Awalnya Cuma Baca, Tiba-Tiba Kepikiran Biaya Hidup

Sumber: ProKalteng.co

Setiap hari, aku sebagai karyawan PT Excellent memiliki budaya literasi dengan membaca artikel catatan harian Pak Dahlan Iskan di Disway. Tulisan beliau selalu punya cara tersendiri untuk membuatku berhenti sejenak dari rutinitas, lalu berpikir lebih dalam tentang hal-hal sederhana yang sering terlewat. Setelah selesai membaca tulisan Pak Dahlan, seperti biasa aku melanjutkan dengan scrolling, sekadar ingin tahu berita lain yang sedang ramai dibicarakan.

Sampai akhirnya, satu judul berita membuatku berhenti. Tentang kabar naiknya harga BBM per 1 April 2026โ€”yang berarti besok. Angka yang disebutkan pun tidak main-main. Dexlite disebut-sebut bisa menembus Rp23.650 per liter. Seketika itu juga, pikiranku langsung penuh dengan berbagai kemungkinan.

Jujur, ada rasa kaget. Bukan hanya karena angkanya yang cukup tinggi, tapi juga karena dampaknya yang pasti akan terasa luas. BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, tapi juga โ€œurat nadiโ€ banyak aktivitas. Kalau benar naik, hampir semua lini kehidupan akan ikut terdorong. Ongkos transportasi bisa meningkat, harga bahan pokok berpotensi naik, dan biaya hidup perlahan ikut terkerek. Hal-hal seperti ini selalu terasa dekat, apalagi sebagai pekerja yang setiap hari bergantung pada mobilitas.

Tapi di tengah rasa khawatir itu, aku mencoba menahan diri untuk tidak langsung percaya sepenuhnya. Dari yang kubaca, informasi tersebut masih berupa kabar yang beredar dan belum tentu menjadi keputusan resmi. Ada kemungkinan itu hanya simulasi atau prediksi yang belum final. Di titik ini, aku merasa diingatkan lagi bahwa tidak semua yang cepat tersebar itu langsung bisa dijadikan pegangan. Kadang kita memang perlu jedaโ€”untuk memastikan, untuk memahami, dan untuk tidak ikut terbawa arus kepanikan.

Kalau dipikir lebih jauh, isu kenaikan BBM memang tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada cerita besar di belakangnya. Harga minyak dunia yang fluktuatif, nilai tukar yang berubah, hingga kondisi geopolitik globalโ€”semuanya saling terhubung. Hal-hal yang mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, ternyata punya dampak langsung pada hal sesederhana harga di SPBU.

Di situ aku mulai merenung. Kalau pun benar harga BBM akan naik, sebenarnya yang paling penting bukan hanya soal โ€œnaiknya berapaโ€, tapi โ€œseberapa siap kita menghadapinyaโ€. Karena pada akhirnya, kita tidak punya kendali atas keputusan besar seperti itu. Yang bisa kita kendalikan adalah cara kita merespons.

Mungkin ini jadi pengingat untuk mulai lebih bijak dalam banyak hal. Mengatur ulang pengeluaran, mempertimbangkan kembali penggunaan kendaraan, atau sekadar lebih sadar bahwa kondisi bisa berubah kapan saja. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, bisa jadi perlu dipikirkan ulang.

Lucunya, semua refleksi ini berawal dari rutinitas sederhana: membaca. Dari satu tulisan ke tulisan lain, sampai akhirnya menemukan sesuatu yang memicu kekhawatiran sekaligus kesadaran. Aku jadi merasa bahwa literasi bukan hanya soal menambah informasi, tapi juga soal membentuk cara berpikirโ€”bagaimana kita menyikapi kabar, memilah mana yang perlu dipercaya, dan tetap tenang di tengah ketidakpastian.

Besok mungkin harga BBM benar-benar naik, atau mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang pasti, hidup akan selalu menghadirkan kejutan seperti ini. Dan mungkin, yang paling penting bukanlah kepastian dari kabar tersebut, melainkan bagaimana kita tetap bisa bersikap tenang dan rasional saat menghadapinya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *