Dua Arah Pulang, Satu Tradisi yang Selalu Sama

Setiap tahun, aku selalu punya dua tujuan pulang kampung. Bukan hanya satu, tapi dua tempat yang sama pentingnya—Klaten untuk ibu, dan Kebumen untuk bapak. Perjalanan ini sudah seperti agenda tetap yang tidak pernah terlewatkan, seolah ada panggilan yang selalu mengingatkan untuk kembali. Hanya satu waktu yang sempat menghentikan rutinitas ini, yaitu saat pandemi Covid, ketika semua orang harus menahan rindu dari jarak jauh.

Di luar itu, perjalanan pulang kampung selalu menjadi momen yang dinanti. Ada rasa tenang yang berbeda ketika sampai di dua tempat tersebut. Bukan hanya karena suasananya, tapi karena ada bagian dari diri yang seperti “pulang” ke asalnya.

Setelah semua rangkaian pulang kampung selesai, ada satu hal yang selalu ikut kembali ke Bekasi: oleh-oleh. Terutama saat perjalanan dari Gombong, Kebumen, bagasi mobil hampir selalu penuh. Plastik-plastik besar berisi berbagai jajanan khas tersusun rapat, memenuhi ruang yang ada. Lanting dengan rasa gurihnya, sale pisang yang manis, dan aneka camilan lainnya seolah sudah menjadi “wajib” untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, biasanya aku mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Melepas lelah dari perjalanan panjang, menikmati suasana rumah yang kembali ditempati. Tapi tidak lama setelah itu, ada satu kegiatan yang hampir selalu dilakukan.

Aku mulai membuka satu per satu plastik besar tersebut, lalu memindahkan isinya ke plastik-plastik yang lebih kecil. Tanganku bergerak membagi, menyusun, dan merapikan. Proses ini mungkin terlihat sederhana, bahkan bisa dibilang sepele, tapi selalu terasa berbeda setiap kali dilakukan. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Kebiasaan ini bukan muncul begitu saja. Sejak dulu, ibu yang mengajarkan. Memberi arahan bahwa oleh-oleh tidak hanya untuk dinikmati sendiri di rumah, tapi juga untuk dibagikan. Dari situlah kebiasaan ini terbentuk, dan tanpa sadar terus terbawa sampai sekarang.

Setiap paket kecil yang sudah siap kemudian dibagikan ke tetangga sekitar rumah. Momen sederhana, hanya memberi sedikit camilan dari kampung halaman, tapi selalu disambut dengan senyum dan sapaan hangat. Dari situ terasa bahwa hal kecil seperti ini bisa menjaga hubungan tetap dekat, meskipun hidup di tengah kesibukan kota.

Berbagi oleh-oleh menjadi cara sederhana untuk membawa sedikit suasana kampung ke lingkungan tempat tinggal. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh, perhatian yang tersampaikan tanpa harus banyak kata, dan kehangatan yang tercipta dari hal-hal kecil yang dilakukan secara tulus.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *