Pagi yang Berantakan, Tapi Tetap Sampai Tepat Waktu

Di kantorku, ada satu kebiasaan kecil yang sebenarnya sederhana, tapi hangat: makan real food hasil kukusan. Jagung, ubi, kacang, pisang—semuanya dikukus tanpa tambahan apa pun. Yang membawanya bergiliran, tidak terjadwal secara kaku, tapi semua saling mengingat. Bahan mentahnya disediakan oleh kantor, lalu dibawa pulang oleh yang kebagian giliran.

Saat giliranku tiba, biasanya aku membawa bahan mentah itu pulang. Sesampainya di rumah, langsung aku cuci dan potong menjadi beberapa bagian. Tujuannya sederhana: supaya pagi harinya aku bisa sedikit lebih santai. Tinggal mengukus, tanpa terburu-buru. Pola ini biasanya berjalan lancar, begitu juga hari-hari sebelumnya.

Namun pagi ini berbeda.

Aku terlambat bangun. Penyebabnya sepele tapi fatal: semalam lupa mengatur ulang alarm agar berbunyi lebih pagi dari biasanya. Begitu sadar, aku langsung ke dapur dengan setengah mengigau, menumpangkan panci kukus besar ke atas kompor. Di titik ini, masalah pertama sudah terjadi—kesiangan.

Belum selesai sampai di situ. Di tengah proses mengukus, muncul masalah kedua: gas habis. Untungnya, penjual gas ada tepat di samping rumah. Aku langsung membeli gas dengan tergopoh-gopoh, sambil berharap waktu masih bisa dikejar.

Setelah semua urusan dapur selesai, aku berangkat kerja. Jam menunjukkan pukul 07.05—terlambat tiga menit dari waktu berangkat biasanya. Di perjalanan, awalnya semua terasa lancar, sampai muncul masalah ketiga yang tidak direncanakan: ojek online yang kutumpangi kebingungan arah.

Driver berulang kali mengitari area mal tempat aku menunggu. Mungkin karena faktor usia, atau memang jalanan Bekasi yang penuh putar balik dan lampu merah sering kali membingungkan. Aku hanya bisa menarik napas, mencoba tetap tenang, dan berharap waktu berpihak.

Dengan tiga hal di luar rencana—kesiangan, gas habis, dan driver tersesat—aku akhirnya sampai di kantor pukul 07.50. Tinggal sepuluh menit lagi menuju batas keterlambatan.

Pagi itu memang tidak sempurna. Namun, dari semua kekacauan kecil yang terjadi, aku belajar satu hal: tidak semua pagi harus rapi untuk bisa berakhir baik. Kadang, cukup dengan bertahan, bergerak, dan tidak menyerah pada kepanikan, kita tetap bisa sampai di tujuan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *