Menjelang jam pulang kerja, suasana di luar kantor tiba-tiba berubah. Langit yang tadinya hanya mendung kini benar-benar menurunkan hujan deras, lengkap dengan angin dan petir yang sesekali menyambar. Dari balik jendela, suara hujan terdengar begitu jelas, seperti mengingatkan bahwa perjalanan pulang hari ini mungkin tidak akan semudah biasanya.
Aku sempat berdiri beberapa menit memperhatikan keadaan di luar. Yang membuat bingung, hujannya tidak benar-benar stabil. Kadang deras sekali, lalu tiba-tiba reda, kemudian turun lagi. Seolah-olah langit sendiri sedang ragu, ingin berhenti tapi belum benar-benar selesai. Hujan yang labil seperti ini justru membuat keputusan terasa lebih sulit.
Di satu sisi, rasanya malas sekali jika harus langsung memakai jas hujan. Bayangan memakai jas hujan yang gerah, ribet, dan harus berhenti dulu untuk memakainya membuat langkah terasa berat. Tapi di sisi lain, kalau nekat berangkat tanpa jas hujan dan tiba-tiba di tengah jalan hujan turun deras, pasti akan lebih repot lagi. Harus mencari tempat berteduh, berhenti di pinggir jalan, menunggu hujan reda sambil melihat jam yang terus berjalan.
Kadang hal kecil seperti ini terasa seperti gambaran dari banyak keputusan dalam hidup. Ada saat di mana kita berada di tengah situasi yang tidak pasti—maju terasa malas, menunggu pun belum tentu membawa hasil yang jelas. Hujan sore itu seakan mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa diprediksi dengan sempurna.
Akhirnya aku sadar, mungkin bukan soal hujannya akan berhenti atau tidak. Tapi soal kesiapan diri menghadapi kemungkinan yang ada. Lebih baik sedikit repot di awal dengan memakai jas hujan, daripada harus kebingungan di tengah jalan nanti.
Sore itu, di balik suara hujan yang kadang deras kadang reda, ada satu pelajaran kecil yang terasa sederhana: kadang kita hanya perlu memilih untuk siap, meskipun keadaan belum benar-benar jelas.
Leave a Reply