlu jarak sebentar untuk menyadari bahwa sebenarnya kita sudah punya arah — hanya saja tidak selalu percaya diri untuk mengakuinya.

    Jadi hari ini, kesimpulannya sederhana.

    Ketika aku merasa tidak punya ide, mungkin aku hanya lupa melihat pola dari diriku sendiri. Dan mungkin, ide terdekat bukan datang dari luar, tapi dari keberanian untuk mengakui: inilah tema yang memang dekat denganku.

    Dan ironisnya, tulisan ini pun lahir dari momen kehabisan ide itu sendiri.

    Ternyata, bahkan kebuntuan pun bisa jadi bahan cerita.

  • Belajar dari Ragu: Perjalananku Memahami Layanan Proxmox


    Belakangan ini aku sering menerima email terkait layanan Proxmox, mulai dari permintaan lisensi, implementasi 3 nodes dalam 1 cluster, sampai detail maintenance seperti preventive dua kali setahun, corrective 12 tiket, dan support 24/7 onsite jika dibutuhkan. Jujur saja, tidak semua istilah itu langsung benar-benar aku pahami secara mendalam. Ada rasa ragu setiap kali harus membalas emailnya. Takut salah menjelaskan, takut kurang tepat memahami kebutuhan klien, apalagi ketika sudah masuk ke pembahasan teknis seperti socket per node, VM host, atau ruang lingkup SOW implementasi dan maintenance.

    Awalnya aku sempat merasa kurang percaya diri. Rasanya seperti sedang berbicara tentang sesuatu yang belum sepenuhnya aku kuasai. Tapi daripada terus merasa takut salah, aku memilih untuk pelan-pelan belajar memahami konteksnya. Aku mulai membaca ulang email dengan lebih tenang, mencoba mengurai kebutuhan klien satu per satu: apakah mereka hanya butuh lisensi? Apakah mereka juga butuh setup dari awal? Apakah maintenance-nya remote saja atau perlu onsite? Dari situ aku sadar bahwa membalas email bukan sekadar soal cepat merespons, tapi tentang memahami kebutuhan dan memberikan jawaban yang tepat.

    Di proses itu, aku tidak benar-benar sendirian. Rasa raguku memang belum sepenuhnya hilang, tapi banyak terbantu oleh sikap welcome dari senior yang sudah lebih berpengalaman. Setiap kali aku selesai menyusun balasan atau membuat draft penawaran, aku sering bertanya, “Sudah sesuai belum?” atau “Ada yang perlu diperbaiki?” Dan mereka menjawab dengan terbuka, memberi masukan tanpa membuatku merasa kecil. Dari situ aku belajar bahwa bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses belajar yang sehat. Dukungan seperti itu membuatku lebih berani mencoba, meski masih ada rasa ragu di dalamnya.

    Aku juga semakin memahami bahwa tidak apa-apa untuk bertanya kembali ke klien. Menanyakan apakah ada SOW, menanyakan lokasi implementasi, atau mengajak diskusi online bukan berarti aku tidak kompeten. Justru itu bagian dari profesionalisme. Lebih baik memastikan sejak awal daripada salah asumsi. Dari proses itu aku mulai melihat Proxmox bukan hanya sebagai produk virtualisasi, tapi sebagai solusi yang mencakup perencanaan, implementasi, hingga dukungan berkelanjutan.

    Perjalanannya tentu tidak instan. Sampai sekarang pun aku masih terus belajar. Namun dibandingkan sebelumnya, aku merasa lebih berani. Lebih berani menyusun opsi lisensi premium dan standard, lebih berani menjelaskan ruang lingkup pekerjaan, dan lebih percaya diri mengajak klien berdiskusi serta menawarkan presentasi solusi. Setiap email yang masuk sekarang bukan lagi sumber kecemasan, melainkan kesempatan untuk berkembang.

    Aku mungkin belum sepenuhnya menguasai semua hal tentang Proxmox, dan mungkin rasa ragu itu masih ada sedikit. Tapi aku sedang berproses. Dan aku percaya, menjadi profesional bukan tentang tahu segalanya sejak awal, melainkan tentang kemauan untuk terus belajar, terbuka menerima masukan, dan bertumbuh bersama orang-orang yang mau mendukung kita untuk menjadi lebih baik.

  • Hari Ini Aku Naik Motor Lagi

    Hari ini akhirnya aku naik motor lagi. Sendirian. Setelah satu tahun penuh nggak pernah berani bawa motor sendiri.

    Kalau dipikir-pikir, satu tahun itu lama banget. Awalnya cuma berhenti sebentar karena ada kejadian yang bikin aku takut. Kupikir cuma butuh waktu buat nenangin diri. Tapi ternyata, makin lama nggak nyoba, makin besar rasa takutnya. Sampai akhirnya aku selalu cari alasan buat nggak bawa motor sendiri. Entah nunggu dianter, entah milih transportasi lain. Rasanya lebih aman begitu.

    Tapi pagi tadi beda. Entah kenapa aku bangun dengan pikiran, “Udah cukup.” Masa iya aku terus-terusan lari dari rasa takut? Jadi aku putuskan buat coba lagi. Nggak usah mikir jauh-jauh, nggak usah mikir nanti gimana. Cukup hari ini aja.

    Pas pertama kali duduk di atas motor dan pegang setangnya lagi, rasanya campur aduk. Deg-degan jelas. Tangan agak kaku. Bahkan waktu nyalain mesin pun ada rasa ragu sepersekian detik. Tapi yaudah, aku tetap jalan.

    Begitu masuk ke jalan yang padat, langsung terasa tantangannya. Kendaraan besar lewat kanan kiri—truk, bus—badannya tinggi, suaranya berisik dan kadang bikin kaget. Jalanan macet merayap, semua orang kayaknya buru-buru, sementara aku cuma berusaha tetap tenang. Sempat kepikiran, “Kenapa sih harus lewat sini?” Tapi ya memang ini jalanku hari ini, dan aku nggak bisa muter balik cuma karena takut.

    Di tengah kondisi itu, aku belajar fokus sama hal-hal kecil. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Cukup jaga jarak. Pelan aja. Atur napas. Kalau mulai panik, tarik napas dalam-dalam, hembuskan pelan. Aku juga berhenti bandingin diri sama pengendara lain yang kelihatan santai banget. Mereka punya cerita masing-masing. Aku juga punya proses sendiri.

    Setiap beberapa meter yang berhasil kulewati tanpa panik, rasanya kayak menang kecil. Waktu ada kendaraan besar lewat dekat, aku memang masih tegang, tapi nggak sampai bikin berhenti. Aku tetap jalan. Tetap pegang kendali.

    Dan ternyata… aku bisa.

    Sampai tujuan rasanya lega banget. Kayak beban yang setahun ini nempel pelan-pelan mulai lepas. Memang belum sepenuhnya santai, belum langsung jadi super pede. Tapi hari ini aku sudah membuktikan satu hal penting: aku nggak selemah yang kupikir.

    Hari ini bukan cuma soal naik motor. Ini soal berdamai sama rasa takut. Soal berhenti menyalahkan diri sendiri karena pernah trauma. Soal kasih kesempatan lagi buat diri sendiri buat coba.

    Pelan-pelan nggak apa-apa. Yang penting nggak berhenti.

    Dan hari ini, untuk langkah kecil tapi berarti ini, aku bangga banget sama diri sendiri.

  • Ketika Rasa Aman Itu Terasa Mahal: Suara Hati Seorang Perempuan

    https://www.istockphoto.com/id/ilustrasi/hijabi-woman

    Belakangan ini, setiap kali saya membaca berita tentang kekerasan terhadap perempuan, dada saya terasa sesak. Salah satunya adalah kasus pembacokan mahasiswi di kampus UIN Suska Riau yang diberitakan diberbagai media, yang seharusnya menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan mengejar mimpi, tiba-tiba berubah menjadi ruang yang menakutkan. Tempat yang mestinya aman justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

    Sebagai seorang perempuan, saya tidak bisa membaca berita seperti itu dengan perasaan datar. Ada rasa takut yang ikut tumbuh. Bukan hanya karena peristiwanya, tetapi karena kesadaran bahwa hal serupa bisa terjadi di mana saja—di kampus, di tempat kerja, di jalanan, bahkan di ruang yang kita anggap paling familiar sekalipun.

    Sejak kecil, perempuan sering diajarkan untuk berhati-hati. Jangan pulang terlalu malam. Jangan sendirian. Jangan terlalu ramah. Jangan terlalu tegas. Jangan menolak dengan cara yang membuat orang tersinggung. Tanpa sadar, kami tumbuh dengan daftar panjang kewaspadaan. Kami belajar membaca situasi, memperhatikan sekitar, menggenggam kunci di sela-sela jari saat berjalan sendirian, membagikan lokasi secara real-time kepada teman. Semua itu dilakukan bukan karena ingin hidup dalam ketakutan, tetapi karena ingin selamat.

    Namun saya mulai bertanya: sampai kapan kewaspadaan hanya dibebankan kepada perempuan?

    Mengapa sejak kecil yang lebih sering diingatkan adalah anak perempuan untuk menjaga diri, sementara anak laki-laki jarang sekali diberi edukasi tegas tentang menghargai batasan, mengelola emosi, dan menerima penolakan? Mengapa kita begitu fokus pada cara perempuan berpakaian, berjalan, atau bersikap, tetapi tidak sekeras itu mengajarkan laki-laki bahwa kekerasan bukanlah bentuk keberanian, dan penolakan bukanlah penghinaan?

    Kekerasan tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari pola pikir yang salah, dari budaya yang permisif, dari candaan yang merendahkan perempuan yang dianggap biasa, dari sikap posesif yang dianggap tanda cinta. Jika kita ingin perubahan nyata, maka edukasi harus dimulai sejak dini—bukan hanya tentang bagaimana perempuan melindungi diri, tetapi bagaimana laki-laki belajar menghormati.

    Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa:
    bahwa perempuan bukan objek,
    bahwa “tidak” berarti tidak,
    bahwa emosi marah tidak boleh dilampiaskan dengan kekerasan,
    bahwa harga diri tidak runtuh hanya karena ditolak,
    dan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti dominan, melainkan bertanggung jawab.

    Edukasi ini tidak cukup hanya diselipkan. Ia harus tegas, konsisten, dan menjadi bagian dari kurikulum keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Orang tua punya peran besar. Guru punya tanggung jawab moral. Institusi pendidikan harus berani bersikap. Kampus tidak hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga tempat membentuk karakter.

    Kekerasan bukan hanya soal luka fisik. Ada trauma yang membekas, rasa aman yang hilang, dan kepercayaan terhadap lingkungan yang runtuh. Seorang korban mungkin bisa sembuh secara fisik, tetapi untuk kembali merasa aman, itu perjalanan yang panjang. Dan sebagai perempuan lain yang membaca beritanya, saya pun ikut merasakan getaran cemas itu. Seolah ada pesan tak terlihat yang mengatakan: kamu juga bisa menjadi berikutnya.

    Saya menulis ini bukan untuk menyebarkan ketakutan, tetapi untuk mengingatkan bahwa solusi tidak bisa satu arah. Tidak adil jika perempuan terus dibebani kewaspadaan sementara akar persoalan tidak disentuh. Rasa aman tidak akan tercipta hanya dengan menyuruh perempuan lebih hati-hati. Rasa aman tercipta ketika laki-laki dididik untuk tidak menyakiti.

    Sebagai perempuan, saya tidak meminta perlakuan istimewa. Saya hanya ingin hak dasar untuk merasa aman tanpa harus hidup dalam kewaspadaan yang melelahkan. Saya ingin dunia di mana anak perempuan tidak tumbuh dengan daftar panjang larangan, dan anak laki-laki tumbuh dengan pemahaman kuat tentang empati dan tanggung jawab.

    Karena rasa aman bukanlah kemewahan. Itu hak setiap manusia. Dan perubahan hanya akan terjadi ketika kita berhenti menyalahkan korban dan mulai mendidik generasi dengan lebih adil.

  • Peraturan Rumah

    Tidak semua orang terbiasa meminta izin kepada orang tua saat hendak pergi. Ada yang merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan segalanya sendiri, ada yang menganggap izin hanyalah formalitas, bahkan ada yang merasa itu tidak lagi penting. Namun di rumahku, izin bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari nilai yang ditanamkan sejak kecil. Sebelum melangkah keluar dari pintu, sekecil apa pun urusannya, aku dan adikku harus memberi tahu ke mana kami pergi, dengan siapa, dan kira-kira pukul berapa akan pulang.

    Bagiku, itu bukan bentuk pengekangan. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk penghormatan dan penghargaan kepada orang tua. Dengan izin, bapak dan ibu mengetahui keberadaan kami. Mereka tidak perlu menebak-nebak saat hari mulai gelap atau ketika jam menunjukkan waktu yang semakin larut. Mereka tidak perlu membiarkan rasa khawatir tumbuh berlebihan di kepala. Karena pada akhirnya, kekhawatiran orang tua bukanlah sikap berlebihan, melainkan wujud cinta yang sering kali tidak banyak kata, tetapi terasa begitu dalam.

    Jika dibandingkan dengan keluarga lain—setidaknya dari apa yang terlihat dari luar—aturan di rumahku mungkin terasa cukup ketat. Adikku harus sudah berada di rumah sebelum pukul 11 malam, sedangkan aku sebelum pukul 10 malam. Kadang terlintas pertanyaan kecil di benakku, mengapa harus ada batas waktu seperti itu? Mengapa tidak sebebas yang lain? Namun ketika kupikirkan lebih jauh, semuanya menjadi masuk akal. Kami tinggal di Bekasi, kota yang ramai dan dinamis, tetapi juga tidak luput dari berbagai risiko. Banyak cerita tentang hal-hal yang tidak diinginkan, tentang oknum-oknum tak bertanggung jawab yang membuat siapa pun harus lebih waspada. Dalam kondisi seperti itu, batasan bukanlah penjara, melainkan perlindungan.

    Sebenarnya, bapak dan ibu tidak pernah benar-benar melarang kami untuk bermain atau bersosialisasi. Kami tetap diberi ruang untuk memiliki dunia sendiri, untuk berteman, dan untuk berkembang. Namun dari kebiasaan meminta izin itu tumbuh sesuatu dalam diri kami: rasa sadar diri. Karena sudah diberi kepercayaan, kami merasa tidak enak jika menyalahgunakannya. Karena sudah diizinkan, kami merasa perlu menjaga batas. Tanpa diminta pun, kami belajar untuk tidak terlalu sering keluar tanpa alasan jelas, tidak pulang melewati jam yang ditentukan, dan tidak membuat orang tua menunggu dengan hati gelisah. Itu seperti bentuk terima kasih kecil kami atas kepercayaan yang diberikan.

    Tanpa kusadari, kebiasaan izin mengajarkanku banyak hal. Ia melatihku untuk jujur, untuk bertanggung jawab atas setiap langkah, untuk memahami perasaan orang lain, dan untuk disiplin terhadap waktu. Hal yang tampak sederhana ternyata perlahan membentuk karakter. Mungkin inilah makna sebenarnya dari izin—bukan sekadar ucapan sebelum pergi, tetapi latihan menjadi pribadi yang menghargai dan menghormati.

    Kini aku mengerti, selama masih ada orang tua yang peduli dan menunggu kita pulang, jangan pernah menyepelekan izin. Karena di balik satu kalimat pamit yang sederhana, ada ketenangan yang kita berikan, ada rasa aman yang kita jaga, dan ada cinta yang kita rawat. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan untuk berpamitan, maka selagi bisa, lakukanlah dengan sepenuh hati.

  • Ketika Nasionalisme Tidak Hitam Putih

    Ketika aku membaca tulisan Pak Dahlan tentang fenomena WNI–WNI di Disway.id, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar cerita biasa. Pak Dahlan nulis dengan jujur, tanpa mau sok pintar, tapi justru ngasih kita ruang buat mikir lebih dalam soal cinta tanah air, kebanggaan keluarga, dan hubungan kita dengan Indonesia.

    Menurut Pak Dahlan, apa yang dilakukan Dwi Sasetyaningtyas — yang sempat bikin heboh karena sikapnya terhadap Indonesia — bisa dipahami lebih dari satu sisi. Dia bilang percaya bahwa Dwi tetap cinta Indonesia, bahkan mungkin sikapnya yang “seperti merendahkan Indonesia” itu justru lahir dari rasa cintanya yang dalam terhadap tanah kelahirannya. Kalimat ini membuat aku mikir: sering kali emosi kita terhadap negara itu muncul bukan karena benci, tapi justru karena kita terlalu berharap akan masa depan yang lebih baik.

    Pak Dahlan juga ngasih contoh ayah-ibu yang bangga setengah mati pada anak-anaknya. Contohnya menantu beliau yang naik sepeda 1.500 km demi sayang pada suami, atau cucu yang juara debat internasional di Amerika. Itu semua ngingetin kita bahwa sebagai orang tua, kita sering meletakkan harapan besar pada prestasi anak — dan itu manusiawi banget.

    Tapi kemudian, Pak Dahlan bawa kita ke satu dilema yang menurut aku penting banget: tentang WNI yang lahir di luar negeri dan punya pilihan kewarganegaraan. Ketika anak itu punya pilihan antara jadi WNI atau jadi warga negara Inggris, itu bukan sekadar pilihan administratif, tapi tentang masa depan yang bisa jadi sangat berbeda. Dia paham kenapa orang tua bisa bangga banget sampe ingin anaknya pilih negara maju. Itu bukan hal aneh — banyak orang tua yang berpikir seperti itu demi masa depan anaknya.

    Tapi inilah yang menurutku poin penting dari tulisan Pak Dahlan: jangan langsung menghakimi seseorang hanya karena pilihannya berbeda dari kita. Terkadang cara dia nunjukin kebanggaan atau rasa cintanya pada Indonesia itu memang kelihatan aneh atau bahkan menyakitkan buat orang lain. Tapi kita harus ingat, setiap orang punya cara sendiri-sendiri buat nunjukin cinta pada tanah air — dan itu nggak mesti selalu sama.

    Lalu yang paling menarik, Pak Dahlan nulis bahwa kita sebagai bangsa jangan sampai kehilangan rasa bangga terhadap anak bangsa yang berkiprah di luar negeri. Mereka yang tinggal di negara lain, yang jadi warga negara lain, bukan berarti mereka benci Indonesia. Justru bisa jadi mereka adalah jaringan Indonesia di luar negeri yang suatu hari bisa bantu negaranya dari tempat yang jauh. Ide ini sederhana tapi powerful: asset bangsa nggak cuma di dalam negeri, tapi juga di luar sana.

    Saat aku mikir soal tulisan ini, aku merasa bahwa sudut pandang Pak Dahlan ngajarin kita buat nggak cepat marah atau nge-judge orang lain berdasarkan satu tindakan atau ucapan saja. Kadang kita lupa bahwa setiap keputusan manusia punya alasan rumit di belakangnya. Dan dalam konteks kebangsaan, cinta kita pada negara itu bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda juga — dan itu nggak boleh membuat kita jadi gampang ngecap seseorang “tidak cinta tanah air”.

  • Merangkai Kreativitas & Kebersamaan dalam Satu Sore

    Sabtu, 21 Februari 2026, menjadi salah satu hari yang menyenangkan dan penuh warna untukku. Siang itu, pukul 13.00 WIB, aku mengikuti kegiatan Creating Handmade Straps Together: Beads & Charm yang diadakan di Yayasan Marhamah Robbani Bekasi bersama Komunitas Peduli Bekasi. Dari awal datang, suasananya sudah terasa hangat dan akrab. Kami berkumpul dengan semangat yang sama: belajar, berkarya, dan menikmati kebersamaan.

    Kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan dan ice breaking yang langsung mencairkan suasana. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan bermain berbagai macam game seru yang melatih kekompakan, komunikasi, dan kerja sama tim. Ada permainan yang menguji konsentrasi, ada juga yang mengundang tawa karena membutuhkan strategi cepat dan koordinasi yang baik. Suasana ruangan dipenuhi semangat, sorak sorai, dan gelak tawa. Dari permainan sederhana itu, aku merasakan bagaimana kebersamaan bisa terbangun dengan cepat ketika semua orang terlibat aktif.

    Setelah sesi games, kami masuk ke kegiatan utama: merangkai handmade straps dari beads dan charm. Di hadapan kami sudah tersedia berbagai macam manik-manik warna-warni, tali strap, serta charm dengan bentuk yang lucu dan estetik. Awalnya terlihat sederhana—hanya merangkai manik-manik menjadi sebuah strap. Namun ketika mulai menyusun satu per satu, aku menyadari bahwa memilih kombinasi warna yang serasi, menentukan posisi charm agar terlihat menarik, serta memastikan ikatan cukup kuat ternyata membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setiap detail kecil benar-benar berpengaruh pada hasil akhirnya.

    Selama proses meronce, kami tetap berinteraksi satu sama lain, saling berbagi beads, bertukar ide desain, bahkan tertawa ketika ada yang harus mengulang karena susunannya kurang pas. Kebersamaan yang sudah terbangun saat games terasa semakin erat ketika kami duduk berdampingan dan fokus menyelesaikan karya masing-masing.

    Tak terasa dua jam berlalu begitu cepat. Dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, aku benar-benar menikmati waktu yang berbeda dari rutinitas harian. Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat strap yang cantik, tetapi juga tentang membangun kekompakan, melatih kreativitas, serta menciptakan momen kebahagiaan bersama.

    Aku pulang dengan hati yang lebih ringan dan semangat yang terisi kembali. Dari manik-manik kecil dan permainan sederhana, aku belajar bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari proses, kebersamaan, dan keberanian untuk terlibat sepenuh hati. Semoga akan ada lebih banyak kegiatan positif seperti ini ke depannya.

  • Semangat Sahur

    Hari ini adalah hari kelima puasa Ramadhan 1447H. Rasanya waktu berjalan cepat sekali, dan setiap hari selalu ada cerita kecil yang membuat Ramadhan terasa lebih hidup. Semalam aku justru mengalami hal yang cukup aneh—aku kesulitan tidur. Entah kenapa mata ini sama sekali tidak mau mengumpulkan rasa kantuk. Bukannya terasa berat, justru segar dan bersih seperti siap untuk bekerja di tengah malam. Padahal tubuh sudah berbaring, lampu sudah dipadamkan, tapi pikiran dan mata seperti belum ingin beristirahat.

    Akhirnya aku mencoba mendengarkan murotal dengan harapan hati menjadi lebih tenang. Perlahan, sekitar pukul 1 dini hari, aku berhasil tertidur. Rasanya baru saja terlelap, tiba-tiba alarm yang kusetel pukul 3 a.m. menjerit nyaring. Aku sangat kaget sampai langsung tersentak bangun. Tidak ada jeda untuk menguap atau duduk sebentar mengumpulkan kesadaran. Aku langsung menuju dapur dan memanaskan lauk tongkol balado dari kulkas. Nasi segera kuambil dan kutaruh di piring. Gerakanku cepat sekali, seolah waktu hampir habis.

    Setelah semuanya siap, aku membangunkan keluargaku dengan penuh keyakinan dan berkata bahwa 15 menit lagi imsak. Dalam pikiranku, aku sudah merasa paling sigap dan paling siap menyiapkan sahur pagi itu. Namun beberapa detik kemudian, adekku meledek sambil berkata bahwa sekarang masih jam 3.15, bukan 4.15. Aku terdiam. Ternyata aku terlalu tergesa-gesa satu jam lebih awal. Rasa malu langsung menyergap. Yang tadinya tergugu-gugu dan merasa paling cepat, tiba-tiba berubah menjadi diam sambil mengunyah sahur dengan pelan, menahan malu sekaligus menertawakan diri sendiri.

    Hari kelima Ramadhan ini dimulai dengan kurang tidur, kaget karena alarm, dan momen memalukan yang justru terasa hangat karena ada tawa keluarga. Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menikmati cerita-cerita kecil yang akan selalu lucu untuk dikenang.